coretan kebun belakang

tentang kawan, buku, perjalanan


Kami Tidak Akan Diam: Kisah-Kisah Kehidupan dan Perjuangan Pekerja Rumah Tangga

kami tidak akan diam revisiBeragam kisah pilu tentang Pekerja Rumah Tangga (PRT) barangkali sudah sering kita dengar dan baca dari berbagai media massa. Ada PRT yang disekap majikan selama berbulan-bulan, tidak digaji, mendapat kekerasan fisik dan psikis, dan perlakuan buruk lainnya. JALA PRT mencatat, selama tahun 2016 ada 228 kasus kekerasan terhadap PRT, yang dilaporkan. Tentu kasus yang ada dan tidak dilaporkan juga banyak.

Kisah pilu kadangkala dimulai sebelum seseorang tersebut menjadi PRT. Banyak di antara mereka tidak bisa melanjutkan sekolah, entah itu ke jenjang SMP atau SMA, walaupun mereka ingin melanjutkan sekolah. Kondisi ekonomi keluarga biasanya yang jadi musabab. Maka, melangkahkan kaki ke dunia kerja sebagai PRT adalah jalan yang rasional.

Kisah-kisah pilu itu juga terekam dan membuncah dalam buku kumpulan tulisan Kami Tidak Akan Diam: 31 Kisah Pekerja Rumah Tangga di Balik Tembok Ruang Domestik, yang diterbitkan oleh JALA PRT, ILO, dan AJI Jakarta. Kumpulan tulisan yang semua ditulis oleh PRT sendiri ini tentu saja tidak berhenti dalam ratapan pilu dan keluh kesah, tapi juga berisi perlawan terhadap keadaan dengan berbagai siasat. Buku ini terbagi menjadi 3 bagian : (1) kisah kehidupan dan kondisi sebagai PRT, (2) proses dan pengalaman masuk organisasi dan melakukan kegiatan-kegiatan di dalamnya, (3) melakukan perubahan dengan advokasi.

Benar bahwa sebagian besar keluarga PRT mengalami kesulitan ekonomi sehingga mereka tidak bisa sekolah tinggi, seperti yang dikisahkan Ida Paridah, anggota organisasi pekerja rumah tangga (Operata) Vipamas, Tangerang Selatan, dalam tulisannya yang berjudul “Menjadi Pekerja Rumah Tangga Sejak Usia 8 Tahun.” Ketika baru berusia 8 tahun Ida sudah masuk ke tempat penyaluran PRT (para PRT biasa menyebutnya sebagai yayasan, karena biasanya tempat penyalur PRT ini berbadan hukum yayasan). Masuk ke tempat penyalur PRT ini juga tidak Ia ketahui, yang Ia ingat bahwa orang tuanya mengijinkannya untuk pergi bersama saudaranya ke Sukabumi. Di tempat saudaranya itu Ida kemudian dijemput seseorang dan dibawa ke Jakarta, dan ditempatkan di sebuah yayasan penyalur PRT itu. Tentu saja dalam usia delapan tahun belum banyak yang bisa Ia lakukan, bekerja tidak bisa, mengadu juga tidak tahu kemana. Hanya menangis yang Ida lakukan. Tapi ketika harus dipekerjakan untuk memberi makan anjing-anjing majikan, Ia sudah tak tahan dan melarikan diri dengan ketakutan dari rumah majikannya tersebut.

Masa kanak-kanak yang hilang juga dialami oleh Sargini, seorang pengurus Serikat PRT Tunas Mulia, Yogyakarta. Setelah lulus SD, ia tidak bisa melanjutkan sekolah, tapi malah diajak tetangganya untuk bekerja di sebuah rumah makan di kota Yogyakarta pada tahun 1997. Bekerja dari jam delapan pagi sampai sembilan malam dengan gaji Rp.75.000,- sebulan, ia lakukan. Dengan beban kerja yang berat untuk anak seusianya, membuat Sargini hanya bertahan 3 bulan dan ia kembali ke kampung. Di kampung pun tak seberapa lama, tetangganya yang lain mengajak Sargini menjadi PRT di kota Yogya. Sargini pun tak kuat dengan kerja kerumahtanggaan ini, karena harus bekerja mulai jam lima pagi sampai malam hari. Ia hanya bertahan seminggu dan kembali lagi ke kampung di Wonosari. Masa kanak-kanak dan remaja Sargini dihabiskan dengan masuk dan keluar kerja sebagai PRT di Yogyakarta.

