coretan kebun belakang

tentang kawan, buku, perjalanan


Pak Adil dan Segala Keribetan Kami*

Wajahnya sekilas mengingatkan saya pada Mang Udel, pemilik losmen di sinetron Losmen yang terkenal pada era 80-an, yang sangat piawai memainkan ukulele. Kali ini bukan ukulele yang jadi pegangannya setiap hari, tapi setir mobil. Namanya Pak Adil, yang sudah belasan tahun menjadi sopir di sebuah rental mobil. Usianya memang sudah lewat setengah abad, tetapi jangan tanya soal gaya menyetirnya: cekatan dan berani ambil risiko. “Kalau butuh apa-apa dan pingin membeli sesuatu, bilang saja ya, nanti saya akan berhenti,” kata Pak Adil  sambil meletakkan botol minuman mineral ke ceruk tempat air di depan rem tangan dan kotak snack di atas dashboard .  “Nanti kalau ketemu apotik berhenti ya, Pak” Rizka langsung menyambut tawaran Pak Adil.

 Pagi tanggal 3 Desember itu Pak Adil  yang akan mengantarkan kami, para peserta pelatihan menulis yang diadakan Eka Tjipta Foundation, ke pusat pelatihan di kebun teh Nirmala, dekat Taman Nasional Gunung Halimun. Ada empat mobil yang dipakai untuk mengantar peserta, saya berada di mobil satu bersama lima teman lainnya. Mobil APV warna hitam terisi penuh, dengan Rizka duduk di depan, di samping Pak Adil; Puri dan Husni di belakang; sedang saya, Maliya dan Denok di tengah. Sebelum Rizka mengusulkan pindah tempat duduk, saya juga sudah merasa aneh dengan duduk diapit perempuan, sehingga ketika Rizka menawarkan ganti tempat, saya langsung setuju. Demikianlah, akhirnya saya duduk di depan di samping Pak Adil.

More

Jalanan masih basah ketika kami meluncur meninggalkan BII Tower di jalan MH. Thamrin, Jakarta Pusat menuju Bogor. Lagu-lagu yang keluar dari radio-tape merk JVC terdengar stabil mengiringi kami, walaupun kebanyakan tidak pernah saya tahu siapa yang menyanyikannya. Ketika perjalanan memasuki jalan tol dekat Sentul, suara dari radio-tape menjadi tidak jelas, timbul-tenggelam dan suara gemerisik lebih dominan daripada nyanyian.

Denok mulai bereaksi, “Mas, mbok dibenerin radionya, cari lagu yang bagus”. Saya mulai memencet-mencet tombol radio dan perpindahan frekuensi yang telah disetel secara otomatis. Tetap tidak ada radio yang jelas .

“Memang kalau sudah sampai sini tidak ada radio yang bagus suaranya. Ganti tape saja ya,” Pak Adil ikut nimbrung.

“Iya, Pak”.

Hanya dua kata itu yang keluar dari mulut saya karena memang tidak punya ide lain untuk mengatasi masalah radio itu.

Ternyata yang ada hanya kaset dangdut lama, saya juga tidak  tahu siapa yang menyanyikannya. Suara yang keluar nampak berat sehingga Pak Adil perlu memutar volume ke level 15, dari level 10. Maliya yang duduk di sebelah Denok tidak peduli dengan kesibukan kami, dia telah damai dengan perangkat MP3 dan earphone warna biru langit miliknya. Ternyata dia sudah asyik menikmati musik dari tadi, sendiri tentu saja.

Pak Adil membelokkan mobil ke pom bensin dan mempersilakan kami untuk buang air atau membeli sesuatu. Rizka, Malia, Denok, dan Husni turun, sedangkan saya dan Puri tetap di mobil. Tak berapa lama teman-teman sudah balik ke mobil lagi. Denok dengan heboh menceritakan tulisan di dinding toilet yang menurutnya lucu. “Masak ada tulisan ‘yang coret-coret di sini tidak berpendidikan’, terus di bawahnya ada tulisan lagi ’berarti kamu tidak berpendidikan’, lantas di bawahnya ada lagi tulisan ‘sesama tidak berpendidikan dilarang ribut’…hahaha” cerita Denok. Rizka ikutan tertawa, tapi Maliya tidak, karena sibuk dengan perangkat MP3-nya.

Setelah beberapa saat melanjutkan perjalanan, kami tiba di Saung Kuring, tempat yang disepakati untuk makan siang. Belum sampai jam sebelas siang, dan saya merasa belum terlalu lapar benar. Tetapi ternyata menunggu makanan siap juga tidak sebentar, sehingga jam dua belas kami baru makan. Sekitar dua jam kami di Saung Kuring, kemudian berangkat lagi tanpa Puri karena dia pindah ke mobil Dua. Sebelumnya Mas Andreas menawarkan kalau ada yang mau pindah mobil agar mobil kami tidak terlalu penuh. Dan Puri menyambutnya. Kemudian Denok pindah ke kursi belakang, menemani Husni. Karena sudah siang, udara juga semakin gerah, sehingga Rizka dan Husni meminta AC ditambah levelnya agar lebih dingin. Sebenarnya bukan karena levelnya yang rendah, tetapi karena saluran pendingin hanya ada di depan sehingga udara dingin tidak sampai ke teman-teman yang duduk di tengah dan di belakang. Ini yang bikin repot. Yang tengah dan belakang kegerahan sedangkan kami yang di depan kedinginan. Pada akhirnya Pak Adil memakai jaket.

Selama perjalanan, terhitung tidak hanya satu atau dua kali kami berhenti untuk buang air atau membeli obat, baterai dan segala kebutuhan kami. Kami berhenti empat kali! Ini salah satu sebab mengapa kami tertinggal dari rombongan peserta lainnya. Pak Adil sudah banyak diamnya, dibanding waktu awal berangkat. Saya berharap Pak Adil tidak menyesal ketika sebelumnya mengatakan, “Kalau butuh apa-apa dan pingin membeli sesuatu, bilang saja ya, nanti saya akan berhenti”.

 

*tulisan ini merupakan hasil tugas menulis deskripsi, pelatihan narasi ETF di villa Nirmala, 3-8 Desember 2010

 



2 tanggapan untuk “Pak Adil dan Segala Keribetan Kami*”

  1. terus telat dong…… pak adil ngomel ndak?

    1. iya, tapi ditunggu teman-teman lain. Pak Adil diam aja, mrengut…hehe

Tinggalkan Balasan ke tantiemaharoemt Batalkan balasan