coretan kebun belakang

tentang kawan, buku, perjalanan


Fariz RM, Kota, dan Orisinalitas

living-in-harmony-jati-diri-ketekunan-dan-norma-catatan-ringan-fariz-rm

Di suatu Sabtu pagi saya mulanya ingin mencari sweater di Pasar Baru, tapi  justru buku yang saya beli. Saya tidak jadi beli sweater karena  yang pas dari fungsi maupun estetika  tidak saya temukan. Awalnya juga tidak ada niat ke toko buku, tapi daripada jauh-jauh tidak membawa apa-apa, akhirnya saya sempatkan mampir ke toko buku yang letaknya tak terlalu jauh dari kios-kios penjual pakaian. Tokonya tidak terlalu besar, koleksi bukunya pun sedikit. Tapi, justru di sini saya mendapat buku yang sudah lama ingin  saya beli : Living in Harmony

Bukan judulnya yang menarik, karena menurut saya  terlalu klise, tapi disebabkan oleh penulisnya, yang selama ini dikenal sebagai pemusik, penulis lagu, sekaligus penyanyi : Fariz Roestam Moenaf. Sudah lama saya mengenal nama ini, sejak duduk di SMP sekitar tahun 1985 di Jogja dulu. Kakak-kakak, lama-lama saya juga, adalah penggemar Fariz.  Walaupun cara atau kualitas sebagai penggemar berbeda dengan Munie, seorang remaja 15 tahun dari Medan yang mencoba bunuh diri ketika mengetahui konser Fariz RM yang akan dilakukan di Medan ditunda, tapi kakak saya mempunyai semua album Fariz dan hampir setiap hari diputar lagu-lagunya. Dari situlah saya mengenal Fariz dan lagu-lagunya.

Awal 80-an nama Fariz RM memang lagi menjulang. Hampir setiap tahun mengeluarkan album, baik solo maupun dengan grupnya yang begitu banyak, seperti Symphony, WOW!, JRS, Superdigi, atau Transs. Lagu-lagunya menjadi hits dan sering diputar di radio-radio swasta. Liputan tentang diri dan kegiatannya juga kerap menghiasi media cetak. Tak heran jika majalah Gadis memberikan Award untuk Fariz sebagai Pemusik, Vokalis, dan Penata Musik terbaik pada tahun 1980, 1982,1983.

Karena sering mendengarkan lagu-lagunya Fariz, pada akhirnya lirik-liriknya mempengaruhi saya dalam memahami sesuatu, termasuk tentang kota. Dulu, bayangan saya tentang Jakarta ya seperti apa yang ditulis Fariz dalam lirik-lirik lagunya. Misalnya tentang kehidupan atau cara bergaul anak mudanya, saya bayangkan seperti dalam lirik lagu “ Merdekanya Orang Muda Kota” yang ada di album Produk Hijau-WOW!. Kemudian tempat-tempat yang menjadi tongkrongan anak muda, bayangan saya seperti lirik “Astoria” dalam Album Trapesium Symphony.

Lirik lagu Fariz sangat urban, sepertinya malah tak ada yang berkisah tentang kehidupan desa, seperti Ebiet G. Ade misalnya, apalagi soal nelayan seperti yang sering muncul di lagu Leo Kristi. Ini mungkin juga karena lingkungan tempat mereka hidup dan berkembang sebagai remaja juga berbeda, Fariz adalah anak Menteng yang sekolah di SMA 3 dan kemudian kuliah di ITB Bandung. Gak ada bau udiknya. Dengan demikian, lirik-lirik yang dia buat itu mencerminkan kejujuran dirinya, seperti yang ia tekankan berulang-ulang, dalam beberapa tulisan, di buku Living in Harmony.

Fariz sepertinya paham betul tentang kehidupan anak muda Jakarta, khususnya pada era 80-an. Dalam buku Living in Harmony, ia sebutkan tempat mana yang biasa jadi favorit anak muda jalan-jalan sore untuk ngeceng, siapa yang jadi primadona waktu itu, kemudian klub malam mana yang disinggahi ketika malam minggu, lagu-lagu apa yang sering diputar. Lirik-lirik lagu yang dibuatnya juga menandakan itu. Misalnya bisa dilihat dalam lagu “Merdekanya Orang Muda Kota”, “Astoria”,  atau “Sushie Bhelel.”

Tapi yang menarik dari buku itu, Fariz tidak hanya bicara soal kota atau musik. Kita bisa melihat pengetahuannya tentang budaya, sosial-ekonomi, bahkan agama. Analisis serta refleksinya terhadap hal-hal tersebut lumayan berbobot, walau seringkali diselingi dengan kalimat-kalimat selorohan atau becandaan.

Dalam tulisan-tulisannya di buku ini, Fariz selalu mengulas pengalaman atau informasi tertentu dengan mengaitkannya dengan berbagai hal, kemudian melakukan analisis atau refleksi atasnya. Misalnya, dalam tulisan yang berjudul “Orisinalitas”, Fariz mengawali tulisan dengan pemaparan tentang makanan Soto, di mana hampir setiap kota punya nama dan ciri khasnya masing-masing soal makanan ini. Tapi Fariz tidak melulu bicara soal soto di sini. Dia mengaitkan soto dengan aneka macam kreativitas. Bagi Fariz, setiap penjual Soto di wilayah atau kota tertentu berupaya untuk menunjukkan ciri khas citarasa tertentu yang berbeda dengan penjual soto lain, walaupun ciri khas itu dibuat dari penggabungan dari beberapa ciri khas citarasa pelbagai penjual soto.

Membuat citarasa baru menurut Fariz adalah bentuk kreativitas dalam kuliner. Kreatifitas ini pada akhirnya menghadirkan orisinalitas. Dalam bermusik juga begitu. Setiap pemusik punya kecenderungan untuk dipengaruhi oleh pemusik lain. Nah, agar seorang pemusik tidak terkesan menjiplak karya pemusik yang mempengaruhi tersebut, Fariz menyarankan untuk membuat band, yang personelnya mempunyai latar belakang dan referensi musik yang berbeda. Dengan demikian sebuah lagu yang diciptakan oleh grup ini berangkat dari referensi banyak pemusik yang mempengaruhi mereka, sehingga menjadikan karya mereka menjadi baru atau bisa dikatakan orisinal.

Setelah membaca buku Living in Harmony ini, saya menjadi berharap banyak pada pemusik atau pencipta lagu juga menyempatkan diri untuk menulis, setidaknya tentang sejarah atau latar belakang munculnya lagu-lagu mereka.



Tinggalkan komentar