Apa yang terjadi pada Ida dan Sargini sebenarnya juga banyak dialami oleh anak-anak dan remaja di Indonesia. Tiadanya akses pendidikan dialami seseorang sebelum menjadi PRT karena mereka berada dalam kondisi kemiskinan dan mereka berasal daerah terpencil atau desa yang akses pendidikan terbatas. Sedangkan ketika menjadi PRT juga sulit mengakses pendidikan karena ada pembatasan atau larangan dari majikan, atau karena beban dan jam kerja yang tidak terbatas.

Ada persoalan struktural dan juga kultural yang beririsan yang membuat posisi PRT semakin terpinggirkan. Masalah-masalah struktural yang berpadu dengan budaya feodalisme dan patriarki melahirkan marginalisasi dan diskriminasi terhadap PRT. Kondisi tersebut terus berjalan karena kemiskinan dan rendahnya pendidikan atau tiadanya akses terhadap informasi yang dialami oleh PRT. Tiadanya akses terhadap pendidikan dan informasi ini dialami ketika seseorang telah menjadi PRT maupun sebelum menjadi PRT. Padahal akses pendidikan atau informasi ini menjadi “pintu gerbang” bagi PRT untuk melakukan perubahan atas kondisinya, membangun posisi tawarnya, dan mulai melakukan langkah mengubah pola relasi yang tidak adil, dan menciptakan kesetaraan sebagai perempuan, pekerja, warga negara dan manusia.

Selain pendidikan, pintu gerbang untuk perubahan itu juga organisasi. Bagi PRT memasuki sebuah organisasi juga berarti memasuki dunia baru yang bisa mengubah diri dan kehidupannya. Misalnya yang terjadi pada Dianna Wati, pengurus Operata Sedap Malam, Tebet. Diana menuturkan perubahan yang terjadi pada dirinya itu dalam tulisan “Aku Berubah setelah Aktif Berorganisasi.” Sebelum masuk organisasi, Diana hanya tahu yang ia lakukan hanya bekerja dan nanti mendapatkan gaji, itu saja. Diana juga mengaku pendiam, takut bicara sebelum masuk organisasi, tapi kemudian berubah setelah masuk organisasi. Ia menjadi tahu hak-haknya sebagai pekerja, keberanian mulai muncul dan  menjadi aktif menyampaikan pendapatnya.

Kadangkala, penting dan bermanfaatnya sebuah organisasi bagi PRT muncul ketika seorang PRT menghadapi sebuah masalah dan tidak bisa menyelesaikan sendirian. Hal ini terjadi pada Ludiah, seperti dituturkan dalam tulisan, “Ketika Sakit Disuruh Kerja dan Gaji Dipotong.” Suatu waktu Diah minta ijin ke majikannya untuk tidak masuk kerja karena sakit, tapi majikannya tetap meminta di bekerja. Tentu hal ini sangat berat bagi Ludiah. Ternyata tidak sampai di situ saja, majikannya di bulan itu juga memotong gajinya karena ada hari-hari yang Ludiah tidak masuk kerja. Tentu saja kalau sakit bagaimana bisa bekerja? Menghadapi masalah ini Ludiah jadi sadar tentang pentingnya aktif di organisasi. Kemudian mengadukan kasus ini ke JALA PRT dan LBH Jakarta, dan bersama-sama menyelesaikan kasusnya tersebut. Setelah kasusnya selesai, Ludiah menjadi rajin mengajak PRT untuk masuk dalam organisasi, terutama masuk SPRT Sapulidi tempat Ludiah beraktifitas.

Demikian pula dengan Wiwin Winarsih. Bergabung dalam organisasi telah membuatnya berani menuntut gaji yang tidak dibayarkan oleh majikannya, seorang ekspatriat dari Amerika. Setelah berkali-kali menagih dan didukung oleh teman-temannya dari SPRT Sapulidi, Jakarta, maka gaji yang sudah berbulan-bulan tidak dibayar akhirnya diserahkan oleh majikannya. Cerita ini dipaparkan dalam tulisan “Organisasi Membantu Menyelesaikan Kasusku”. Di akhir tulisannya, Wiwin menyampaikan, “Mungkin kalau aku tidak bergabung di SPRT Sapulidi, aku akan membiarkan saja ketika tidak digaji, karena tidak ada yang membantu memberikan informasi pengaduan gaji yang tidak dibayar.”

