coretan kebun belakang

tentang kawan, buku, perjalanan


Seorang Lelaki di Strenkali

Hujan berlari cepat ke pinggiran sungai, memiringkan badan ke depan seperti pelari yang hampir mendekati garis finish. Sungai Wonokromo tetap tenang dan tidak gelisah ketika tubuhnya seperti ditotok ribuan tongkat kristal yang dimainkan seorang ahli silat. Tongkat kristal bergerak dan melompat maju-mundur untuk menyerang tubuh yang gemuk dan malas itu. Tumpahan meriah air dari langit bertabrakan dengan suara adzan yang terdengar meliuk dan hilang dengan tergesa-gesa. Bocoran air yang jatuh melewati genting yang melorot membasahi celana Pak Bakir yang berdiri di teras belakang rumah Bu Darmi. Pak Bakir bukan Basudheva yang selalu tersenyum mendengar suara air sungai. Kali ini sinar matanya kian meredup mengikuti redupnya lampu-lampu dari dapur penduduk yang menerobos lewat celah dinding-dinding bambu. Mata dan lehernya sudah capek untuk menengok secara bergantian ke sampan dan ke lorong gang.

Segelas kopi yang jarak antara air dan ampasnya tinggal sekitar satu centimeter, masih sesekali diseruput untuk membasahi lidahnya agar rokrok kreteknya semakin terasa nikmat. Malam itu, Pak Bakir seperti kawat besi tambangan yang menjadi pegangannya ketika mengayuh sampan menyeberang sungai Wonokromo. Kaku dan dingin.

Sepuluh tahun bekerja sebagai penarik sampan di tambangan telah mengajarinya tentang akibat hujan deras bagi diri dan keluarganya. Setoran untuk Pak Lasiyo, pemilik perahu tambangan, pasti akan kurang dan tidak akan ada yang bisa dibawa pulang kecuali jika dia punya keberanian untuk meminjam sedikit uang ke majikannya itu. Kalau hari cerah, uang yang dibawa pulang biasanya tidak kurang dari delapan puluh ribu rupiah yang kemudian lima puluh ribunya dia setorkan ke Pak Lasiyo. Tapi malam ini tidak mungkin dia akan pinjam lagi ke Pak Lasiyo. Sudah lima malam hujan mengguyur Surabaya, dan lima malam pula dia akan pulang dengan tubuh yang semakin memberat dan dingin. Tatapan mata gelisah istrinya nanti yang pertama menyambut ketika dirinya pulang. Dan Pak Bakir tahu, dia tak setegar sungai Wonokromo. Buliran kristal-kristal lembut yang keluar dari mata istrinya dan sedu sedan yang tertahan bantal apak sudah cukup membuatnya tidak bisa tidur seharian. Apalagi wajah kuyu tiga anaknya yang tertidur dengan perut cekung, semakin menjadikannya seperti lelaki yang gagal.

Pak Bakir selalu mengangankan setiap malam adalah purnama, tanpa gerimis apalagi hujan. Dengan cuaca seperti itu, orang-orang akan keluar rumah, terutama muda-mudi, menyeberang sungai menuju kota. Kegembiraan yang menyelimuti anak-anak muda itu biasanya memantul dari sungai yang bergerak perlahan. Obrolan-obrolan mereka pasti akan mengembalikan Pak Bakir pada masa mudanya dulu, sehingga kenangan dan senyumnya kadang mengapung di permukaan sungai. Pernah di suatu purnama, dia menyeberangkan beberapa pasangan muda-mudi. Ada satu pasangan yang menarik perhatiannya waktu itu. Mereka tidak duduk di bangku panjang yang disediakan di tengah sampan, tapi duduk di ujung sampan. Tangan mereka saling menggenggam, tidak lepas-lepas. Mereka berbicara tentang rencana minggu depan, ketika sebuah band pujaan anak muda sekarang, akan pentas di Surabaya.

