Sekira 31 tahun yang lalu, di sebuah siang yang terik setelah sekolah bubaran, aku berjalan sendiri menyusuri jalan Cik Di Tiro, Yogyakarta. Di depanku dua orang berseragam SMP 8, sepertiku, berjalan melambat ketika sampai di seberang selatan Indraloka Homestay (yang kemudian selalu kami ingat ada bau cengkeh di sekitar situ). Di seberang selatan Indraloka ada penjual bakso, empek-empek, dan es campur yang ada durennya, yang selalu kami lewati. Lewat saja dan tidak pernah sekalipun mampir, walaupun bau duren seperti “menjawil” kami. Di samping tenda bakso itulah dua orang itu menyapa duluan, dan bertanya banyak hal. Seingatku, inilah awalnya kami kenal. Dua orang itu memperkenalkan diri sebagai Tongky dan Pandu.
Setelah pertemuan dan perkenalan itu, kami menjadi sering pulang sekolah bersama. Seringkali bersama kawan yang pulangnya satu arah, seperti Petrus dan Andri. Kami saling menunggu kalau kebetulan di antara kami ada yang kelasnya bubaran duluan. Ketika pulang sekolah, kami biasanya mampir di penjual es yang mangkalnya di sebelah utara/belakang SMA 9 (dulu SMA IKIP). Warung es tersebut sering kami sebut sebagai rumbakan, yang menjual es orson dan roti sobek kering, yang kami celup-celupkan ke es sebelum di makan. Kadangkala ada anak-anak SMP 8 lain yang juga jajan di situ, seperti Agus dan (alm) Dani dari Sagan Kulon. Penjual es awalnya seorang lelaki kurus dengan rambut dan wajah yang berminyak, di kemudian hari dia digantikan oleh istrinya yang kurus juga.
Aku kos di Sagan bagian selatan, Pandu kos di Sagan Utara, dan Tongky di tengah-tengah. Karena posisi yang demikian, aku dan Pandu yang sering menghampiri Tongky untuk berangkat bersama. Pagi hari menghampiri Tongky, melihat dirinya berdandan. Kuamati dengan telaten pernik-pernik yang dipakai. Sepatu pantofel hitam selalu mengkilap, karena sering disemir dengan semir merek Kiwi. Rambutmu selalu klimis karena sering dilaburi dengan pomade Brisk atau Gatsby. Sabuknya hitam dan tas kain berwarna putih yang menjadi tren waktu itu. Melihat penampilannya saat itu, aku teringat komentar seorang kawan yang menganggap Tongky cocok sebagai pegawai negeri. Setelah Tongky selesai bersiap, kami akan berjalan dengan tergesa-gesa. SMP 8 tidak begitu jauh dari tempat kami, tapi cukup membuat badan berkeringat.
Beberapa kesamaan, khususnya sama-sama anak kos yang jauh dari orang tua, menyebabkan kami semakin akrab. Apalagi kemudian tidak hanya urusan sekolah (berangkat-pulang bersama), tapi juga di luar itu juga kami lakukan bareng-bareng. Misalnya jalan-jalan di seputaran jalan Solo pada malam Minggu. Kami biasanya masuk ke Gardena Department Store dan Siswa Muda, toko peralatan tulis-menulis. Kita pilih Gardena, karena merupakan supermarket terbesar di jalan Solo pada waktu itu, dan tentu saja satu-satunya yang ada elevatornya, jadi tentu itu menarik bagi semua orang termasuk kami. Sedangkan Siswa Muda adalah toko perlengkapan sekolah atau stationery terlengkap di situ, yang jika kita masuk akan disuguhi deretan buku tulis bagus-bagus, khususnya yang merek-nya KYKY.
Selain jalan, nongkrong dan “nggambleh” di kosan Tongky sering kami lakukan. Kosan Tongky kami pilih selain lokasinya di tengah-tengah, juga dia kos sendiri, sedangkan Pandu dan aku bareng kakak. Tentu lebih bebas jika ngumpul bareng di kos Tongky. Kalau ke kos Tongky, rute yang biasa kulalui yakni menyusuri lorong sebelah timur bioskop Presiden ke arah utara, kemudian menyusuri jalan Pertanian lurus melewati Masjid Sagan atau SMP Muhammadiyah 10. Lalu masuk gang di samping warung Pak Topo, setelah mentok belok ke kiri. Kos Tongky berada di sebelah barat rumah Teguh, dan di depan kos Tongky ada satu kamar yang dindingnya dari bambu, yang disewa oleh perempuan-perempuan penjual sayur, yang oleh kawan kami yang lain sering diledek sebagai kos-kosan anak-anak Stella Duce. Ibu kos Tongky sudah tua, seperti ibu kosku juga, yang seringkali keliru menyebut sesuatu istilah atau nama. Suatu kali listrik mati di kosan Tongky. Ibu kos-nya sibuk untuk memperbaikinya. Kemudian Tongky bertanya, “Wonten napa, mbah?” Ibu kos itu kemudian menjawab, “iki listrike kumpret.” Setelah dipikir-pikir dan ditanyakan, ternyata yang dimaksud kumpret adalah konslet (korsleting). Tongky dan Pandu tertawa terbahak-bahak setelah mengetahui itu.
