coretan kebun belakang

tentang kawan, buku, perjalanan


Kerupuk Gendar dan Kualitas Hidup di Jakarta

Hari Senin 25 Oktober 2010 lalu saya menjadi bagian dari ratusan ribu, mungkin jutaan, manusia yang tersiksa karena kemacetan dan banjir yang menimpa Jakarta. Tak terbayang sebelumnya bahwa hari itu menjadi bagian dari sederet daftar hari terburuk selama tinggal di Jakarta dan sekitarnya. Senin itu saya sengaja keluar kantor lebih pagi untuk mengambil barang titipan orang tua dari Purwodadi yang dikirim bersamaan dengan meubel pesanan Om saya, di Bekasi. Kalau dilihat dari harganya mungkin tidak seberapa dan mungkin bisa didapatkan dengan mudah pula di Jakarta ini. Tetapi karena barang tersebut dari kampung, apalagi merupakan jerih payah orang tua, maka titipan itu musti saya ambil. Hanya satu dus mangga Gadung dan lima bungkus kerupuk Gendar mentah sebenarnya. Sekali lagi bukan soal harganya, tetapi selain alasan di atas, makanan-makanan tersebut juga merupakan salah dua dari kesukaan saya sepanjang masa. Sebenarnya barang itu sudah datang hari Minggu pagi, dan saya pun sudah akan mengambilnya hari itu juga, tetapi ketika perjalanan baru sampai di Stasiun Cawang badan terasa adem-panas, akhirnya saya membatalkannya.

Awalnya perjalanan sangat lancar. Dari Depok ke Jakarta Kota hanya satu jam saja dengan kereta ekonomi. Apalagi di kereta ada kawan yang menemani ngobrol tentang tradisi ziarah dalam Islam, seperti yang biasa dilakukan Gus Dur. Karena itu pula perjalanan terasa demikian cepat. Dari Stasiun Jakarta Kota ke Bekasi pun lancar, kali ini dengan Bekasi Ekspres. Saya sempat membayangkan akan mulus saja perjalanan hari ini. Apalagi di Bekasi dengan gembira ketemu dengan Bu Lik dan ngobrol banyak hal tentang kondisi kampung, saudara lain dan kenangan masa lalu. Jam tiga sore saya pamit pulang karena biar tidak terjebak hujan, karena setiap sore sudah mulai hujan yang nanti malah merepotkan diri sendiri. Dari Bekasi saya membawa satu ransel mangga (dari dus kupindah ke ransel saja), satu tas besar kerupuk gendar, keripik tempe dan sayur lodeh.

Karena jadwalnya berangkat duluan, saya memilih menggunakan kereta ekonomi dari Bekasi ke Jakarta. Tempat duduk banyak yang kosong, tetapi mulai di Kranji hujan turun dan airnya masuk ke dalam kereta lewat pintu dan jendela yang terbuka, sehingga penumpang mulai merapat mencari tempat duduk yang kering. Hanya beberapa kursi yang kering dan bisa diduduki, yang tidak kebagian harus berdiri. Hujan semakin deras dan semakin sedikit lagi kursi yang bisa diduduki yang bebas dari tempias air hujan. Melihat derasnya hujan sudah kebayang kalau Jakarta akan macet, pasti deh. Sekira dua ratus meter setelah melewati Stasiun Jayakarta tiba-tiba kereta berhenti, di tengah jalan antara stasiun Jayakarta dan Stasiun Kota. Saya berpikir, kelihatnnya semua penumpang juga begitu, berhentinya kereta tidak akan lama karena seperti jamak terjadi, yang murah harus mengalah; kereta ekonomi harus mengalah agar kereta ekspres lewat lebih dulu. Setelah setengah jam berlalu kereta tak juga jalan, penumpang mulai putus asa menunggu, satu-persatu mulai turun dari kereta. Apalagi penumpang dari arah Stasiun Jakarta Kota juga mulai turun dan berjalan menyusuri rel menuju Stasiun Jayakarta. Ketika saya tanya salah seorang di antara mereka, ia menjawab “Lokomotif terbakar, jadi lebih baik turun saja karena tidak mungkin kereta jalan dalam satu-dua jam ini”.

Dimulailah mimpi buruk senja itu. Dengan membawa tas ransel penuh mangga dan satu tas tenteng berisi krupuk dan sebagainya,saya ikut turun dan berjalan menyusuri rel menuju stasiun Jayakarta. Bingung apa yang mesti dilakukan, karena jalan raya juga banjir sehingga tidak mungkin mengambil pilihan naik angkutan darat selain kereta. Karena ada kereta ekspres Bojong Gede yang berhenti di stasiun Jayakarta, saya memutuskan masuk dan menunggu perkembangan di situ. Sebagian besar penumpang di dalam kereta sibuk dengan hape-nya masing-masing. Petugas penarik karcis sepertinya bosan menjawab pertanyaan para penumpang tentang apa yang terjadi. Setelah didatangkan lokomotif dari Manggarai, akhirnya kereta ekonomi yang berada di depan bisa ditarik dan kereta yang saya tumpangi kemudian melaju menuju stasiun Jakarta Kota.

