coretan kebun belakang

tentang kawan, buku, perjalanan


Catatan Perjalanan ke Kathmandu (2)

Catatan lanjutan ini sudah  saya niatkan untuk tidak menceritakan hal-hal yang dibahas di dalam ruang pertemuan Konferensi APMDD, terlalu berat. Saya mau yang ringan-ringan saja. Apalagi saya nulisnya di waktu grup-grup Whatsaap dan medsos masih dipenuhi pisuhan-pisuhan atas penobatan Soeharto menjadi pahlawan.

Selama di Kathmandu, saya biasanya melewati pagi hari, sebelum sarapan, dengan jalan kaki di seputaran hotel. Melewati gang di depan hotel yang kiri-kanannya  adalah toko cinderamata, resto kecil, dan kios penukaran uang.  Ujung dari gang tersebut adalah jalan besar, Lazimpat namanya. Kadang saya mengambil jalan ke arah kiri, di lain hari mengambil yang ke kanan. Trotoar di sekitar hotel Radisson, Kathmandu, tidak begitu nyaman buat jalan kaki. Banyak yang tidak terpelihara, tidak rata dan pecah. Jika menemukan trotoar yang seperti itu, saya memilih menyusuri jalan raya Lazimpat, bukan di trotoarnya.

Pemandangan di jalan raya Lazimpat di Kathmandu dengan papan petunjuk arah ke Jamal, Durbar Marg, dan Naya Bazar.

Sampah-sampah kalau pagi tumpah dan berserakan di jalan-jalan depan pertokoan, bukan disebabkan oleh anjing, kucing, atau angin, tapi burung gagak yang mengobrak-abriknya. Burung gagak dihormati dan dianggap sebagai utusan dewa untuk memberi kabar, entah kabar baik maupun buruk. Maka agar kabar yang dibawa burung gagak adalah kabar baik, maka orang harus berbaik-baik pada burung gagak. Termasuk tidak mengusiknya kala mengobrak-abrik sampah.

Suhu udara di bulan Mei tidak terlalu dingin, jadi enak untuk jalan kaki. Seperti halnya yang sekarang lagi menjamur di kota-kota di Indonesia, banyak orang yang berlari pagi atau setidaknya berjalan kaki di hari Sabtu dan Minggu di Kathmandu. Selain Sabtu dan Minggu, pagi-pagi jakan dipenuhi kendaraan orang-orang yang mau masuk kerja atau mengantar anak-anak sekolah. Di kawasan-kawasan yang dekat tempat wisata, banyak mangkal taksi-taksi dengan kondisi mobil yang sudah lawas, dan terlihat juga saling serobot jalan.

Selain menyusuri jalan-jalan di sekitar hotel, saya juga mencoba masuk ke gang dan menyusuri sebuah kampung kota.  Seperti kampung-kampung di Jakarta, ada juga rumah yang berfungsi juga sebagai toko kelontong, namun kalau di Kathmandu ini hampir setiap rumah/toko ada sesajen yang diletakkan di depan rumah. Ada pula kuil tempat sembahyang umat Hindu di kampung itu. Banyaknya anjing kadang membuat ragu untuk terus berjalan di kampung kota di Kathmandu, yang pada akhirnya saya memutuskan untuk keluar dan mengambil langkah ke jalan raya lagi. Tapi, secara umum jalan pagi tetap menyenangkan, apalagi di tempat-tempat yang belum pernah saya datangi.

Di hari ke-4 pelaksanaan konferensi, ada sesi field trip ke Bhaktapur Durbar Square, sebuah alun-alun di antara 3 alun-alun kerajaan yang terletak di Lembah Kathmandu, Nepal. Alun-alun ini merupakan bagian dari kompleks bekas istana Kerajaan Dinasti Malla, yang  dibangun pada abad ke-13 oleh Jayasithi Malla.

Dua baris rombongan yang antri untuk memasuki Bhaktapur Durbar Square

Ketika akan masuk ke kompleks, kami harus membeli tiket dahulu, yang dikoordinasi oleh panitia. Rombongan peserta konferensi di bagi dalam 2 baris yakni, baris peserta yang berasal dari Asia Selatan dan baris peserta yang bukan dari Asia Selatan. Untuk pengunjung yang berasal dari Asia Selatan harga tiketnya lebih murah, itulah makanya peserta konferensi dibagi dalam dua baris agar mudah menghitung harga tiketnya.