Perubahan-perubahan setelah masuk dan aktif dalam organisasi juga terjadi pada Leni. Awalnya Leni tergolong PRT yang sangat susah diajak masuk organisasi, tapi karena ketekunan Ludiah dalam memberikan informasi dan mengajak, akhirnya Leni luluh juga. Setelah masuk organisasi, Leni seperti “tak terkendali” sampai-sampai majikannya yang seorang ekspatriat bilang, “Leni, now you are busy with your organization.” Leni mengatakan ke majikannya bahwa karena organisasi tersebut bermanfaat bagi dirinya.

Keaktifan dalam organisasi dituliskan Leni dalam tulisan lain yang berjudul “Kisah Mengajak PRT Masuk Serikat Door to Door.”  Organisasi-organisasi PRT yang masuk dalam jaringan JALA PRT, sebagian besar telah mengenal metode mengajak PRT masuk organsisasi dengan metode door to door  atau door knocking, atau yang biasa dikenal oleh PRT sendiri sebagai metode nge-Rap. Metode ini terdiri dari enam langkah yang dilakukan dengan cepat dan diulang-ulang, karena inilah dinamakan Rap, lagu rap yang dinyanyikan dengan cepat dan diulang-ulang. Dengan metode ini, SPRT Sapulidi, tempat Leni beraktifitas, mengalami peningkatan jumlah anggota yang cepat.

Salah satu perubahan yang terjadi karena ikut berorganisasi adalah beberapa anggota organisasi PRT menemukan bakat-bakat yang terpendam, salah satunya Yuni Sri Rahayu atau biasa dipanggil Yuni dari SPRT Sapulidi. Setelah mengikuti pelatihan menulis, Yuni seperti menemukan kekuatan dirinya. Dia menjadi aktif menulis di rubrik Indonesiana Tempo, dengan menyuarakan kisah-kisah PRT. Salah satu tulisannya dalam rubrik tersebut berjudul “Menulis Menjadi Api bagi Gerakan Kami” juga masuk dalam buku “Kami Tidak Akan Diam” ini. Dengan menulis Yuni juga mengkampanyekan tentang perlunya perlindungan bagi PRT. Apalagi kasus kekerasan yang menimpa PRT terus saja terjadi, dan mereka berada dalam situasi yang tidak layak. Karena bekerja di rumah-rumah dengan akses yang terbatas, maka PRT sulit untuk bisa bersuara secara terbuka. Maka, lewat tulisan yang disampaikan Yuni, suara-suara yang terkubur itu dikeluarkan dan akhirnya diketahui oleh publik melalui jurnalisme warga.

Di buku ini, Jumiyem atau akrab dipanggil Lik Jum, dari SPRT Tunas Mulia, Yogyakarta, membuat sebuah tulisan yang menggambarkan perjuangannya melakukan advokasi. Misalnya pada tahun 2014 bersama teman-temannya dan JALA PRT melakukan mogok makan di depan gedung DPR RI, Senayan. Aksi dilakukan sebagai bentuk keprihatinan atas kelalaian negara terhadap warganya yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga, khususnya dengan tidak memberikan perlindungan bagi PRT melalui sebuah undang-undang. Aksi tersebut terancam dibubarkan oleh polisi, tapi melalui sebuah negosiasi akhirnya aparat kepolisian malah yang pergi. Para pengunjuk rasa yang melakukan mogok makan akhirnya bermalam di depan gedung DPR RI. Acara malam diisi dengan berdoa dan menyalakan lilin yang membentuk tulisan “Kami Tidak Akan Diam.”

Melalui tulisan lilin tersebut dan kemudian dituangkan dalam tulisan Lik Jum dalam buku ini, maka kemudian frase “Kami Tidak Akan Diam” dipakai sebagai judul buku kumpulan tulisan ini. Sebagai sebuah pesan bahwa PRT akan terus bergerak menuntut hak-hak mereka.



Tinggalkan komentar