coretan kebun belakang

tentang kawan, buku, perjalanan


Seorang Romo dari “Sicilia”

 

Dia selalu mengidentifikasikan diri sebagai orang cerdas dan penuh muslihat. Setelah berhasil mengelabui teman-temannya, dengan bangga dan jumawa mengatakan, “ Lha agen  Mossad kok diremehkan.” Kalau tidak agen Mossad, ya sebagai mafia Sicilia atau IRA dia menyebut dirinya berasal.

Saya percaya teman saya ini penuh muslihat tapi, kalau soal cerdas,nanti dulu.

*

Saya mengenalnya ketika kami satu kelas di kelas dua SMP, tahun 1986. Dia salah satu dari berjibunnya murid tunggakan di kelas kami. Saya tidak tahu, dan sebagian besar murid juga , kenapa banyak sekali anak tunggakan di kelas kami. Terhitung ada lima orang!  Di kelas sebelah juga ada murid tunggakan, tetapi paling banyak dua orang. Apakah guru-guru tidak berhitung terhadap dampaknya terhadap murid-murid yang lain? Ternyata, dampak itu memang menimpa saya. Mulai di kelas dua ini, tentu saja atas ajakan beberapa murid tunggakan, saya mulai membolos sekolah. Tidak jelas sebenarnya yang kami lakukan waktu membolos itu. Kadang cuma tidur di kos saya, atau di kos teman yang lain. Si agen Mossad termasuk salah satu murid yang gemar membolos. Maka tak heran jika salah satu guru kami menyebutnya “Sang Juara Lompat Tinggi.”  Sebagai olok-olokan saja, karena kebiasaan teman saya ini yang membolos dengan melompat tembok  sekolah kami.  Kebiasaan ini juga yang menjadi salah satu sebab dia tidak naik kelas.

 Ternyata kebiasaan membolos itu masih berlanjut sampai SMA, walaupun kami berbeda sekolah.  Suatu ketika si “agen Mossad” ini mengajak bolos sekolah “hanya” untuk mengirimkan (tepatnya menaruh) kartu ucapan hari Valentine ke tiga orang teman perempuan dalam sehari. Ini jelas maksudnya apa.  Orang di kampung saya biasa menyebut tindakan ini seperti orang mbranjang manuk, atau menjala burung. Memasang jala di tempat biasa burung mencari makan atau minum, seperti pinggiran sungai. Dengan memasang jala ini diharapkan setidaknya ada satu atau dua burung yang nyangkut. Dan ternyata, tindakan mbranjang tersebut berhasil. Tapi si agen Mossad tidak menindaklanjutinya, dengan alasan yang tidak jelas.

Bagaimanapun, saya patut berterima kasih terhadap teman saya satu ini. Dia salah satu teman yang memperkenalkan saya terhadap dunia. Pemahaman tentang budaya dan praktik berteman, bertambah karena dia. Soal musik misalnya. Awalnya saya tidak paham coretan-coretan pilox yang ada di dinding luar rumahnya. Ada tulisan “ Pink Floyd” dan “The Wall” dengan pilox warna hitam dan putih. Juga beberapa koleksi album Pink Floyd di dalam kamarnya. Saya tidak pernah tertarik menyetelnya. Saya dan juga teman lain lebih sering menyetel First Love-nya Nikka Costa atau Can’t Fight This Feelling milik Reo Speedwagon, kalau main ke rumahnya. Tapi saya penasaran juga akhirnya, karena setiap masuk ke kamarnya, kok yang paling sering dia putar musik Pink Floyd. Saya mulai mencoba ikutan mendengarkan, tapi masih terasa aneh kala itu. Kira-kira sepuluh tahun kemudian, saya baru bisa menikmati musik Pink Floyd itu dan tidak bisa lepas sampai sekarang.

Saya bukan musikolog, juga tidak bisa memainkan satu pun alat musik. Selama ini saya hanya sebagai penikmat, walaupun tetap punya pilihan musik mana yang layak dinikmati. Kesukaan saya pada musik Pink Floyd juga karena itu, nikmat di kuping. Setelah bisa menikmati musiknya, kemudian mulai mengumpulkan album-albumnya dengan memburu di loakan-loakan kaset, khususnya di Jatinegara dan pasar Johar. Ini yang menjadikan hari Sabtu atau Minggu saya dulu menjadi lumayan indah. Dari semua album Pink Floyd, hanya tiga yang sering kuputar : The Wall, Wish You were Here dan The Dark Side of The Moon. Sayangnya, tidak seperti kaset pita, rekaman konser entah dalam CD atau DVD susah ditemukan.

Setahu saya, Mas Budiarto Shambazy, wartawan senior Kompas, juga menyukai Pink Floyd. Ini terlihat dari beberapa kali dia menulis esai atau liputan tentang Pink Floyd. Yang masih saya ingat adalah tulisannya pada 16 Agustus 2003 yang berjudul “ Kala Separuh Bulan Tiba-tiba Menjadi Gelap….” Di situ disebutkan bahwa pada tahun 1990 di Australia, pendengar radio melalui jajak pendapat memilih The Dark Side of The Moon sebagai album terbaik untuk didengar sambil bercinta.  Mas Budiarto tidak menyatakan pendapat apakah dia sepakat dengan jajak pendapat itu dalam tulisannya. Saya pun tidak punya pendapat, karena belum mencobanya.  Saya yakin teman saya yang satu ini juga tidak bisa memberikan pendapatnya, walaupun dia penggemar tulen Pink Floyd. Bukan karena dia telah direkrut oleh Mossad atau mafia Sicilia, tetapi karena dia kini telah menjadi “agen” Serikat Jesus, yang salah satu syaratnya adalah komitmen terhadap  kaul kesucian. Bukankah begitu, Romo?

 



4 tanggapan untuk “Seorang Romo dari “Sicilia””

  1. Agak mengagumkan juga bahwa usaha mbranjang manuk tersebut bisa berhasil. Mungkin pas mbaranjang, doi menyamar sebagai mafia sisilia yg keren seperti alpacino. Kikiki… pissss mo

    Btw, aku juga ingat dulu pernah pinjem salah pink floyd-nya. Album “a momentary lapse of reason” kalau ga salah.

    1. sebenarnya aku malu juga nganterin orang yang nggak jelas ini,Nggul..hehe

  2. hahahahaha… sehari 3 kartu… mbranjang manuk-nya kena gak? :))

    1. katanya kena, Lus. Tapi aku gak percaya, lha gak ada bukti..hehe

Tinggalkan Balasan ke ken arok Batalkan balasan