“ Kita harus nonton, Mas,” perempuan itu merajuk sambil mengeratkan
genggamannya, “ mumpung uang tabunganku masih belum kepakai.”
“ Nanti kalau adikmu tiba-tiba membutuhkan untuk bayar sekolah, bagaimana?”
“ SPP adikku masih bulan depan mbayarnya, dan uang buku juga baru saja
kubayar, jadi tidak mungkin akan bayar lagi dalam waktu dekat ini”.
“ Katamu, uang tabungan itu nantinya juga untuk renovasi rumah agar rumahmu
tidak kelihatan kumuh sehingga pemerintah tidak menthala untuk menggusur.”
“Itu juga masih jauh, Mas, karena peraturan yang menentukan warga akan digusur
atau boleh tetap tinggal, belum juga kelar diomongin pejabat-pejabat.”
“Ah, bukannya pemerintah biasanya tidak peduli apakah ada aturannya atau tidak
untuk menggusur rumah?”
“ Ini Pak Menteri sendiri yang ngomong di depan warga, Mas. Tak mungkin dia
akan berbohong di depan banyak orang.”
“Tapi itukan menteri yang dulu, sekarang bisa berbeda lagi kebijakannya.”
“ Ayolah, kita nonton bareng, soal renovasi rumah bisa dipikir belakangan”
genggaman perempuan itu semakin erat.

Lelaki itu kemudian melepaskan genggaman tangannya, dan mencoba menggunakan tangan dan matanya untuk mengutarakan perasaanya. Dia menjamah ujung rambut perempuan itu yang berwarna merah dan nampak semakin bercahaya ketika sinar bulan menimpanya. Perlahan-lahan tangan itu turun mengusap dahi, berhenti sebentar di alis yang samar-samar nampak tahi lalat tertempel disitu dan kemudian berakhir di pipi.
Aih! Dada Pak Bakir tiba-tiba berdetak lebih kencang. Dia jadi teringat pada istrinya. Suatu malam sekitar tiga bulan setelah Pak Bakir bekerja di tambangan, seperti biasa sebelum tidur atau bercinta, dia mengelus pipi istrinya. Malam itu bukan tatapan mesra yang didapat dari istrinya, tapi malah sikap merengut.
“ Tanganmu kasar sekali,” istrinya mencoba menepis sentuhan tangannya.
Pak Bakir meraba telapak tangannya sendiri, memang seperti tembok yang tidak rata pengecorannya.
Sebagai penarik sampan penyeberangan di kali Wonokromo yang tiap hari selalu mengandalkan tangannya untuk menarik tambang besi sebagai kayuhan agar sampannya bergerak, jangan berharap akan mempunyai telapak tangan yang halus. Tiga bulan sudah cukup menjadikan telapak tangannya menjadi tebal dan kasar. Sejak peristiwa malam itu, Pak Bakir tidak punya keberanian lagi untuk mengelus pipi bahkan menggenggam tangan istrinya. Itu sungguh menyiksanya. Padahal itulah ritual sekaligus ekspresi kasih sayang yang memberinya ketentraman menjelang tidur. Harapan yang menuntun kakinya berjalan cepat ketika pulang pada malam hari.

Air hujan yang menetes dari genteng teras Bu Darmi yang bocor, memadamkan nyala rokok kretek dan sekaligus lamunan Pak Bakir. Dia membuang rokoknya ke genangan air di depannya. Dari kaca yang tidak ada tirainya, nampak televisi di ruang tamu Bu Darmi masih menyala dengan anak-anak terlelap di depannya. Pak Bakir mendesah pelan, dan kembali mengambil sebatang rokok untuk dinyalakan. Malam ini sungguh sepi. Biasanya kalau malam sedang cerah, di rumah Bu Darmi ada pertemuan anggota tabungan dari pedagang kaki lima dan pemulung, atau setidaknya ada yang bertamu. Seringkali mereka berbincang tentang perjuangan menolak rencana penggusuran pemukiman strenkali atau bagaimana mengelola tabungan dan sampah warga. Tapi malam ini rasanya seperti penggusuran sudah terjadi pagi tadi. Sepi sekali…

