coretan kebun belakang

tentang kawan, buku, perjalanan


Televisi dan Perubahan Sosial di Desa

TV jadulSekitar tahun 1980-an, belum banyak orang yang mempunyai televisi (TV) di desa saya. Sebuah desa yang berjarak sekitar 18 kilometer dari pusat kota Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Menurut keterangan seorang tetangga, TV baru masuk desa ketika ada siaran pertandingan tinju antara Muhammad Ali melawan Larry Holmes, pada 2 Oktober 1980.  Tetapi ada pula yang mengatakan bahwa sudah ada yang punya TV beberapa tahun sebelum itu. Yang saya ingat terkait TV pada masa kecil adalah TV yang  dipunyai tetangga sebelah rumah, yang dia beli pada tahun 1980-an juga.  TV-nya masih hitam putih dengan ukuran 21 inci. Karena belum ada jaringan listrik yang masuk, maka untuk menyalakan TV  digunakan baterai accu, yang sekitar dua minggu sekali harus diisi ulang ke kota.

Kala itu usia saya baru 8 tahun, dan masih bersekolah di kelas 2 Sekolah Dasar. Biasanya saya dan kawan-kawan sebaya, diberi kesempatan oleh orang tua kami untuk menonton TV di tetangga saya tersebut ketika hari Minggu atau ketika sekolah libur.  Tentu waktu itu hanya satu stasiun TV yang ada, yakni TVRI dan itu pun siarannya baru mulai jam 8 pagi. Walaupun begitu, dari jam 7 pagi kami (saya dan teman-teman sebaya) sudah antri di depan TV tetangga tersebut, berebut duduk paling depan. Yang kami tunggu dari siaran TV hari Minggu tersebut adalah film yang berjudul Land of The Giant (biasa kami sebut film raksasa) yang siarannya baru tayang sekitar jam 11, sebelum film Little House in the Praire. Kami dengan antusias menunggunya, dan terus kami lakukan selama beberapa tahun kemudian sehingga kami hapal urutan jadwal siaran TVRI pada hari Minggu dari pagi sampai malam.

Walaupun kemunculan TV pada waktu itu telah menyedot perhatian kami, tapi tidak terlalu menyedot waktu bermain dan kebersamaan dalam beraktivitas lainnya. Hubungan keluarga dan bertetangga juga tidak terlalu terpengaruh ikatannya. Tradisi untuk saling kunjung antar tetangga di waktu sore atau malam hari tetap berjalan seperti biasa.

Dua puluh tahun setelah itu ada perubahan terjadi dan tak bisa dipungkiri terkait dengan keberadaan TV. Pada tahun 2000 hampir setiap rumah di desa saya telah mempunyai TV, bahkan sudah berwarna.  Anak-anak di lingkungan sekitar kami tidak lagi menonton TV bersama, juga orang tua-orang tua. Semua berdiam di rumahnya masing-masing. Perbedaan yang paling kelihatan antara waktu 20 tahun itu ketika saat hari lebaran (Idul Fitri) tiba. Pada dekade 80-an, anak-anak sampai remaja di desa saya  ketika malam takbiran, mereka akan berkeliling kampung sambil mengucapkan takbir secara bersama-sama dan setelah selesai berkeliling akan dilanjutkan bertakbir di mushola-mushola atau masjid sampai subuh tiba.  Kemudian setelah sholat Ied, biasanya akan berkumpul dan mendatangi rumah tetangga, rumah per rumah, bahkan sampai ke dusun dan desa sebelah untuk memberi ucapan selamat lebaran sekaligus bermaaf-maafan. Yang pertama-tama yang kami datangi untuk mengucapkan lebaran dan meminta maaf adalah keluarga yang ada anggota keluarganya yang sudah tua, dan terutama pensiunan pegawai atau priyayi atau ulama. Hal ini dilakukan dari pagi sampai sore, kemudian pulang ke rumah untuk istirahat sebentar dan malamnya akan dilanjut lagi. Jika ada anak atau remaja tidak mengikuti tradisi berlebaran ini, biasanya akan ditegur oleh orang tua mereka dan ditakut-takuti nanti tidak mendapat berkah (barokah) dari orang tua-orang tua yang dikunjungi tersebut. Hal ini telah menjadi tradisi, setidaknya sampai akhir 1990-an masih saya lihat.

Setelah tahun 2000, kondisinya sudah berbeda. Masih ada memang anak-anak dan remaja berkunjung ke tetangga setelah sholat Ied, tapi jumlahnya tinggal sedikit, dan hanya ke tetangga dekat saja mereka berkunjung. Mereka akan cepat-cepat kembali ke rumah untuk menonton TV yang pada hari lebaran setiap stasiun TV yang jumlahnya sudah lebih dari 5 stasiun itu saling berlomba menampilkan acara terbaik, misalnya film-film box office diputar, dan artis-artis terpopuler ditampilkan. Kebersamaan untuk mengunjungi tetangga yang dianggap sesepuh desa untuk mengucapkan selamat lebaran dan meminta maaf sudah mulai pudar. Hanya kelompok dari apa yang disebut santri atau mereka yang bertempat tinggal di sekitar masjid besar di desa kami, yang anak-anak dan remaja-nya tidak terlalu terpengaruh. Artinya relasi sosial, yang diperlihatkan dengan kunjungan ke tetangga dan sesepuh desa ketika hari lebaran tiba, masih begitu kental di kalangan santri.

