Tidak ada yang aneh ketika saya sampai di Jogja tanggal 17 April lalu untuk menepati janji menjadi salah satu narasumber di pelatihan kader dasar PMII UGM. Tidak juga kebetulan jika malam setelah acara pelatihan itu dan dilanjut sehari setelahnya seorang kawan mengajak berbincang tentang banyak hal di kantor Lafadl. Perbincangan kami hari itu tentu tidak mendalam, karena sebenarnya kami sedang “pamer” informasi yang kami punya. “Pameran” ini dimeriahkan dengan berbagi informasi mengenai buku yang menarik yang bisa diunduh secara gratis melalui Gigapedia. Slow Food Movement adalah salah satu tema yang kami bicarakan malam itu.

Sebenarnya juga, mulai hari itu perutku terasa sakit, khususnya di sebelah kanan bawah. Saya mulai berpikir, gara-gara makan apa ya? Sehari setelahnya, tepatnya ketika sampai di Jakarta, perutku tidak juga membaik, bahkan semakin nyeri. Seorang kawan sudah mewanti-wanti agar cepat periksa ke dokter, karena tanda-tandanya mirip dengan radang usus buntu atau appendicitis. Kucari-cari informasi di internet tentang tanda-tanda radang usus buntu, ternyata kok mirip seperti yang kurasakan. Awalnya terasa tegang dan nyeri di ulu hati terus merembet di perut sebelah kanan bawah, dan menetap disitu.
Tiga hari kemudian, jam sembilan lebih limabelas menit, saya tergeletak di meja operasi, memandangi lampu-lampu yang menyilaukan, benderang seperti di atas panggung konser musik. Nampak juga dokter hilir mudik di kiri kanan meja bedah, mempersiapkan alat-alat operasi. Seorang diantaranya mempersilakan saya berdoa dulu, sambil memasukkan cairan bius melalui saluran infus. Pelan-pelan kedamaian merambat, gelap dan saya tak ingat apa-apa lagi. Kemudian samar-samar namaku dipanggil, saya terjaga dan seorang perawat memberitahu operasi telah selesai. Rasa nyeri yang datang terasa lebih hebat. “ Sakit sekali, Suster,” saya merengek pada Suster yang membenahi kantung infusku. “Iya, sebentar lagi tidak sakit, kan pengurang rasa sakit sudah dimasukkan di kantung infus,” jawabnya kalem. Hari itu, saya berdoa dan mengaduh sama banyaknya.
Yah begitulah, akhirnya lima hari saya dirawat di St. Carolus, dan setiap hari selalu berpikir tentang apa yang menjadi sebab ususku bisa terkena radang, bernanah dan seperti tercabik-cabik. Teman-teman yang menjenguk selalu terheran-heran melihat bentuk usus buntu yang sudah dipotong yang ditaruh di cepuk plastik itu. “ Apa penyebabnya sih? ” tanya mereka seperti mengkhawatirkan kondisi itu juga akan menimpa mereka. “Saya tak tahu pasti, tapi kupikir ada kaitannya dengan makanan dan cara makan yang salah,” jawabku. Hmm, mungkin benar yang dinyatakan oleh gerakan Slow Food itu. Jangan-jangan semuanya berkait soal makan, baik mulai pengolahan di lahan pertanian hingga dapur, dan cara makan kita.
***
Slow Food adalah sebuah gerakan yang diluncurkan oleh Carlo Petrini sebagai perlawanan terhadap budaya hidup yang kini dipuja dimana-mana : kecepatan dan efisiensi. Slow Food movement adalah antitesa terhadap cara pandang yang menempatkan waktu, proses, dan cara makan harus dilakukan dengan cepat. Lambangnya saja siput, yang melambangkan kelambatan. Dengan kata lain, gerakan ini juga menjadi musuh dari restoran cepat saji seperti McDonald’s. Tapi menurut Geoff Andrews, akar gerakan itu sudah disemai sejak akhir 60-an dan awal 70-an ketika idealisme dan kreativitas anak muda sayap kiri muncul sebagai tantangan terhadap hegemoni partai politik di Eropa, dengan budaya dijadikan sebagai wadah protes politik.[1] Di Itali, protes ini dilakukan melalui kegiatan budaya yang membela budaya lokal, baik musik, makanan, minuman dan “kenikmatan” lain yang dipelopori oleh Carlo Petrini dan kawan-kawan.[2] Memang begitu awalnya, yang kemudian gerakan itu semakin agresif setelah pada tahun 1986 cabang restauran McDonald’s didirikan di sebelah Spanis Steps yang terkenal di Roma. Masyarakat lokal Roma menjadi geram, dan menganggap McDonald’s telah keterlaluan, dan akhirnya mereka melakukan sesuatu untuk meredam badai makanan siap saji itu.[3] Tapi itu hanya awalan, ada yang lebih dalam setelah itu. Lihatlah filosofi gerakan mereka yang indah : We believe that everyone has a fundamental right to pleasure and consequently the responsibility to protect the heritage of food, tradition and culture that make this pleasure possible. Our movement is founded upon this concept of eco-gastronomy – a recognition of the strong connections between plate and planet. Slow Food is good, clean and fair food. We believe that the food we eat should taste good; that it should be produced in a clean way that does not harm the environment, animal welfare or our health; and that food producers should receive fair compensation for their work.[4]
Dengan konsep eco-gastronomy, gerakan ini memberikan pengakuan bahwa ada hubungan yang kuat antara piring dan planet! Sehingga menurut mereka, selain makanan yang kita makan harus terasa nikmat, ia juga diproduksi dengan cara yang bersih, tidak merusak lingkungan, menjaga keselamatan hewan atau kesehatan kita. Dan yang tak kalah penting bahwa produser makanan menerima kompensasi yang adil dari kerja yang telah mereka lakukan. Inilah yang disebut keterkaitan yang kuat antara piring dengan planet tersebut.