“ Selamat malam, Pak”, suara berat dari seorang dengan rambut seperti
ditumbuhi gerombol buah kurma dan kantung mata yang hampir jatuh, membuyarkan lamunan Pak Bakir.
“Malam, Mas, mau menyeberang?” ujar Pak Bakir ramah.
“Oh, tidak Pak. Saya sedang mencari saudara saya yang hanyut ke sungai ini kira
kira setengah jam lalu. Apakah Bapak melihatnya?”
“ Tidak, saya tidak melihat siapa-siapa. Orangnya seperti apa?”
“ Laki-laki kurus dengan rambut panjang, ada tatto di leher dan mungkin sambil
membawa gitar”.
“Membawa gitar? bagaimana bisa hanyut sambil membawa gitar?”. Pak Bakir
sepertinya lupa kalau sungai tidak pernah menolak apapun yang diberikan manusia padanya. Buruk maupun baik. Sungai selalu tulus menerima pemberian dan memberikan apa yang dimiliki untuk yang lain .
“ Dia kena razia petugas Satpol PP waktu ngamen tadi. Repotnya lagi, dia tidak
punya KTP”.
“ Kenapa repot, Mas” , tanya Pak Bakir dengan mata tidak berkedip.
“Ini yang jadi alasan pemerintah kota untuk memulangkannya ke kampung, Pak. Sedangkan pemerintah kota sekarang ini mengaku tidak punya biaya untuk memulangkan orang-orang yang tidak punya KTP kota ini ke kampung asalnya. Maka cara seperti ini yang ditempuh, menghanyutkannya ke sungai”.

Pak Bakir masih sangsi akan cerita pemuda dengan rambut buah kurma itu. Segila itukah kelakuan pemerintah kota sekarang?. Dia pikir hanya becak saja yang dihanyutkan, itu pun ke laut dan tidak ke sungai di tengah kota. Kelakuan menghanyutkan orang ke sungai lebih gila dari nasibnya malam ini yang tidak mendapat penumpang satu orang pun!
Tiba-tiba seorang perempuan turun dari angkutan kota , masuk ke lorong gang tempat Pak Bakir menjaga sampannya.
“ Apakah Bapak melihat ada sesuatu yang hanyut di sungai ini satu jam yang
lalu?”. Ah! lakon apalagi ini. Pak Bakir melebarkan matanya untuk melihat lebih cermat gelang dan kalung imitasi di tangan dan leher perempuan itu. Lubang hidungnya pun lebih merekah membaui wangi parfum yang banyak dijual di kaki lima seberang Terminal Joyoboyo yang sekarang sudah hilang tergusur.
“ Apa yang hanyut, Mbak?”
“ Teman saya, Pak. Perempuan seumur saya, umurnya sekitar dua puluh lima
tahun dengan tatto bunga mawar di pinggangnya”.
“ Gelap begini pasti susah lihat tatto, Mbak. Apalagi di pinggang”, ujar Pak Bakir
sambil menahan senyumnya.
“ Kenapa dia bisa hanyut?” lanjut Pak Bakir dengan wajah penuh kekhawatiran
akan mendapat jawaban segila kemarin.
“ Dia dikejar-kejar Satpol PP, terus dia nekat nyebur ke sungai, Pak. Dia ngeyel
waktu saya beritahu akan ada garukan besar-besaran malam ini”.
“ Saya tidak melihatnya, Mbak”, ujar Pak Bakir pendek.
Pak Bakir teringat isterinya. Apakah dia juga bisa ditangkap karena sekedar mengantar kopi di waktu malam untuk dirinya, walau isterinya tidak punya tatto di pinggang ?