Stasiun kota penuh orang yang berjejalan menunggu kereta,seperti stasiun Senen ketika menjelang lebaran. Saya kembali membeli karcis menuju Depok. Penderitaan ternyata tidak berhenti, karena kereta penuh sehingga saya harus berdesakan berdiri sambil menenteng tas yang berisi kerupuk gendar. Tas ransel sudah aman karena bisa kutaruh di tempat tas di atas tempat duduk. Entah kenapa, dorongan untuk membenci setiap orang muncul saat itu. Setiap orang di sekitar sepertinya ikut menambah penderitaan. Mungkin semua juga berpikiran sama, mementingkan diri sendiri. Apalagi ketika di setiap setasiun kereta berhenti dan penumpang selalu bertambah sehingga semua saling gencet di gerbong itu. Ada yang berteriak karena kakinya terinjak, ada pula yang marah karena tangannya tertindih punggung. Saya melihat perempuan kurus di depan saya sudah mulai pucat wajahnya dan kelihatan susah bernafas. Saya dan banyak penumpang akhirnya menyerah, turun di Stasiun Lenteng Agung dan mengambil angkot untuk meneruskan pulang ke Depok dan dilanjutkan dengan ojek. Sampai di rumah sekitar jam 21.00, jadi lima jam dari Jakarta Kota ke Depok. Kutaruh ransel di kamar depan sedang tas dengan buru-buru kubuka : kerupuk Gendar dan keripik tempe remek semua!

Inikah risiko yang harus ditanggung jutaan orang di Jakarta untuk mengejar tujuan hidupnya? Demi bekerja di Jakarta, seluruh ketidaknyamanan harus ditanggung. Udara kotor, waktu banyak terbuang percuma, transportasi macet, lingkungan buruk, kepadatan yang melampaui batas dan ngacirnya solidaritas sosial. Benarkah hidup yang seperti ini layak diperjuangkan? Sambil terlentang di kasur, saya teringat dengan segitiga kerangka keberlanjutan Herman Daly. Menurut Daly, tujuan hidup utama (ultimate ends) akan tercapai dengan sokongan instrumen (intermediate means) dan sarana utama (ultimate means). Dengan kata lain, untuk mencapai tujuan utama itu manusia diberikan modal alam (ultimate means) dan kebebasan dalam memilih/menggunakan instrumen teknologi, sistem sosial, politik, ekonomi, maupun etik. Sarana utama (alam) sudah jelas terbatas dan kita terbukti gagal dalam mengelola secara lestari, sedangkan instrumen yang kita pilih juga terbukti selama ini malah menambah keruwetan ( ketergantungan pada teknologi yang boros energi serta penuh polusi dan sistem ekonomi yang saling menghancurkan, misalnya). Kerangka keberlanjutan Daly tersebut seharusnya mengajarkan kepada kita untuk megelola alam dengan sebaik-baiknya karena keterbatasannya dengan menggunakan instrumen yang tepat. Malam itu telah menjadi bukti bahwa kita gagal mengelola alam dengan baik dengan adanya banjir air dan banjir asap kendaraan dari bahan bakar fosil.

segitiga kerangka keberlanjutan Herman Daly

Mungkinkah tingkat kesehatan yang tinggi, adanya rasa aman, diterima dan dicintai, kebanggan dan aktualisasi diri bisa tercapai dengan lingkungan Jakarta seperti ini? Apakah masuk akal jika hanya ingin merasakan kenikmatan dan kebahagiaan makan kerupuk Gendar harus melakukan perjalanan seharian, terjebak kemacetan, menghirup udara penuh polusi, dan kehilangan rasa sayang serta solidaritas terhadap orang lain? Jawabnya : seharusnya tidak perlu!

(tulisan ini dimuat di http://desantara.org  pada 28/10/10)



8 tanggapan untuk “Kerupuk Gendar dan Kualitas Hidup di Jakarta”

  1. wah, gendar ini pasti rasane dadi uenaaak yo bos?

    1. Jelas, Ru. Keripik tempe yang tinggal remekan masih terasa gurih juga

  2. oya, satu lagi: pergilah dari jakarta.

    1. haha, tunggu saja

  3. Cerita yg mengenaskan dan mengundang simpati. Cerita ini sungguh meruntuhkan mitos bahwa orang indonesia ramah dan kekeluargaan. Rejim ekonomi dan individualitas telah menguasai. Di tengah tekanan itu, kita jadi perlu bertanya lagi, apa yang kita cari sebenarnya dalam hidup ini?

    1. Ganjar, aku masih teringat dengan kata-katamu ketika terakhir kita ketemu. Kamu mengomentari banyaknya masalah yang ditampilkan di koran Indonesia, lain dengan di Jepang. Entahlah, tapi itu belum seberapa jika dibandingkan dengan koran-koran lokal, lebih mengerikan lagi beritanya.

      Sebenarnya, ada juga cerita tentang kerahaman dan solidaritas di tengah transportasi umum yang buruk, Njar. Nah, hebatnya ini justru sering kujumpai di kereta kelas ekonomi. Semoga bisa menulisnya suatu saat.

      Terima kasih ya.

  4. wah, aku kira-kira kebayang gimana situasi kereta ekonomi itu mas, meski kompleksitasnya tidak sesusah yang kamu critakan, karena waktu aku naik itu, tidak ada banjir. itu sewaktu aku ngurus visa, bolak-balik gambir-depok, beberapa kali naik ekonomi. benar2 gak ada ruang di dalam situ. isinya orang semua. ya, masih mending sebenarnya berebut ruang, tapi aku sudah ngerasa bahwa di dalam situ aku juga berebut oksigen dengan yang lain. ya tuhan…., jangan sampai aku hidup di Jakarta. segeralah pergi dari jakarta Mas…

    salam
    Bosman

    1. Iya, Bos. Uzair kelihatannya akan segera tinggal di Jogja. Aku sedang persiapkan. Semoga setelah dari Desantara deh. Kamu sekalian ambil doktoral aja, biar gak cepet pulang

Tinggalkan Balasan ke Ganjar Batalkan balasan