Kos Tongky memang spesial. Kamarnya tidak seberapa luas, mungkin 2,5 m x 3 m. Perlengkapan yang ada di kamarnya tidak terlalu banyak. Ada rak buku kecil yang terletak di pojok kanan, lemari plastik yang juga kecil yang kemudian ditempeli tulisan “The Untouchable Zone”, kursi dan meja kayu pendek yang di atasnya ada kipas angin kecil yang selalu dihidupkan, karpet plastik berulir warna merah, ranjang besi yang ada per-nya, jam weker putih di atas lemari plastik, dan tentu saja radio kecil “Nakamichi”.
Seringkali kulihat komik di meja kecil Tongky. Tintin, Lucky Luke, Donald Bebek, terkadang juga buku-buku petualangan Karl May. Tongky pembaca yang rajin waktu itu. Tongky dan Pandu yang membawaku ke Gramedia untuk pertama kali, juga ke toko buku Indira, yang menjual komik Tintin itu. Biasanya pulang sekolah kita menelusuri jalan di selatan sekolah kita menuju Gramedia dan toko buku Indira. Tongky dan Pandu biasanya langsung menuju rak-rak yang berisi komik-komik, dan seperti langsung meneruskan bacaan yang belum selesai. Aku masih bingung ketika pertama masuk Gramedia, tidak tahu mana yang harus dibaca dulu. Aku tidak berani baca yang macem-macem karena penjaga selalu mengawasi. Akhirnya ikut dengan Tongky dan Pandu, membaca komik. Kami membaca sambil jongkok, dan terkadang duduk di lantai jika penjaga toko tidak ada di sekitar kami.
Hari-hari kami mulai berubah ketika semakin banyak kawan yang kami punya, dan mereka sering main ke kos Tongky. Awalnya mungkin ketika aku kenal dengan almarhum Avonk dan Guwek (semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa mereka), dan mereka kuajak ke kos Tongky. Mereka adalah dua orang veteran di SMP kami, dan bisa dipastikan lebih gila dari murid kebanyakan. Dua kawan ini, dan nanti juga disusul Paulus dan kawan-kawan yang lain, seperti mengenalkan dunia lain kepada kami. Dulu lingkup bermain dan pembicaraan demikian terbatas, tapi kemudian menjadi terbuka setelah kehadiran mereka. Kita menjadi tahu Jogja dan dunia lebih banyak.
Avonk selalu kami kenang sebagai kawan yang lucu sekaligus saru, atau tepatnya lucu karena kesaruannya itu. Dia seperti Doel Sumbang waktu awal-awal kemunculannya yang lirik-lirik lagunya berujung pada sesuatu yang saru. Ketika Avonk meninggal, terasa bahwa kawan yang lucu itu telah ikut mengajari kami tentang dunia.
Kalau Guwek lain lagi. Kenangan dengan dia tidak bisa dilepaskan dari kebiasaan dia untuk mengajak kami nginap di rumahnya, baik ketika di Sekip maupun setelah pindah ke utara Monjali. Kamar Guwek di Sekip dipenuhi foto dan pernik-pernik dari Jepang, seperti bendera kecil bertuliskan Hokaido. Biasanya di pagi hari ibunya menyuguhi sarapan nasi putih + abon + telur dadar yang di suwir-suwir dan segelas teh hangat manis. Tetapi Guwek selalu menolak kalau beberapa teman ikut nginap di rumahnya (hehehe… maaf tidak bisa kusebutkan namanya), karena jika beberapa teman itu menginap pasti ada sesuatu yang hilang dari kamar Guwek …hehehe.
Setelah lulus SMP, aku dan Tongky tetap di Jogja, sedangkan Pandu “ilang dalane”. Waktu itu yang kudengar dia pulang ke kampung di Muntilan, melanjutkan SMA di sana. Setelah tahun-tahun berlalu, kami dipertemukan lagi. Waktu kuliah, dan pada momen demonstrasi “Mega Bintang” di UGM yang berujung pada penangkapan beberapa aktivisnya, termasuk Tongky, aku melihat Pandu di situ. Tetapi karena suasana lagi kacau, aku tidak bisas menghampirinya…
Kini, setelah lebih dari tiga dekade, pertemuan dengan kawan-kawan lama dimudahkan dengan teknologi melalui media sosial. Pertemuan di dunia virtual kemudian berlanjut di dunia “nyata” melalui kopi darat. Beberapa hari lalu, tepatnya pada 26 Desember malam, beberapa kawan waktu SMP melakukan temu darat di sebuah café di kawasan Sagan. Aku datang agak terlambat bareng Tongky. Ketika kami datang, beberapa kawan sudah ada di situ, seperti Pandu, Lirawan, Epik, Titut, Tanti, Dina, dan Lupiq. Kemudian datang pula Donggiek dan Lusie. Sebelum ini tentu sudah ada peristiwa kumpul-kumpul kawan SMP. Cerita tentang masa lalu waktu SMP juga kadang berulang. Tetapi sepertinya kami tidak bisa menghadirkan masa lalu secara penuh, karena itu kita membutuhkan foto bersama, sehingga yang luput dari pembicaraan akan dihadirkan melalui gambar. Seperti halnya kenangan kami bertiga, sehingga bisa kumengerti kenapa Tongky perlu meminta atau mengusulkan padaku pada pertemuan kawan-kawan SMP beberapa hari lalu itu: “Ndez, awake dhewe karo Pandu mengko kudu foto bareng.”


Tinggalkan komentar