coretan kebun belakang

tentang kawan, buku, perjalanan


coretan

  • Franky di Halaman Rakyat, di Perkampungan Bunga

    Beberapa tahun lalu, saya termasuk orang yang menyayangkan perubahan yang terjadi dalam  diri Franky Sahilatua. Hati saya seperti mengatakan,”Mengapa orang yang dikarunia talenta besar dalam bermusik sekarang malah sibuk dalam hiruk pikuk perpolitikan negeri ini”. Saya takut dia akan bernasib seperti idola saya yang lain, Rhoma Irama. Continue reading

  • Kekerasan dan Budaya Kehormatan Diri

    Akhir tahun lalu dalam sebuah diskusi di sebuah sessi pelatihan menulis etnografi di Makassar yang diadakan Yayasan Desantara dan LAPAR Makassar, Pak Bambang dari jurusan Sejarah UNHAS menyinggung tentang pemahaman yang keliru sebagian orang terhadap Siri’. Akibat dari pemahaman yang keliru atau hanya sebatas permukaan tersebut adalah munculnya kekerasan di masyarakat. Saya tidak tahu apakah Continue reading

  • Pak Adil dan Segala Keribetan Kami*

    Wajahnya sekilas mengingatkan saya pada Mang Udel, pemilik losmen di sinetron Losmen yang terkenal pada era 80-an, yang sangat piawai memainkan ukulele. Kali ini bukan ukulele yang jadi pegangannya setiap hari, tapi setir mobil. Namanya Pak Adil, yang sudah belasan tahun menjadi sopir di sebuah rental mobil. Usianya memang sudah lewat setengah abad, tetapi jangan Continue reading

  • Seorang Romo dari “Sicilia”

      Dia selalu mengidentifikasikan diri sebagai orang cerdas dan penuh muslihat. Setelah berhasil mengelabui teman-temannya, dengan bangga dan jumawa mengatakan, “ Lha agen  Mossad kok diremehkan.” Kalau tidak agen Mossad, ya sebagai mafia Sicilia atau IRA dia menyebut dirinya berasal. Saya percaya teman saya ini penuh muslihat tapi, kalau soal cerdas,nanti dulu. * Saya mengenalnya Continue reading

  • Daeng-daeng dari Tamalate

    kangen uplink (1) Jalan Andi Tonro tidak berubah sejak tiga setengah tahun lalu. Tidak pula ingatan saya terhadap kampung di sebelah utara dan selatannya. Kampung tersebut masuk kelurahan Pa’Baeng-baeng, kecamatan Tamalate, Makassar. Di kecamatan Tamalate inilah, terutama di kelurahan Pa’Baeng-baeng, Maccini Sombala dan Parang Tambung, perempuan-perempuan penggerak Komite Perjuangan Rakyat Miskin (KPRM) berada. Kemarin lalu, Continue reading

  • Kerupuk Gendar dan Kualitas Hidup di Jakarta

    Hari Senin 25 Oktober 2010 lalu saya menjadi bagian dari ratusan ribu, mungkin jutaan, manusia yang tersiksa karena kemacetan dan banjir yang menimpa Jakarta. Tak terbayang sebelumnya bahwa hari itu menjadi bagian dari sederet daftar hari terburuk selama tinggal di Jakarta dan sekitarnya. Senin itu saya sengaja keluar kantor lebih pagi untuk mengambil barang titipan Continue reading

  • Radang Usus Buntu dan Slow Food Movement

    Tidak ada yang aneh ketika saya sampai di Jogja tanggal 17 April lalu untuk menepati janji menjadi salah satu narasumber di pelatihan kader dasar PMII UGM. Tidak juga kebetulan jika malam setelah acara pelatihan itu dan dilanjut sehari setelahnya seorang kawan mengajak berbincang tentang banyak hal di kantor Lafadl. Perbincangan kami hari itu tentu tidak Continue reading

  • Pekerjaan yang Pedih

    Suatu waktu di tahun 1999 saya mendengar semacam pengakuan dari Mas G.M. Sudarta tentang profesi yang dilakoninya sebagai  kartunis.  Menurutnya, bekerja sebagai kartunis adalah pekerjaan yang sedih. Tiap hari dia harus berfikir, menghayati, dan menggambarkan kondisi buruk yang dialami bangsa.  Tentang mereka yang kelaparan, kebanjiran, digusur, terkena wabah penyakit, tertimbun tanah longsor, ditipu politikus, dan Continue reading

  • Slum di Jakarta : Kemunculan dan Penanganannya

    Memasuki kampung Kebun Tebu, Muara Baru, semilir angin laut biasa menyambut dengan membawa bau sampah yang telah membusuk dari pinggir danau Pluit maupun yang menyebar dari bawah rumah-rumah panggung penduduk. Nuansa kehidupan yang informal juga memperlihatkan keceriaannya. Kampung Kebun Tebu terletak di tepi timur danau Pluit, Jakarta Utara, memanjang sejauh 4.500 meter. Permukiman warga Kebun Continue reading

  • Suatu Ketika di Stasiun Poncol ( untuk mas K)

    Mungkin kamu sengaja duduk di dekatku waktu itu. Mungkin kamu terpengaruh pembicaraanku dengan perempuan pemilik warung makan di pojok selatan Stasiun Poncol, Semarang. Kamu menyapa dengan pertanyaan klise, sebuah pertanyaan pembuka bagi percakapan antar penumpang di seluruh Jawa, “Badhe tindak pundi?” Setelah kujawab dan sebagai ungkapan perhatian terhadapmu, pertanyaan tersebut kusampaikan balik padamu. Bentuk wajah Continue reading