coretan kebun belakang

tentang kawan, buku, perjalanan


Ke Braga, lagi…

Sebenarnya bukan saya yang seharusnya datang ke Bandung untuk mengikuti pertemuan koordinasi dan lokakarya rencana tahunan para mitra Oxfam-Penabulu Foundation, tapi karena koordinator JALA PRT lagi banyak agenda yang harus diikuti, maka saya yang diminta datang. Acara direncanakan mulai tanggal 20 sampai 24 Januari 2025, di Kimaya Braga Hotel.

Saya berangkat tanggal 19 Januari siang menggunakan travel, karena pilihan kereta api maupun kereta cepat terlalu jauh dari rumah. Tentu saja memilih travel yang nyaman, walaupun sedikit agak jauh. Dulu pernah ke Bandung menggunakan travel yang dekat dengan rumah, tapi malah mogok di jalan sehingga terlambat mengisi acara. Pengalaman buruk itu tidak mau saya ulangi lagi sehingga saya memakai travel yang sedikit lebih jauh pool-nya dan harganya lebih mahal. Tidak menjadi persoalan karena panitia bilang nanti biaya transportasi lokal maupun ke Bandung akan diganti.

Pool Cititrans paling dekat ada di Gading Serpong, sekira 45 menit dari rumah kalau naik taksi. Sudah 2 kali ini saya ke Bandung dengan Cititrans Gading Serpong. Yang pertama di awal 2024. Kala itu saya menjadi penumpang satu-satunya dari Gading Serpong sampai Dipati Ukur. Kali ini sampai Dipati Ukur hanya ada dua penumpang.

Sampai Bandung hujan semakin deras. Rencana awalnya mau naik ojek sampai ke Kimaya Braga, saya batalkan dan memilih naik taksi. 20 menitan dari Dipati Ukur sampai Kimaya Braga. Dan, untuk ketigakalinya saya sampai di Braga. Pernah satu kali hanya lewat, pernah pula mampir makan di sebuah resto, dan kali ini menginap sampai 5 hari.

Hotel Kimaya penuh karena ada rombongan karyawan pabrik farmasi dari Semarang, katanya ada 250 orang. Awalnya saya tidak tahu rombongan dari mana, tapi mereka seperti “menguasai” setiap lantai, termasuk di sebelah kiri-kanan-depan kamar saya. Mereka saling sapa dan gojegan dengan bahasa Jawa yang logatnya tidak asing bagi saya. Ketika esoknya waktu sarapan, saya tanya salah satu anggota rombangan, dia bilang dari pabrik farmasi di belakang Sam Po Kong, Semarang.

Saya mendapat kamar di lantai 15, kamar di lantai paling tinggi karena lantai 16 adalah roof top yang dipakai sebagai kolam renang. Kalau gorden jendela dibuka, akan nampak pemadangan menawan. Paling depan adalah Hotel Savoy Homann, kemudian di belakangnya rumah-rumah kampung, dan paling jauh adalah gunung dan bukit-bukit yang mengelilingi Bandung. Karena pemandangan yang menawan itulah gorden hanya saya tutup waktu malam saja.

Membuka gorden dan melihat Bandung dari lantai 15

Malam pertama di Kimaya Braga, tidak saya sia-siakan untuk menyusuri jalan Braga. Karena hari Minggu, sebagian jalan Braga ditutup bagi kendaraan, sehingga hanya bisa dilewati pejalan kaki. Hal ini hanya berlaku untuk weekend saja. Orang-orang tumplek-blek di jalan itu, menikmati malam dengan makan malam di tempat kuliner sepanjang jalan, atau menikmati hiburan musik, berfoto di photo booth terbuka, termasuk menonton rombongan Barongsai yang tampil di malam itu.

Salah satu sisi jalan Braga di waktu weekend

Saya bingung ketika memutuskan akan makan malam apa, karena terlalu banyaknya pilihan. Makan malam tidak disediakan panitia, namun nanti akan diganti pengeluarannya. Malam pertama itu saya memutuskan makan ayam penyet, tidak di jalan Braga tapi menyempal ke kiri ke jalan Suniaraja. Selesai makan, balik lagi ke jalan Braga dan pulang ke hotel.

Paginya selepas subuh, dan pagi-pagi seterusnya selama di Bandung saya gunakan untuk berjalan-jalan menyusuri seputaran jalan Braga. Hal ini seperti menjadi kebiasaan saya jika pergi sendirin dan menginap di luar kota. Apalagi menginapnya di sekitar tempat bersejarah seperti Braga.  

Di pagi pertama, saya berjalan menyusuri jalan Asia-Afrika. Udara dingin dan sejuk serta bangunan-bangunan masa kolonial di kiri kanan membuat lebih bersemangat untuk terus berjalan. Tempat-tempat kuliner di depan hotel yang kalau malam selalu ramai, banyak yang sudah tutup. Ada beberapa masih buka, misalnya “Jabarano Coffe”, namun nampak lengang. Gedung Museum Konperensi Asia Afrika nampak anggun dari pelbagai sisi.

Dari depan Museum Konperensi Asia Afrika, saya terus menyusuri jalan Asia Afrika sampai ke alun-alun. Sebelum itu di bawah jembatan penyeberangan sempat saya foto sebuah nukilan kalimat dari M.A.W. Brouwer: “Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum”.  Nukilan tersebut diambil dari tulisan Brouwer di sebuah koran nasional pada 10 Juli 1975 (pikiran-rakyat.com, 21/07/22).

Nukilan dari M.A.W. Brouwer tentang Bumi Pasundan

Setelah melewati alun-alun, saya belok ke kanan ke jalan Banceuy, yang di situ terdapat situs penjara Banceuy, tempat Bung Karno dipenjara dulu. Tempat Bung Karno membuat pledoi yang terkenal: Indonesia Menggugat.

Dari jalan Banceuy saya kemudian memutuskan pulang ke hotel. Arahnya tinggal belok kanan ke jalan ABC, terus lurus sampai jalan Naripan dan belok kanan lagi ke jalan Braga.

Besok paginya dan pagi selanjutnya juga saya gunakan untuk berjalan-jalan tapi dengan rute yang berbeda. Ada di suatu pagi pas sedang di jalan, hujan deras mengguyur, saya berteduh cukup lama di emperan toko yang masih tutup di jalan Braga. Walaupun berteduh sendirian, saya tidak merasa bosan, saya menikmati suasana pagi yang dingin itu sambil sesekali lelap dalam lamunan…

Pagi yang basah di Jalan Braga

Tentu tidak hanya jalan pagi yang menyenangkan selama di Bandung, pertemuan dan lokakarya Penabulu-Oxfam yang difasilitasi mbak Titik Kartika tentu saja juga menyenangkan dan mencerahkan, tapi akan saya tulis di lain kesempatan saja. Sudah ya.



Tinggalkan komentar