coretan kebun belakang

tentang kawan, buku, perjalanan


rakyat miskin kota

  • Permainan Mak Sup

    Mas Karto tahu, kalau memboncengkanku dari stasiun Kota ke Tembok Bolong, Muara Baru, pasti ia mengayuh sepeda ojeknya dengan santai, apalagi ketika melewati kawasan Kota Tua. Mas Karto juga tahu betapa sia-sianya mengajakku bicara pada saat seperti itu. Dia baru ngajak ngobrol ketika sudah melewati Kota Tua. Bagiku, menikmati suasana Kota Tua di atas sepeda Continue reading

  • Daeng-daeng dari Tamalate

    kangen uplink (1) Jalan Andi Tonro tidak berubah sejak tiga setengah tahun lalu. Tidak pula ingatan saya terhadap kampung di sebelah utara dan selatannya. Kampung tersebut masuk kelurahan Pa’Baeng-baeng, kecamatan Tamalate, Makassar. Di kecamatan Tamalate inilah, terutama di kelurahan Pa’Baeng-baeng, Maccini Sombala dan Parang Tambung, perempuan-perempuan penggerak Komite Perjuangan Rakyat Miskin (KPRM) berada. Kemarin lalu, Continue reading

  • Kota yang Sekarat

    Selama tujuh tahun, banyak hari, khususnya Minggu, sering saya  lewatkan dengan masuk-keluar kampung-kampung “kumuh” (slum), atau tepatnya informal, di Jakarta. Sempat pula beberapa kali ke kampung-kampung informal di kota-kota lain di Indonesia atau negara lain. Kondisi buruk yang dialami kawan-kawan yang tinggal di slum tersebut seperti tak putus-putus, tak ada jedanya. Ada yang kemarin diancam Continue reading