Walaupun sudah mengunjungi pelbagai wilayah di Indonesia, melakukan perjalanan ke wilayah-wilayah baru, merupakan hal yang menyenangkan sekaligus mendebarkan. Kira-kira apa yang akan terjadi di sana? Kondisi masyarakatnya bagaimana? Apakah semua rencana akan berjalan lancar? Beberapa pertanyaan itu muncul dalam pikiran saya ketika akan melakukan perjalanan ke Mamuju, Sulawesi Barat. Untuk mengurangi rasa penasaran itu, saya baca informasi tentang daerah tersebut, saya tonton video-video youtube tentang Mamuju dan sekitarnya. Rasa khawatir dan penasaran berkurang, apalagi teman-teman yang bersama saya semua bisa diandalkan.
Demikianlah, kami dari tim fasilitator ASPPUK untuk pelatihan bagi petani nilam tentang pencatatan keuangan dan peningkatan nutrisi di Sulawesi Barat dan Sulawesi Tenggara, berangkat ke Mamuju pada 16 Februari 2025. Ada 5 fasilitator yang berangkat dari Jakarta, sedangkan 1 orang berangkat lewat darat dari Makassar. Saya berangkat dari rumah menuju Bandara Soetta jam 3 dini hari, karena jadwal keberangkatan jam 5 pagi. Ini sudah terhitung kesiangan bangunnya, tidak sempat mandi apalagi sarapan.
Selama perjalanan ke bandara, teman-teman yang sudah tiba di bandara memberikan petunjuk di terminal dan gate berapa kami harus menuju. Sampai di bandara, Bang Joe dan kak Emmy sudah berada di antrian check-in Lion Group, tepatnya di konter 69. Menyusul kemudian Kak Ime, sedangkan Kak Thita masih di perjalanan. Sambil menunggu Kak Thita datang, kami berempat berjalan perlahan menuju gate keberangkatan Super Air Jet tujuan Balikpapan.
Sekitar jam 9.30 waktu Balikpapan pesawat tiba di Bandara Sepinggan (Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman). Hanya punya waktu 30 menit untuk pindah pesawat, tentu kami terburu-buru, apalagi sudah ada panggilan agar penumpang segera naik pesawat. Pesawat Wing Air jenis ATR72-500 yang kami tumpangi menuju Mamuju ukurannya kecil, mungkin ini digunakan untuk penerbangan jarak pendek. Pintu masuk pesawat dari belakang, tidak ada pintu masuk di depan.
Setelah masuk di dalam pesawat, kami dapat kursi bagian depan. Saya duduk berdampingan dengan Bang Joe, yang kemudian dia berseloroh, “Hati-hati kalau ke toilet, karena pintu toilet hanya pakai kain korden.” Memang ketika saya ke toilet pintunya sedang bermasalah, tidak bisa ditutup, namun bukan terbuat dari kain korden.
Ketika mengudara, pesawat terdengar berisik, karena baling-baling memang berada di dekat tempat duduk kami. Walaupun begitu saya tetap merasa nyaman. Karena duduk di dekat jendela, saya bisa melihat laut atau selat Makassar yang ada di bawah dengan kapal-kapal tongkang mengangkut batubara banyak sekali berjejer.

Sekira 50 menit, pesawat mendarat di Bandar Udara Tampa Padang, Mamuju. Cuaca terasa panas, apalagi harus berjalan di udara terbuka dari pesawat menuju gedung kedatangan penumpang. Kak Emmy langsung sigap memakai topi “Urban Future” berwarna krem atau coklat muda, agar wajahnya tidak terkena sinar matahari secara langsung.
Sampai di dalam gedung, kami langsung menuju ke bagian bagasi. Sambil menunggu koper datang, kami berlima berfoto bersama di depan tulisan “Welcome to Manakarra” dengan minta tolong anak muda yang kebetulan lewat.

