Setelah selesai satu angkatan dalam memfasilitasi pelatihan bagi petani nilam di desa Botteng, Mamuju, Sulawesi Barat, perjalanan kami berlanjut ke Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara. Perjalanan ini dipercepat karena tim yang akan melakukan pelatihan di Majene ditunda karena warga petani yang akan menjadi peserta pelatihan sedang panen nilam, sehingga mereka tidak bisa mengikuti pelatihan nantinya. Daripada menganggur, maka disepakati tim Majene ikut memfasilitasi di Mamuju. Pelatihan di Mamuju yang ada 4 batch dibagi atau ditangani oleh 3 tim fasilitator. Saya dan Kak Emmy mendapat 1 batch dan setelah itu melanjutkan fasilitasi pelatihan di Kabupaten Buton, tepatnya di Desa Lasembangi, Kecamatan Lasalimu.
Pada 21 Februari 2025 jam 12.20 pesawat kami berangkat dari bandara Tampa Padang, Mamuju menuju Makassar untuk transit dan ganti pesawat, terus berlanjut ke Bau-Bau. Sewaktu check-in di Tampa Padang, kami mengurus agar, walaupun pesawat transit di Makassar, bagasi bisa langsung sampai Bau-Bau, tidak usah diturunkan. Selama transit di Bandara Hasanuddin Makassar, kami sempat sholat dan makan siang di Harissa resto yang menyediakan makanan khas Madura. Kami memesan soto.
Sampai di Bandara Betoambari, Bau-Bau, kami menunggu jemputan kawan Kak Emmy, Yani namanya, seorang Tenaga Ahli Kabupaten, Kementerian Desa. Setelah menunggu beberapa menit, Yani datang naik motor bersama kawannya. Dia bilang mobil nanti dibawa oleh Azas, kawannya seorang pendamping desa yang akan mengantar kami dari Bau-Bau ke desa Lasembangi. “Kalau tidak ada acara di Kendari, saya akan ikut ke Lasembangi,” kata Yani. Dia akan ke Lasembangi nanti setelah urusan di Kendari kelar. Tak seberapa lama Azas datang, kami segera memasukkan koper dan tas ke mobil serta pamitan ke Yani, dan meluncur menuju Lasembangi.
Perjalanan dari Bau-Bau ke desa Lasembangi menyusuri jalan poros sisi utara yang melewati desa Nambo, Lawele, Kamaru, hingga Lasembangi. Selama perjalanan di kiri atau kadang di kanan, bahkan di kiri dan kanan bukit-bukit dengan pohon-pohon tinggi terus mengiringi. Kami berhenti sejenak di Bukit Wantiro, untuk melihat matahari tenggelam di ujung lautan sambil menikmati Saraba’, kopi susu dan gorengan. Tentu saja kami berfoto-foto. Selesai itu kami meneruskan perjalanan dan kemudian berhenti di sebuah masjid untuk sholat Maghrib.

