coretan kebun belakang

tentang kawan, buku, perjalanan


Perjalanan Ke Labuan Bajo

Pada bulan Juni tahun 2024 lalu, seorang kawan baik mengabari bahwa lembaganya akan melakukan pelatihan pengorganisasian komunitas di Manggarai Barat dan meminta saya untuk terlibat dalam memfasilitasi pelatihan tersebut. Tentu saja saya senang  dapat permintaan tersebut. Ada dua alasan kenapa saya senang: pertama karena memang saya punya pengalaman dalam memfasilitasi pelatihan pengorganisasian, dan kedua karena tempatnya di Labuan Bajo!

Sambil menyembunyikan kegembiraan karena dapat permintaan itu, saya jawab “ Okay, semoga waktunya pas bisa ya,” balasku di pesan whatsapp. Jawaban ini ada alasannya, karena tentu saya harus melihat jadwal di lembaga sendiri.  

Setelah beberapa bulan berlalu tidak ada kabar lanjutan soal pelatihan itu, pada Desember 2024 dapat kabar bahwa pelatihan akan dilakukan pada awal Januari 2025. Saya kemudian minta ijin ke koordinator lembaga saya, dan diperbolehkan.

Saya berangkat pada 5 Januari siang,bersama Kak Emmy, Direktur ASPPUK, dari bandara Soekarno-Hatta. Sempat panik karena baru duduk di pesawat dan mencari handphone untuk kusetel mode pesawat, namun tidak ada.  Ah, paling ketinggalan di ruang tunggu, batinku. Saya keluar pesawat lagi dan langsung menuju ruang tunggu. Dan memang ada di situ.

Perjalanan menuju Labuan Bajo awalnya lancar-lancar saja, bahkan saya sempat tidur. Namun ketika akan mendarat, ternyata cuaca tidak memungkinkan karena angin kencang dan berkabut. Pesawat setidaknya sampai tiga kali balik berputar baru bisa mendarat.

Bandara Komodo, Labuan Bajo, tidak seberapa besar, mungkin seluas Bandara Adi Sutjipto, Yogyakarta. Bersih dan cat-nya masih cemerlang. Seperti tampak jejak renovasi menjelang KTT ASEAN pada Mei 2023 lalu. Karena tidak luas dan penerbangan juga jarang, maka kami dengan cepat pula keluar bandara, dengan sebelumnya pesan kendaraan untuk mengantar ke hotel.

Pelatihan dilaksanakan di Hotel Pavilla, sebuah hotel yang sederhana namun bersih. Saya menginap di situ juga. Tanggal 5 malam, sehari sebelum pelatihan, ada diskusi kecil tentang persiapan pelatihan dengan Oma Beti, Didi Nadas, dan Kak Emmy. Semua perlengkapan disiapkan dengan baik oleh Oma Beti dan Didi Nadas, yang keduanya selain panitia lokal juga pendamping kelompok. Peralatan sound system juga dipersiapkan, selain speaker untuk mengeraskan suara juga TV besar yang bisa  disambungkan ke laptop, sehingga bisa untuk menampilkan materi dan tentu karaoke. Sejak malam itu, musik dan lagu-lagu karaoke terus mengalir dari samping kamar saya…

Di tengah kondisi tubuh belum fit benar, akibat flu berkepanjangan, saya tetap bersemangat agar pelatihan ini benar-benar lancar dan sesuai target. Walaupun rancangan alur, proses dan materi sudah saya siapkan, namun setiap malam tetap saya timbang-timbang apakah perlu diganti atau tambahi. Dalam pikiran saya, hari pertama pasti yang paling berat, selain materinya juga peserta masih dalam proses penyesuaian.

Bisa dikatakan pelatihan terselenggara dengan baik dan lancar. Ada 29 peserta yang berasal dari 3 desa: Gorontalo, Golo Bilas, dan Wae Kelambu. Tiga desa tersebut berada di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat. Saya beruntung karena panitia sigap membantu dan peserta juga semangat dan punya komitmen tinggi untuk mengikuti pelatihan dengan sebaik-baiknya. Mereka benar-benar ingin belajar dan memahami apa yang disampaikan. (Catatan tentang pelatihan ini akan saya buat di tulisan yang berbeda)

Peserta pelatihan sedang melakukan diskusi kelompok

Sarapan dan makan siang disediakan di tempat pelatihan, tapi kalau malam tidak disediakan sehingga harus mencari makan di luar. Ada warung yang masakannya enak di dekat tempat pelatihan, penjualnya dari Lamongan. Tentu saja ada soto dijual di situ, ada juga tahu tek dan ayam penyet. Beberapa pembeli yang datang saya kira juga dari Jawa Timur, dengan memperhatikan bahasa yang digunakan dan plat motor yang dikendarai: dimulai dengan huruf S.