Setelah koper-koper keluar dan kardus-kardus bawaan dari Jakarta telah kami bawa, kami menuju pintu keluar. Sudah ada mobil jemputan bagi kami. Ada dua mobil, yang satu disopiri oleh Pak Nengah, yang kemudian menjadi pengantar dan penjemput kami selama di Mamuju. Karena kami kelaparan, mungkin semua belum sarapan, maka diputuskan menunggu rombongan yang dari Makassar di sebuah resto yang bernama Cilacap Cafe & Eatery. Saya memesan mie rebus dan kopi Vietnam. Beberapa teman memesan ikan atau es jus. Ternyata porsi mie rebusnya banyak sekali, walaupun lapar namun saya tidak mampu menghabiskan mie tersebut.

Selain menunggu rombongan yang melakukan perjalanan dari Makassar, kami juga menunggu Bang Joe mengambil fotokopian bahan-bahan pelatihan yang softfile-nya langsung di kirim dari Jakarta ke tempat fotokopian itu. Tak berlangsung lama rombongan dari Makassar datang, beberapa dari kami sudah kenal mereka, sedang saya baru pertama ketemu. Saya berkenalan dengan mereka, dan mengingat-ingat namanya: Bang Ale (oh ini sudah familiar karena beberapa kali rapat zoom bersama), Asdar, Om Boy, dan…aduh satu lagi kok lupa (maaf).
Rencana awalnya tim ASPPUK ini akan dibagi ke 3 kabupaten: Mamuju, Mamasa, dan Majene. Setiap kabupaten ditangani 1 tim dengan 2 fasilitator, kecuali Mamuju karena ada 4 batch maka ada 2 tim yang akan menanganinya. Namun, dari Om Boy kami mendapat informasi bahwa untuk PCG Majene belum siap karena peserta pelatihan sedang panen nilam, dan mengusulkan nanti di minggu kedua Ramadhan pelatihannya. Karena tidak memungkinkan menunggu selama itu baru fasilitasi pelatihan, maka ada perubahan atau pembagian ulang lokasi pelatihan.
Awalnya Mamuju yang ada 4 kelas/batch dan ditangani 2 tim, akhirnya ditangani 3 tim. 2 batch berjalan paralel, hanya beda lokasi saja. Fasilitator dalam 2 tim yang di Mamuju adalah saya dan Kak Emmy, Kak Ale dengan Kak Thita. Sedangkan Bang Joe dan Kak Ime ke Mamasa.
Setelah fotokopian datang, dan bahan-bahan pelatihan dibagi untuk 3 tim, tak berapa lama Bang Joe dan Kak Ime langsung menuju Mamasa, takut kemalaman katanya. Sedang kami berempat dan teman-teman FO berangkat menuju rumah Pak Desa (Kepala Desa) Botteng.
Pak Desa sedang tidak di rumah, dan kami (khususnya Kak Ale dan Kak Thita) berdebat di mana sebaiknya kami menginap. Memang kalau menginap di rumah Kepala Desa atau warga, sepertinya tidak memungkinkan. Selain tidak ada kamar, ruangannya juga sempit jika dipakai kami menginap. Ada keluarga Pak Desa (anak-anaknya) yang juga akan memakai ruangan itu. Maka diputuskan mencari penginapan yang murah yang tidak terlalu jauh dari Desa Botteng. Atas saran dan petunjuk dari Pak Nengah, driver kami, kami mendapatkan penginapan yang murah dan nyaman di jalan Soekarno-Hatta, Mamuju. Namanya Hotel Cempaka.
Hari-hari selanjutnya di Mamuju, selain kami habiskan untuk memfasilitasi pelatihan, juga kami isi dengan sarapan nasi kuning di dekat hotel, atau makan siang di Warung Lamongan, belanja di pasar, makan durian di pinggir jalan, nongkrong di dekat kolam renang, dan ngopi di cafe. Semua terasa menyenangkan…

Tinggalkan komentar