Setelah menyatakan bersedia untuk pergi ke Kathmandu, justru kemudian saya diliputi keraguan. Awalnya Mbak Lita dan Mbak Damai yang menawarkan dan meminta saya pergi ke Kathmandu untuk hadir dalam Asian Conference on Finance ke-2 yang diadakan oleh Asian People’s Movement on Debt and Development (APMDD). “Untuk merawat jaringan, sayang kalau dari JALA tidak ada yang ikut,” kata mbak Damai.
Konferensi akan dilakukan dari tanggal 15 sampai 20 Mei 2025, dan saya baru melakukan registrasi tanggal 2 Mei. Selain mengisi registrasi online, saya juga mengirim email dan pesan WA ke panitia, setelah mendapat nomor kontaknya dari mbak Damai. Nama kontak personnya Malou Tabios, dari Philipina.
Setelah melakukan registrasi saya menjadi ragu untuk ikut, walaupun belum tentu registrasi saya diterima. Hal ini terkait dengan mulai diproses kembali RUU PPRT di Badan Legislasi DPR. Beberapa RDPU/RDP akan digelar di bulan Mei 2025. Pertama di tanggal 5 Mei, dan JALA PRT menjadi pihak pertama yang diundang untuk menyampaikan usulannya di RDPU. Karena perkembangan ini lantas saya mengirim pesan WA ke Malou, bahwa saya membatalkan ikut ke Kathmandu. Namun Malou menjawab bahwa tiket sudah dibeli, bagaimana ini? Ah, akhirnya setelah saya pikir daripada mengganti biaya tiket, saya putuskan untuk pergi.
Beberapa hari setelahnya tiket dikirim lewat email oleh Gladys, salah satu panitia yang super sibuk. Di tiket tertera saya akan berangkat bersama 3 kawan lain dengan Batik Air Malaysia. Kawan-kawan itu yakni Yuyun, Sawung, dan Timotius, namun ketika berangkat ada satu kawan berbarengan lagi, Wicak namanya. Saya baru mengenal dan berkenalan dengan mereka ketika sudah di dalam pesawat, tepatnya ketika pesawat mendarat di Kuala Lumpur untuk transit.
Pesawat berangkat dari Terminal 2F Bandara Soekarno-Hatta jam 12.30, menuju Kuala Lumpur. Untuk berjaga-jaga kalau tidak diberi makan siang di dalam pesawat, saya membeli dulu roti untuk bekal di pesawat. Memang benar selama di pesawat tidak ada makan gratis, penumpang harus beli makan atau snack yang diedarkan oleh awak pesawat.
Ketika pesawat landing untuk transit di Kuala Lumpur, saya mulai menyapa seseorang yang sepertinya Sawung dari Walhi, yang sebelum berangkat pernah kuhubungi lewat WA. Walaupun belum pernah ketemu, tapi aku pernah googling namanya sehingga muncul foto-fotonya. Berangkat dari ingatan foto itulah saya sapa seseorang yang tempat duduknya tidak jauh dari saya. Ya dia Sawung, kemudian dia memperkenalkan kawan lainnya, Wicak dan Timo.
Kami kemudian jalan bareng selama di Bandara KL, mencari makan siang. Kawan-kawan pada pesen nasi lemak, sedangkan saya karena sudah makan di pesawat, hanya memesan teh hijau panas saja.
Sekira 3 jam di bandara KL, kami kemudian menuju gate H8. Sudah banyak orang-orang berdiri antri di sekitar pintu masuk gate, kebanyakan laki-laki dengan dengan wajah Asia Selatan. Semua lancar-lancar saja perjalanan menuju Kathmandu, namun sekitar 5 jam di dalam pesawat terasa begitu lama.
Bandara Internasional Tribhuvan, Kathmandu nampak kurang terang, atau bisa dikatakan gelap jika dibandingkan dengan bandara-bandara kota besar di Indonesia. Mungkin karena dindingnya dominan dipenuhi bata-bata warna coklat. Kami mengurus Visa on Arrival dulu secara online, setelah selesai kami kemudian membeli SIM card di sebuah kios tidak jauh dari lokasi pengajuan visa. Setelah itu kami melenggang keluar.
Ada jemputan dari hotel yang menunggu kami di pintu keluar bandara. Kami diantar ke Radisson Hotel, di daerah Lazimpat, Kathmandu. Ada dua bangunan hotel yang terpisah yang berhadap-hadapan. Peserta Konferensi juga dibagi di dua gedung tersebut, termasuk rombongan dari Indonesia. Saya satu kamar dengan Mas Yuyun dari Tren Asia, alumnus Fakultas Kehutanan UGM. Tak terlalu lama setelah masuk kamar, karena sudah malam, kami beristirahat dan kemudian hari-hari selanjutnya dipenuhi dengan agenda-agenda konferensi.