Apa yang dikemukakan oleh gerakan Slow Food ini tidak berlebihan, ketika sekarang ini “piring” telah merusak planet. Dengan adanya penemuan teknologi di bidang masak-memasak seperti mesin oven microwawe, salah satunya, yang mempercepat waktu makan dan masak kita, ternyata berbanding lurus dengan percepatan di wilayah pertanian. Melalui pupuk kimia, pestisida, obat penggemuk ternak, dan lain sebagainya, seolah memperlihatkan manusia sekarang telah dihantui ketergesa-gesaan tapi merusak lingkungan dan kesehatan. Peneliti dari Universitas Essex, Inggris telah menghitung bahwa para pembayar pajak di Inggris telah menghabiskan 2,3 milyar poundsterling setiap tahun untuk memperbaiki kerusakan lingkungan dan kesehatan manusia yang ditimbulkan pertanian pabrik.[5] Itu pula yang disampaikan oleh Eric Schlosser dalam Fast Food Nation, bahwa produksi daging lembu Amerika yang bersifat massal sering tercemar benda-benda kotor sehingga ribuan penikmat hamburger terkena racun E-coli setiap tahunnya.
Dengan filosofi di muka, tak mengerankan jika aktivis gerakan Slow Food menganjurkan dan membela apa yang diabaikan oleh McDonald’s, yakni : kesegaran, produk lokal, dan musiman; resep yang telah diwariskan turun-temurun; pengolahan pertanian yang awet; produksi hasil kerajinan; kebiasaan makan bersama keluarga dan sahabat dengan santai dan pelan.[6] Seperti juga disebutkan di muka, gerakan ini juga mengkhotbahkan eco-gastronomy yang disingkirkan oleh restoran cepat saji.
Lantas apa hubungan semua itu dengan radang usus buntu? Hehe, saya belum bisa menjawab dengan pasti. Tetapi menurut pengalaman diri sendiri, anjuran dari gerakan Slow Food tidak pernah saya lakukan, mungkin juga karena belum tahu. Sejak SMP saya sudah berpisah dari orang tua, kos bersama kakak di Jogja. Ini tentu berpengaruh terhadap kualitas makanan, cara, dan frekuensi makan. Kualitas pasti tidak sebaik di rumah sendiri, apalagi uang kiriman bulanan juga terbatas. Soal cara, ah pasti sering tergesa-gesa, jarang sekali makan bersama keluarga dan teman dengan santai dan pelan; frekuensi, tentu tidak pasti. Apalagi saya punya kebiasaan buruk : malas mengunyah. Ditambah lagi gigi geraham sudah tanggal satu, semakin aduhai deh malasnya. Nah, dengan malas mengunyah mengakibatkan usus bekerja lebih keras, yang tentu kadang tidak sempurna juga mencernanya. Bisa saja unyahan yang tidak sempurna itu menyebabkan infeksi bakteri, atau tidak tercerna bersama tinja sehingga mengendap di usus buntu. Lagi-lagi, itu belum pasti, tapi kemungkinan besar benar.
Sekarang yang saya tahu pasti, betapa berharganya sehat itu. Kapok sudah dirawat di rumah sakit. Hmm, betapa nikmatnya karunia Tuhan atas makanan yang sehat. Untuk itu, mulai kini, saya akan menikmati setiap makanan yang saya makan, dengan pelan-pelan. Yah, pelan-pelan saja.
[1] Geoff Andrews, The Slow Food Story, Politics and Pleasure, Pluto Press, London, 2008, hal 4-5.
[2] Ibid, hal 6-8
[3] Carl Honoré, In Praise of Slow, Sepuluh Mitos Keliru tentang Kecepatan (edisi Indonesia), B-First, Yogyakarta, hal. 54-55
[4] http://www.slowfood.com/about_us/eng/philosophy.lasso
[5] Carl Honoré, ibid. Hal. 54.
[6] Ibid, hal.56

Tinggalkan Balasan ke gondy Batalkan balasan