coretan kebun belakang

tentang kawan, buku, perjalanan


  • Daeng-daeng dari Tamalate

    kangen uplink (1) Jalan Andi Tonro tidak berubah sejak tiga setengah tahun lalu. Tidak pula ingatan saya terhadap kampung di sebelah utara dan selatannya. Kampung tersebut masuk kelurahan Pa’Baeng-baeng, kecamatan Tamalate, Makassar. Di kecamatan Tamalate inilah, terutama di kelurahan Pa’Baeng-baeng, Maccini Sombala dan Parang Tambung, perempuan-perempuan penggerak Komite Perjuangan Rakyat Miskin (KPRM) berada. Kemarin lalu, Continue reading

  • Kerupuk Gendar dan Kualitas Hidup di Jakarta

    Hari Senin 25 Oktober 2010 lalu saya menjadi bagian dari ratusan ribu, mungkin jutaan, manusia yang tersiksa karena kemacetan dan banjir yang menimpa Jakarta. Tak terbayang sebelumnya bahwa hari itu menjadi bagian dari sederet daftar hari terburuk selama tinggal di Jakarta dan sekitarnya. Senin itu saya sengaja keluar kantor lebih pagi untuk mengambil barang titipan Continue reading

  • Kota yang Sekarat

    Selama tujuh tahun, banyak hari, khususnya Minggu, sering saya  lewatkan dengan masuk-keluar kampung-kampung “kumuh” (slum), atau tepatnya informal, di Jakarta. Sempat pula beberapa kali ke kampung-kampung informal di kota-kota lain di Indonesia atau negara lain. Kondisi buruk yang dialami kawan-kawan yang tinggal di slum tersebut seperti tak putus-putus, tak ada jedanya. Ada yang kemarin diancam Continue reading

  • Water Wars : Privatisasi, Profit, dan Polusi*

    “Apo hi stha mayobhuvas” ( Air adalah pemelihara paling utama layaknya seorang ibu) – Taittiriya Samhita Ismail Seralgedin, wakil presiden Bank Dunia, pada tahun 1995  melakukan prediksi mengenai masa depan perang: “ Jika perang-perang abad ini banyak diakibatkan oleh persengketaan minyak, perang masa depan akan dipicu oleh air”. Prediksi tersebut ternyata menunjukkan tanda-tanda ketepatannya, dan Continue reading

  • Radang Usus Buntu dan Slow Food Movement

    Tidak ada yang aneh ketika saya sampai di Jogja tanggal 17 April lalu untuk menepati janji menjadi salah satu narasumber di pelatihan kader dasar PMII UGM. Tidak juga kebetulan jika malam setelah acara pelatihan itu dan dilanjut sehari setelahnya seorang kawan mengajak berbincang tentang banyak hal di kantor Lafadl. Perbincangan kami hari itu tentu tidak Continue reading

  • Pekerjaan yang Pedih

    Suatu waktu di tahun 1999 saya mendengar semacam pengakuan dari Mas G.M. Sudarta tentang profesi yang dilakoninya sebagai  kartunis.  Menurutnya, bekerja sebagai kartunis adalah pekerjaan yang sedih. Tiap hari dia harus berfikir, menghayati, dan menggambarkan kondisi buruk yang dialami bangsa.  Tentang mereka yang kelaparan, kebanjiran, digusur, terkena wabah penyakit, tertimbun tanah longsor, ditipu politikus, dan Continue reading

  • Slum di Jakarta : Kemunculan dan Penanganannya

    Memasuki kampung Kebun Tebu, Muara Baru, semilir angin laut biasa menyambut dengan membawa bau sampah yang telah membusuk dari pinggir danau Pluit maupun yang menyebar dari bawah rumah-rumah panggung penduduk. Nuansa kehidupan yang informal juga memperlihatkan keceriaannya. Kampung Kebun Tebu terletak di tepi timur danau Pluit, Jakarta Utara, memanjang sejauh 4.500 meter. Permukiman warga Kebun Continue reading

  • Suatu Ketika di Stasiun Poncol ( untuk mas K)

    Mungkin kamu sengaja duduk di dekatku waktu itu. Mungkin kamu terpengaruh pembicaraanku dengan perempuan pemilik warung makan di pojok selatan Stasiun Poncol, Semarang. Kamu menyapa dengan pertanyaan klise, sebuah pertanyaan pembuka bagi percakapan antar penumpang di seluruh Jawa, “Badhe tindak pundi?” Setelah kujawab dan sebagai ungkapan perhatian terhadapmu, pertanyaan tersebut kusampaikan balik padamu. Bentuk wajah Continue reading

  • Pindahan Lagi

    Apa yang tersisa setelah kita mengangkuti semua barang dan bersiap meninggalkan kontrakan lama menuju tempat baru? Yang pasti ada seorang teman tidak mau repot menjawab pertanyan itu, karena dia tidak pernah repot angkut-angkut barangnya. Kalau pindahan kos, barangnya banyak ditinggal untuk tetangga kos-nya. Biasanya hanya sedikit pakaian, beberapa buku dan barang elektronik saja yang dibawa. Continue reading

  • Orang pinggiran dan Seorang Sahabat Pembelanya

    Ada kegembiraan tersendiri ketika menempuh perjalanan dari  Tangerang ke Depok dengan bus AgraMas  setiap pagi.  Bus warna merah tersebut  jurusan Tangerang -Cikarang, tidak sampai Depok,  sehingga aku harus  turun di Pasar Rebo dan setelah itu melanjutkan dengan angkot dan kereta.  Aku biasa memilih duduk di deretan sebelah kiri mepet dengan kaca, dengan demikian  bisa jelas Continue reading