Hujan tidak kunjung reda. orang-orang pun malas keluar rumah. Pak Bakir jatuh dalam lamunan lagi setelah perempuan dengan gelang dan kalung imitasi pergi. Doa dan umpatan terus keluar, dan Pak Bakir sudah gagal menghitung mana lebih banyak doa atau umpatan yang keluar dari mulutnya. Waktu belajar ngaji di usia anak-anak dulu pernah diajari doa atau puji-pujian minta hujan dalam bahasa Arab, tapi belum pernah diajari untuk menghentikan hujan. Dia hanya meminta hujan berhenti dalam bahasa jawa. Mungkinkah ini yang menyebabkan hujan tidak berhenti? Apakah ini yang menyebabkan banjir terus datang di pulau Jawa akhir-akhir ini?

Sayup-sayup terdengar suara sirene yang makin lama makin keras. Suara itu berhenti di depan lorong tempat matanya selalu tertuju, bersama berhentinya beberapa kendaraan. Hati Pak Bakir menjadi ciut. Beberapa orang berseragam polisi diikuti dua orang perempuan cantik melangkah tergesa ke arahnya. Kali ini gelang dan kalungnya dari emas asli, bukan imitasi, Pak Bakir bisa melihatnya. Wangi tubuhnya pun bukan seperti perempuan yang datang tadi, kali ini seperti wangi bunga mawar yang muncul dari masa lalu.

“ Malam, Pak” suara perempuan itu juga berat.
“ Ee..malam, Bu”, Pak Bakir keder juga menjawab sapaan perempuan itu.
“ Apakah Bapak melihat seorang laki-laki memakai jas hitam, dasinya merah,
sepatu hitam, dan peci hitam yang dipasang miring?”
“ Dia hanyut Bu?”, tanya Pak Bakir polos.
“ Tidak!, eh tidak tau, yang jelas dia pasti di sekitar sini. Tadi siang dia uring
uringan terus dan pingin mengadukan nasibnya pada Sungai Wonokromo”, perempuan itu bicara dengan berulang-ulang menggerakkan kedua tangannya , seperti Pak Presiden.
“ Tidak Bu, satu-satunya lelaki yang lewat sini tadi rambutnya sedikit
keriting, pakai kaos hitam lusuh”, jawab Pak Bakir.
“ Aduh, gimana nih Pak Polisi? kemana lagi kita akan mencari?” perempuan itu
membalikkan badan dan bertanya pada Pak Polisi.
“ Kita lanjutkan ke timur saja, Bu” jawab Pak Polisi singkat.
Perempuan itu mengikuti usulan Pak Polisi, dan sebelum pergi masih sempat memberikan secarik kartu nama pada Pak Bakir.
“ Kalau melihat orang yang ciri-cirinya seperti yang saya sebutkan tadi, tolong
telpon saya di nomor itu ya, Pak.” Pak Bakir menerima kartu nama itu sambil mengangguk.
“ Dia suami saya. Oh ya, dia juga sering mengumpat , KPU brengsek!, KPU
brengsek!” imbuh perempuan itu.
“ Baik, Bu” Pak Bakir menjawab dengan datar dan matanya mengikuti kepergian
rombongan itu dengan enggan.

Pak Bakir tersenyum sendirian, ternyata yang mengumpat malam ini tidak hanya dia saja. Ada laki-laki lain yang juga melakukannya, cuma yang diumpatnya KPU bukan hujan. Mungkin benar, pikirnya, bahwa hanya kodok-kodok yang dilimpahi rejeki yang luas dan membahagiakan malam ini. Kodok-kodok yang telah hidup dan beranak pinak dari generasi ke generasi, seperti warga strenkali. Malam ini kodok-kodok itu pasti sedang menyiapkan generasi-generasi yang akan datang, terdengar dari nyanyiannya yang tidak putus-putus.
***

Gang Jamblang, Tangerang, 14 Juni 2009.



2 tanggapan atas “Seorang Lelaki di Strenkali”

  1. spirit dan jalan ceritanya bagus Ndes. sptnya berhenti di perempuan bertato mawar (pelacurkah dia?) lebih afdol utk spirit anti-penggusuran RMK

  2. Yup, tapi persoalannya sungai tidak bisa menolak apa yang diberikan padanya. Rumi pernah mengatakan mengatakan seperti itu..hehe

Tinggalkan Balasan ke gondy Batalkan balasan