Setelah selesai pembelian tiket, kami diminta masuk kompleks dengan melewati sebuah gerbang atau gapura dan ditemani oleh seorang pemandu yang dengan bersemangat menjelaskan sejarah, nama-nama bangunan dan fungsinya, serta kerusakan-kerusakan yang terjadi akibat beberapa kali gempa bumi yang mengguncang Nepal. Kalau pemandu berhenti, rombongan kami seperti membuat lingkaran merubung pemandu tersebut untuk mendengarkan penjelasan tentang kompleks Durbar Square.

Rombongan kami sedang mendengarkan penjelasan pemandu wisata terkait apa yang ada di Bhaktapur Durbar Square

Dalam field trip ini saya kadang ikut rombongan mengerubungi pemandu, tapi seringkali memisahkan diri karena ingin memanjakan mata, melihat bangunan-bangunan yang indah seninya, dengan komposisi antara batu bata merah dan kayu-kayu berukir. Kami berjalan melihat candi-candi berserta ornamen di dindingnya, istana 55 pintu, patung-patung, tempat pemandian raja, dan lain sebagainya. Ada beberapa tempat yang kami tidak boleh mengambil foto

Detail arsitektur tradisional di Bhaktapur Durbar Square, menampilkan ukiran kayu yang rumit dan struktur bangunan bersejarah.

Untuk pulangnya, keluar dari kompleks yang menuju parkiran mobil, kami melewati perkampungan kota lama dan toko-toko yang menjual pelbagai macam cinderamata. Tapi tentu tidak bisa terlalu lama berhenti di sebuah toko, karena bisa ketinggalan rombongan.  Setelah berjalan melewati gang-gang, akhirnya kami sampai di lokasi awal sebelum masuk kompleks. Kemudian kami menuju lokasi parkirl mobil travel dengan rute yang sama.

Toko-toko penjual cinderamata di sekitar Bhaktapur Durbar Square

Menurut saya, field trip ini terlalu sebentar. Masih banyak hal yang belum dilihat dan diketahui tentang Bhaktapur Durbar Square. Tapi ya bagaimana lagi, lha memang ini acara selingan dari konferensi, bukan serius wisata apalagi belanja. Seorang kawan dari Indonesia bilang, “Nanti kalau soal belanja oleh-oleh atau cinderamata, kita ke Thamel saja, di sana lebih murah”.

Kami akhirnya, sehari setelah dari Bhaktapur Durbar Square, memang ke Thamel. Thamel merupakan sebuah kawasan perbelanjaan di Kathmandu yang menjual pelbagai macam cinderamata khas Nepal juga perlengkapan mendaki gunung. Saya dua kali ke Thamel, pertama pada malam hari ke-5 bersama 6 kawan dari Indonesia, sedangkan yang kedua pada 21 Mei 2025. Kunjungan kedua ke Thamel ini bersama Mas Yuyun, Sawung, dan Wicak. Kali ini sangat puas menikmati Thamel, karena punya waktu dari pagi sampai sore, sekalian berjalan menuju dan menelusuri Hanuman Dhoka Durbar Square. Hari itu hari terakhir di Kathmandu, jadi sisa-sisa uang saku kami habiskan di situ.

Aneka resto dan toko-toko di Thamel

Berjalan dari kawasan Thamel ke Hanuman Dhoka Durbar Square, benar-benar capek tapi menyenangkan. Mas Yuyun dan Sawung selama di Thamel senang sekali mampir ke toko peralatan mendaki, karena mereka memang pencinta alam. Banyaknya toko untuk adventure atau peralatan mendaki tak bisa dilepaskan karena puncak gunung tertinggi di dunia memang ada di Nepal, yakni Mount Everest. Jadi, para calon pendaki pasti banyak membutuhkan peralatan untuk naik ke puncak Everest, entah itu jaket, sleeping bag, sepatu, dan lain sebagainya.  

Kuil dan bangunan-bangunan di Hanuman Dhoka Square

Sedangkan Hanuman Dhoka Square hampir seperti di Bhaktapur  Durbar Square, yakni bangunan istana kuno, bangunan kuil atau candi-candi tempat beribadah, patung-patung, kemudian museum, dan tentu saja alun-alun kecil atau halaman tempat lalu lalang dan orang berkerumun. Kami juga sempat berhenti di situ, melihat-lihat bangunan dan orang-orang, kemudian berfoto-foto.

Setelah sempat mampir ke sebuah cafe, dan duduk di lantai dua untuk ngopi dan melepas haus sambil melihat orang-orang berlalu-lalang, kami kemudian pulang ke hotel dengan taksi butut yang kami tawar ongkosnya sebelum naik. Malamnya kami pulang ke Jakarta, meninggalkan Kathmandu dengan perasaan biasa-biasa saja…



Tinggalkan komentar