Konferensi APMDD ini merupakan konferensi Asia ke-2 tentang pembiayaan, sebagai kelanjutan dari konferensi yang pertama yang dilakukan di Manila pada Mei 2023. Kali ini konferensi mengambil tema: Finance For Reparations, Justice, Equity and System Change. Lokasi konferensi di sebuah ballroom yang luas di hotel Radisson, yang dinding-dindingnya sudah dipenuhi dengan spanduk dan banner yang bertuliskan slogan-slogan menentang ketidakadilan pajak, dan lain sebagainya. Pokoknya terkait isu-isu neoliberalisme.

Di hari pertama, Arjun Karki sebagai pemimpin APMDD membuka konferensi dengan memaparkan fokus konferensi dan tantangan global tentang ketidakadilan di pelbagai hal di alam neoliberalisme. Sedangkan Lidy Nacpil sebagai koordinator APMDD menekankan krisis multidimensi yang dihadapi dunia ini sehingga membutuhkan perubahan sistem, khususnya pembiayaan.

Setelah itu ada diskusi dengan tiga narasumber, yakni Dereje Alemayehu dari Global Alliance for Tax Justice, Tasneem Essop dari Climate Action Network, dan Stefano Prato dari Society for Internasional Development. Mereka mempresentasikan tentang keadilan pajak, aksi iklim, dan transisi yang adil. Kemudian dilanjutkan dengan diskusi tanya jawab atau tanggapan dari peserta konferensi.
Setelah istirahat makan siang sampai sore, ada acara Majelis Rakyat Sagarmatha (Sagarmatha Peoples’ Assembly) yang mempertemukan 100 peserta dari pelbagai gerakan dan masyarakat sipil di Nepal dengan tamu-tamu internasional dan peserta konferensi.
Majelis Rakyat ini merupakan acara paralel/kontra dari Sagarmatha Sambaad, sebuah acara yang diselenggarakan oleh pemerintah Nepal untuk membahas iklim, pegunungan, dan kemanusiaan. Tujuan Majelis Rakyat ini adalah untuk memperkuat suara-suara dari negara-negara berkembang dan memastikan keterlibatan mereka dalam wacana iklim yang lebih luas.

Selain ada acara Majelis Rakyat, hari pertama konferensi ditutup dengan acara kultural yang menampilkan kelompok musik tradisional Nepal. Ada tiga instrumen yang digunakan, pertama Madal, sebuah alat musik yang mirip dengan kendang. Kemudian Sarangi, sebuah alat musik gesek yang menyerupai siter, dan alat tiup yang bernama Bansuri, yang seperti seruling. Musik yang mengalun kadang lembut menimbulkan kedamaian namun bisa juga enerjik yang menimbulkan orang-orang ingin bergerak.
Dari hari pertama konferensi sudah terbayang betapa akan capeknya hari-hari selanjutnya. Mendengarkan narasumber bicara kemudian ditanggapi oleh peserta, selama 5 hari! Tapi biarlah, ikut saja bagaimana nanti…


Tinggalkan komentar