 

Teknologi Sebagai Pendorong Perubahan

Apa yang terjadi di desa saya tersebut mungkin bisa dikatakan menguatkan apa yang pernah disampaikan oleh William Ogburn (Henslin, 2015:480) bahwa penemuan dan perkembangan teknologi merupakan sebuah basis dari perubahan sosial. Yang dimaksud teknologi di sini, menurut Henslin (2015), adalah peralatan-peralatan atau ketrampilan dan prosedur yang dibutuhkan untuk membuat dan menggunakan peralatan tersebut. Tetapi signifikansi sosiologis dari teknologi menyebar melampaui kegunaan peralatan itu sendiri.

Walaupun ulasan Ogburn banyak terkait konteks masyarakat Amerika pada tahun 1930-an, tapi dalam banyak hal terjadi juga di masyarakat lain di luar Amerika. Dalam kasus ini perkembangan TV yang masuk ke desa-desa mempunyai dampak terhadap kehidupan sosial, termasuk di sini adalah nilai-nilai dan relasi sosial. Apa yang dulu dijalani dengan tekun, perlahan-lahan memudar. Tentu bisa saja ada pengaruh lain selain dengan kehadiran TV, tapi TV saya pikir paling signifikan pengaruhnya karena belum ada teknologi lain yang masuk ke desa saya, seperti internet. Telepon genggam pun masih sedikit yang punya pada awal 2000 itu.

Ini juga seperti meneguhkan pendapat penganut pendekatan materialistic dalam menjelaskan proses perubahan sosial, yakni mereka percaya bahwa perubahan teknologi dan hubungan pola-pola produksi akan mengubah interaksi sosial, dan akhirnya perubahan masyarakat ( Gunawan, 2014:33).

Walaupun terjadi perubahan dalam relasi sosial dan nilai-nilai, tapi perubahan yang terjadi dalam kasus di desa saya tidak berlangsung dengan cepat atau sekaligus. Ada proses yang berlangsung yang berjalan bertahap. Proses yang bertahap tentu dipengaruhi oleh banyak factor, seperti perkembangan atau penambahan saluran stasiun TV (swasta) yang juga datang secara bertahap. Kemudian juga kepemilikan terhadap TV yang tidak berbareng, karena tidak semua anggota masyarakat langsung bisa membeli ketika TV sudah mulai dijual di pasaran.

Walaupun ada pengaruh yang signifikan kehadiran TV terhadap perubahan relasi sosial dan nilai-nilai, tapi tidak serta-merta mengubah semuanya. Ada pula kelompok yang dalam puluhan tahun setelah kehadiran teknologi baru, tidak mempengaruhi relasi sosial dan nilai-nilai yang dianutnya. Jadi, perubahan sosial tidak hanya ditentukan oleh kekuatan dari luar (struktur) tapi juga dari diri seseorang atau kelompok masyarakat ( aktor) dengan keagenannya.

Melihat Relasi Struktur dan Agen dari Perkembangan Televisi

Dengan melihat dampak dari ada dan perkembangan TV di desa saya, ternyata ada proses relasi antara struktur dan agen dalam konteks waktu yang berbeda, dengan akibat yang berbeda. Kelompok remaja “non santri” seperti hanyut dalam pengaruh TV, dengan lunturnya tradisi (dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya)  untuk menghormati, mendatangi, dan meminta berkah pada sesepuh dan ulama desa.  Di sisi lain, terdapat pula kelompok yang “menolak tunduk” terhadap pengaruh TV, yakni kalangan santri. Hal ini menyiratkan bahwa apa yang dikatakan Margareth Archer (Porpora; 2013) tentang teori morphogenesis berlaku di sini, bahwa hubungan manusia dengan dunia tidak bisa diputus dan manusia akan terus berinteraksi satu sama lainnya agar dapat bertahan hidup.  Selain itu, teori morphogenesis memusatkan perhatian bagaimana kondisi structural memengaruhi interaksi sosial dan bagaimana interaksi tersebut menimbulkan perluasan structural.

Selain itu, teori morphogenesis Archer juga memperhatikan persoalan kultur, yakni bagaimana kondisi cultural mempengaruhi sosiokultural, dana bagaimana interaksi tersebut menimbulkan perluasan kultural ( Ritzer & Goodman; 2011). Dengan kasus di atas, kita lihat bahwa bagaimana system kultur yang menempatkan sesepuh dan ulama desa harus selalu dihormati, didatangi, dan dimintai berkah, khususnya pada saat lebaran tiba, disikapi berbeda oleh kelompok-kelompok remaja. Kelompok non santri melepaskan diri dari kungkungan tradisi, pada satu waktu tertentu ( tahun 2000-an), sedangkan kelompok santri remaja masih menggenggam tradisi (tahun 2000-an).

Apa yang terjadi di desa saya kemungkinan besar juga akan berubah, karena struktur dan agen terus berinteraksi, demikian juga system kultur yang mungkin berubah karena interaksi pada level sosiokultur. Sehingga, untuk mengetahui perubahan-perubahan sosial yang terjadi dan factor-faktor yang menyebabkannya maka, menurut Archer, dibutuhkan perhatian dan menguraikannya dari waktu ke waktu.



Tinggalkan komentar