Sepanjang jalan menuju Lasembangi kami ditemani alunan musik dari sebuah CD yang menyajikan lagu-lagu campur-aduk. Ada Welcome to The Jungle-nya Gun ‘N Roses, Future World milik Helloween, Candle in the Wind dari Elton John. Ada pula lagu dengan irama melayu yang entah siapa penyanyinya. Ya gak papalah daripada sepi, karena kami juga capek untuk sekedar berbicara.
Sekitar jam 20.30 kami sampai di desa Lasembangi. Kak Emmy mengusulkan kami makan dulu di sebuah warung, namanya warung Mama Dimas. Kami berhenti di depan warung tersebut, namun warung sudah tutup. Kak Emmy turun dan coba masuk dari samping warung. Kak Emmy memberitahu bahwa Mama Dimas bilang tuan rumah sudah menyiapkan kita makan malam, jadi langsung saja ke rumah Pak Alam. Kak Emmy sudah kenal banyak orang di sini, karena beberapa bulan sebelumnya pernah melakukan assesment dan mewancarai beberapa warga.
Pak Alam adalah seorang petani nilam sekaligus pengepul minyak nilam (patchouli oil) yang juga mempunyai tempat penyulingan minyak. Dia anak mantan Kepala Desa Lasembangi dua periode, warga biasa memanggilnya Opa. Rumah Pak Alam tidak seberapa jauh dari warung Mama Dimas, sekitar 300 meteran. Di rumah Pak Alam inilah Kak Emmy akan menginap selama di Lasembangi.
Memasuki rumah Pak Alam, ada bau yang aneh yang belum pernah saya cium sebelumnya. Baunya seperti memenuhi seluruh rumah. Tidak wangi, tapi juga tidak mengganggu. Perhatian saya tertuju pada beberapa orang yang ada di dalamnya. Ternyata di rumah pak Alam sudah ada Eva, Field Officer (FO) dari Program Asppuk dan Pak Todi, perwakilan dari Givaudan, korporasi yang membeli minyak dari petani nilam. Setelah berkenalan dengan mereka dan tuan rumah, mbak Muli dan Pak Alam, kami dipersilakan untuk makan malam bersama. Kami menyantap konro, masakan dari mbak Muli yang resepnya didapatkan dari Mama Dimas.
Mulai malam itulah kami tinggal di Lasembangi untuk sembilan hari ke depan. Kak Emmy menginap di rumah Pak Alam, bersama Eva. Sedangkan saya, untuk sementara, di rumah sebelahnya, rumah panggung kepunyaan Pak Haji (kakak dari Opa) yang kini ditinggali anaknya. Setelahnya saya juga beberapa kali menginap di rumah Opa bersama Pak Todi sampai pelatihan usai.
***
Lasembangi merupakan salah satu desa di Kecamatan Lasalimu, yang daerahnya berada dalam cekungan yang dikelilingi bukit-bukit dengan pohon-pohon yang rindang. Nampak indah sekaligus berbahaya. Indah karena sejauh mata memandang nampak bukit-bukit hijau, dan seringkali berkabut kalau pagi hari atau setelah hujan turun. Berbahaya jika pohon-pohon di bukit itu habis, karena bencana tanah longsor serta banjir bisa terjadi jika hujan deras.
Di sebelah utara, Desa Lasembangi berbatasan dengan Desa Talaga Baru dan Kelurahan Kamaru, di sebelah selatan berbatasan dengan kawasan Hutan Negara, sebelah barat berbatasan dengan Kawasan Hutan Negara dan Kelurahan Kamaru, dan di sebelah timur berbatasan dengan Desa Wasuamba dan Desa Bonelalo.
Desa Lasembangi dibelah oleh jalan poros Pasar Wajo, begitu warga desa di situ menyebut. Menurut keterangan Opa (ayah Pak Alam), jalan poros itu baru tembus ke Lasembangi pada tahun 2018, sebelumnya hanya sampai Kelurahan Kamaru. Sehingga dulu Desa Lasembangi begitu terisolir, sepi, maka tak heran banyak warga transmigran yang pindah ke wilayah lain. Opa sendiri berasal dari Wakatobi, dan sudah sekitar 30 tahun tinggal di Lasembangi. Dulu kalau dari Bau-Bau akan ke Lasembangi, angkutan hanya sampai kelurahan Kamaru, terus dilanjut dengan jalan kaki yang mencapai 6 sampai 7 kilometer jauhnya.

Sebelum nilam menjadi primadona di Lasembangi, dulu pendapatan utama warga dari menanam padi, sayur-sayuran, kelapa, dan jeruk. Seiring dengan naiknya harga nilam, maka banyak warga yang kemudian menanam nilam. Apalagi perawatannya tidak terlalu susah. Kini hasil dari bertanam nilam menjadi pendapatan utama sebagian besar petani di Lasembangi.
Petani-petani nilam biasanya setelah panen akan menjemur nilamnya di kebun atau di rumah, tapi tidak boleh langsung terkena sinar matahari. Makanya banyak yang membuat semacam kanopi di kebun-kebun untuk menjemur nilam. Nilam tidak boleh basah atau terlalu kering jika akan disuling, karena bisa menyebabkan berkurang minyaknya dan kurang baik kualitasnya. Setelah disuling, mereka akan membawa minyak hasil sulingan ke rumah Pak Alam sebagai pengepul (koordinator) sekaligus perantara antara pihak petani dengan Givaudan sebagai pembeli. Pada saat itu biasanya Pak Alam akan menginformasikan berapa harga per kilonya sekarang. Harga minyak nilam gampang berubah, tergantung perkembangan harga internasional. Namun, menurut Pak Alam, kalau lewat Givaudan perubahan harganya tidak terlalu drastis.
***
Setelah sehari bermalam di Lasembangi, esoknya langsung memfasilitasi pelatihan untuk batch 1. Sebelumnya undangan telah disebar ke peserta oleh Mbak Muli, atau biasa dipanggil Mama Dila. Setahu kami sebagai tim fasilitator, pelatihan dimulai jam 10 pagi, ternyata undangannya jam 9. Jadi ketika kami datang ke balai desa sebagai lokasi pelatihan, beberapa peserta sudah ada di situ. Peserta yang datang 18 orang, perempuan semua dari Desa Lasembangi. Mulai hari itu dan hari-hari selanjutnya semuanya berjalan lancar, alhamdulillah. Demikian juga dengan pelatihan batch 2 yang pesertanya selain dari Lasembangi juga dari Kamaru. Hanya kadang-kadang hujan pas di siang hari yang menyebabkan peserta terlambat datang, karena hujan pas ketika peserta istirahat pulang.