Ada satu malam kami makan agak jauh, di pinggir pantai Kampung Ujung. Lokasi ini memang pusat kuliner, khususnya untuk makanan laut. Dari sini sambil makan kita bisa melihat kapal-kapal bersadar, pulau-pulau di seberang dan gemerlap cahaya hotel-hotel yang berada di pinggir pantai. Kenyang sekali kami malam itu…

Sehari setelah pelatihan, ada sedikit waktu yang bisa digunakan untuk keliling kota sebelum ke bandara untuk pulang. Jadwal keberangkatan pesawat jam 13.40, setidaknya ada beberapa jam untuk menikmati Labuan Bajo. Sekitar jam 6.30, Om John sudah datang untuk menjemput. Selain sebagai driver, Om John juga pemandu yang baik. Tidak hanya tahu tempat yang bagus untuk berfoto, namun juga ahli dalam mengambil foto.

Cakrawala pagi di Bukit Amelia

Bukit Amelia adalah tempat yang pertama kami datangi. Setelah Om John memarkir mobilnya di tanah datar, kami kemudian berjalan menanjak sedikit. Setelah itu nampaklah lautan membentang dikelilingi bukit-bukit. Mungkin karena kami datang pagi, sehingga langit masih membiru di cakrawala dan laut nampak biru keputihan, seperti campuran antara putihnya awan, birunya langit, dan terangnya matahari.

Pantai Waecicu di pagi hari

Destinasi kedua yang kami datangi adalah pantai Waecicu. Untuk sampai ke pantai perlu melewati jalan menurun yang aspalnya sudah mengelupas dan sebagian bolong, seperti terseret air ke bawah. Pantai masih sepi. Warung dan resto masih tutup. Kapal-kapal masih bersandar. Namun begitu, keindahan pantai Waecicu tidak bisa disembunyikan. Batas cakrawala seperti luruh, tidak ada beda warna langit dengan air laut. Saya berharap siang jangan cepat datang. Setelah puas ambil foto dan video, kami melanjutkan ke Gua Cermin.

Tempat parkir kendaraan cukup luas dan nyaman, mungkin  karena pada 2021 kawasan Gua Cermin ditata kembali oleh Kementerian PUPR. Ketika kami datang loket sudah buka namun penjaga loket belum datang sehingga kami belum bisa beli tiket. Om John bilang gak papa, kita masuk dulu bayar belakangan. Om John juga pinjam senter ke salah satu petugas kebersihan di situ. Mulailah kami berjalan menuju Gua Cermin. Kami berjalan seperti menyusuri lorong yang kiri-kanannya semak dan pepohonan, khususnya bambu, yang seringkali pohon-pohon bambunya melengkung membentuk terowongan.

Sebelum sampai ke Gua Cermin, kami singgah ke Batu Payung untuk berfoto. Entah bagaimana sejarahnya, Batu Payung merupakan batu besar yang tersusun membentuk huruf T, atau seperti payung dengan tinggi sekitar 7 meter. Setelah selesai berfoto, kami menuju gua cermin.

Suasana pagi di Batu Payung

Kami tidak masuk terlalu dalam. Hanya di sisi luar, karena kalau masuk ke dalam gua butuh waktu yang lama dan ruang masuknya sempit yang bisa membuat pakaian kotor, padahal ini kan mau pulang ke Jakarta. Walaupun di luar, sebenarnya suasana dan nuansa yang ada tetaplah indah. Kita bisa melihat sinar matahari masuk dan memantul dari dinding ke dinding seperti ada cerminnya, karena hal inilah gua ini dinamai Gua Cermin. Dan foto-foto indah pun tercipta…

Nampak sinar matahari memantul dari dinding ke dinding di Gua Cermin

Setelah dari Gua Cermin kami melanjutkan perjalanan ke beberapa tempat. Pertama mencari sarapan, kemudian ke Kantor Bappeda, dan terakhir beli oleh-oleh sebelum ke bandara. Di depan pintu keberangkatan saya berpamitan dan tentu saja berterimakasih pada Kakak Emmy, Oma Beti, dan Om John yang telah menemani dan mengantar selama di Labuan Bajo. Dalam hati juga berharap semoga bisa balik lagi…



3 tanggapan untuk “Perjalanan Ke Labuan Bajo”

  1. mantap bang labuan bajo masih banyak destinasi yang cantik juga bang

    1. Benar, saya berharap bisa ke Labuan Bajo lagi untuk menikmati tempat-tempat yang indah

      1. jangan lupa hubungi kami kalau ke labuan bajo lagi ya bang kami siap suport untuk semua kegiatannya

Tinggalkan komentar