Mulai hari ke-3 pelatihan, fasilitator dan FO makan siangnya khusus, tidak makan dengan nasi bungkusan, namun langsung ke warung Mama Dimas dengan menu khusus. Karena peserta rata-rata lebih memilih ayam sebagai lauk makan siang karena setiap hari sudah makan ikan, sedangkan kami lebih memilih ikan. Selain makan siang, pada waktu makan malam pun kami makan di warung Mama Dimas, selain enak juga satu-satunya warung makan di sekitar tempat kami menginap. Semua masakannya enak, baik mie ayam, gado-gado, ikan parende, atau konro.
Ketika menunggu makanan tersedia, kami manfaatkan untuk mengobrol, apa saja. Seringkali obrolan berlanjut ketika jalan kaki pulang ke tempat menginap, bahkan berlanjut setelah sampai rumah Pak Alam maupun di rumah panggung Pak Haji. Biasanya kalau di tempat Pak Alam, ruang tamu menjadi tempat utama untuk ngobrol. Selain itu juga di beranda pojok depan rumah yang ada ayunan yang bisa digunakan untuk duduk. Kalau di rumah panggung Pak Haji, kami biasa ngobrol di teras lantai atas.

Di sela-sela pelatihan kami sempatkan untuk berlibur ke pantai Koguna, yang terletak di Desa Mopaano, Lasalimu Selatan. Kami diantar oleh Pak Todi dari Givaudan, yang sudah pernah ke Pantai Koguna bersama keluarga Pak Alam. Perjalanan sekitar 1 jam dari Lasembangi ke Pantai Koguna. Pantainya indah dengan pasir putih menghampar luas dan airnya bersih. Sekitar 200 meter dari pantai ada danau kecil tempat udang merah berada. Udangnya tidak seberapa besar, tapi yang menjadi keunikannya adalah warnanya yang merah pekat.

Sehari menjelang pelatihan batch 2 berakhir, kami juga mengunjungi tempat yang pemandagan lautnya indah sekali. Awalnya kami diundang Mbak Winarti, salah seorang peserta di batch 1, untuk datang ke rumah orang tuanya di Desa Bonelalo dalam rangka semacam doa bagi arwah leluhur menjelang dimulainya puasa Ramadhan. Kami bertiga diantar Syakir, ponakan dari Azas. Sesampai di Bonelalo, keluarga mbak Winarti masih menyiapkan makanan untuk doa arwah. Sambil menunggu, kami diajak Mbak Winarti ke Desa Talaga Baru, desa sebelah tempat bermukim warga dari suku Bajo. Pemerintah menetapkan mereka sebagai Komunitas Adat Terpencil (KAT). Kami menelusuri jalan di antara rumah-rumah panggung milik mereka yang riuh dengan anak-anak dan sesekali berhenti untuk berfoto atau melihat laut yang nampak di sela-sela bangunan rumah. Ketika matahari beranjak tenggelam, langit berubah warna, kami memutuskan untuk balik ke Bonelalo, rumah mbak Winarti.

Sampai di rumah Mbak Winarti, kami masih menunggu kedatangan Imam, orang yang memimpin ritual doa untuk arwah keluarga. Beberapa jenis makanan sudah disiapkan, disamping itu juga ada dupa. Ketika Imam datang, mulailah upacara mendoakan arwah dengan doa-doa yang diambil dari Al-Qur’an, terutama surah Al Fatihah. Setelah selesai berdoa dan Imam pamit pulang, maka makanan yang lebih lengkap dihidangkan. Ada kepiting, ikan bakar, opor ayam, nasi ketan, nasi putih, telur rebus, roti, dan masih banyak lagi. Kami makan dengan lahap…

Ketika pulang ke Lasembangi, kami mampir ke warung Mama Dimas. Awalnya saya tidak turun dari mobil, hanya Kak Emmy dan Eva yang masuk warung. Setelah beberapa waktu saya ikut turun dan Kak Emmy keluar warung sambil bilang, “Mama Dimas marah.” Hmm, saya sudah menduganya. Ya, kami memang salah. Mama Dimas sebenarnya juga mengundang kami untuk makan malam, sebuah pesta kecil untuk menyambut Ramadhan sekaligus perpisahan untuk kami yang akan pulang besok. Mama Dimas sudah memotong 5 ekor ayam kampung untuk itu. Tentu kami menyesal dan minta maaf. Hal ini bukan disengaja, karena acara di Bonelalo ternyata tidak sebentar. Mau pamit pulang tidak boleh sama Mbak Winarti, diminta tunggu sampai Imam datang dan setelah itu makan bersama. Sekali lagi, maaf Mama Dimas…
***
Sembilan hari berlalu begitu cepat. Setelah sesi terakhir pelatihan, kami berpamitan ke Pak Alam, Mama Dila, dan Pak Todi sebelum naik mobil. Syakir sudah bersiap mengantar kami ke Bau-Bau, sebelum esoknya kami melanjutkan ke Kendari.
Selamat tinggal Lasembangi. Waktu memang berlalu dengan cepat, hal-hal berubah dari hari ke hari. Namun, menurut seorang kawan baik, ada satu yang tetap, tidak kemana-mana. Abadi. Dirimu tahu itu…


Tinggalkan komentar