coretan kebun belakang

tentang kawan, buku, perjalanan


Menjaga Tetesan Air : Belajar dari Aabid Surti

Hei banyu,hei banyu ning kene ana crita

Hei banyu, hei banyu ning kene ana crita

Critane wong Jawa kang kelangan makna

(Slamet Gundono)

No-water 

Adalah Aabid Surti, seorang penulis dan pelukis yang mempunyai karakter aneh. Beberapa orang menyebutnya malaikat, karena tindakannya yang sederhana tapi disertai kemuliaan hati, telah  menginspirasi banyak orang.  Yang biasa dilakukan Aabid Surti “hanya” berkeliling ke komplek apartemen di Mira Road, Mumbai, India bersama tukang ledeng di belakangnya. Kemudian jika melihat ada pipa atau kran air bocor, mereka akan menawarkan diri untuk membetulkan kran tersebut secara gratis.

Tentu tindakan Aabid tersebut tidak datang tiba-tiba. Awalnya, di tahun 2007, ketika sedang duduk di rumah temannya, Aabid melihat kran yang airnya terus menetes. Aabid merasa terganggu dan menanyakan ke temannya kenapa kran tersebut dibiarkan terus menetes airnya dan tidak diperbaiki? Temannya menjawab bahwa biayanya untuk sekedar memperbaiki kran bocor kecil itu terlalu mahal, dan biasanya tukang ledeng juga tidak mau datang jika hanya untuk memperbaiki hal kecil.

Beberapa hari setelahnya, ia melihat statistik di majalah yang menyatakan bahwa satu tetes air yang jatuh setiap detiknya dari kran yang bocor, sama saja membuang ribuan liter air dalam sebulan. Kemudian munculah ide itu : membawa tukang ledeng dari rumah ke rumah untuk memperbaiki kran/pipa air yang bocor. Demikianlah, tidak hanya sekedar ide, tapi Aabid benar-benar melakukannya dengan berkeliling dari kompleks apartemen satu ke kompleks lainnya setiap hari Minggu, menawarkan diri untuk memperbaiki kran bocor, bersama tukang ledeng yang berjalan di belakangnya. Sebuah tindakan yang sederhana dan murah, tapi dampaknya besar.

Di tahun pertama, mereka telah mendatangi 1533 rumah dan memperbaiki 400 kran. Pelan-pelan apa yang dilakukan Aabid diperhatikan orang. Kini setelah hampir tujuh tahun, kita tidak tahu berapa juta liter air yang telah diselamatkan oleh Aabid dan tim-nya, tapi yang jelas upaya yang dilakukan Aabid mendapat dukungan dari banyak kalangan mulai sutradara Shekhar Kapur sampai artis Shah Rukh Khan, bahkan dari aktivis konservasi dari Jerman. Ironisnya, pemerintah negara bagian tempat Aabid tinggal, baru menyadari soal pentingnya konservasi air pada tahun ini, dengan mengingatkan warga untuk menghemat air. Sementara itu, kementerian terkait sedang melobi untuk mendapatkan anggaran jutaan dollar untuk mengatasi kekeringan.

Apa yang dilakukan Aabid sangat relevan untuk ditiru di mana-mana, termasuk Indonesia. Di negeri ini, setahu saya, yang menyia-nyiakan air dan kekurangan air sama banyaknya, tapi belum ada seorang seperti Aabid. Saya sering melihat air menetes sia-sia dari kran yang bocor, pun sering melihat rumah tangga yang kesulitan mendapatkan air bersih. Rumah tangga yang ada di permukiman miskin dan informal di Jakarta misalnya, tiap hari harus membeli air dari penjual keliling yang kadang menghabiskan sepertiga pendapatan perhari mereka.  Desa saya, yang masuk wilayah kabupaten Grobogan, pun sering dilanda kelangkaan air bila kemarau tiba. Untuk mengatasinya, orang tua saya akan menghemat air sumur yang tinggal sedikit dan keruh dan perlu diendapkan beberapa waktu sebelum dipakai. Kalau benar-benar habis, biasanya akan membeli air dengan harga yang setiap tahun semakin mahal. Kalau ramalan bahwa dalam beberapa tahun ke depan krisis air di pulau Jawa akan semakin parah itu benar, tentu penderitaan warga di desa saya semakin berat.

Kalau sebagian warga masyarakat biasa menyia-nyiakan air, maka yang dilakukan pemerintah dan korporasi  malah cenderung merusak cadangan air atau menjadikannya sebagai komoditas yang memberikan keuntungan tinggi. Soal krisis air serta banjir tidak cukup karena perilaku orang-per rang, tapi memang ada kebijakan skala luas yang menyebabkannya. Di Jawa khususnya, 16 Daerah Aliran Sungai (DAS) yang selama ini menjadi wilayah infiltasi air hujan, cadangan air tanah, pencegahan erosi dan sedimentasi tanah dan pencegahan pencemaran air, telah rusak atau kritis.   Kritis dan rusaknya DAS tersebut tentu terkait dengan alih fungsi lahan, baik untuk lahan pertanian, perumahan, maupun infrastruktur lainnya.  Maka tak heran kalau musim kemarau tiba, sebagian besar wilayah di Jawa menjadi krisis air, tapi ketika musim hujan datang, banjir juga melanda daerah tersebut. Wilayah di sepanjang DAS Bengawan Solo adalah contohnya.

Bukannya rusaknya DAS ditangani dengan baik, tapi justru pemerintah seperti membuka luka baru lagi, dengan memberikan ijin bagi korporasi melakukan eksploitasi daerah yang selama ini menjadi daerah cadangan air bagi masyarakat dan kehidupan makhluk di sekitarnya, misalnya  pemberian ijin atas rencana ekspoitasi pegunungan Kendeng Utara untuk dijadikan wilayah pemasok bahan baku semen sekaligus pabriknya. Bahkan tidak cukup di situ, pemerintah provinsi Jawa Tengah juga mengubah Rencana Tata Ruang dan Tata Wilayah (RTRW) untuk memuluskan rencana eksploitasi tersebut. Padahal pegunungan Kendeng Utara merupakan kawasan kars yang terdapat banyak sekali sumber mata air. Menurut penelitian ASC Yogyakarta, terdapat 33 sumber mata air di kawasan kars Grobogan, dan 79 sumber mata air di kars Pati. Dan, keseluruhan sumber mata air tadi airnya terus mengalir dengan debit yang konstan. Tapi, kini kedua wilayah tersebut sedang diincar untuk dieksploitasi, dan warganya dipecah-belah.

Tapi sudahlah, terlalu banyak untuk disampaikan. Yang jelas, seperti termuat dalam beberapa laporan internasional, banyak negara mengalami krisis air, tidak hanya India dan Indonesia. Upaya-upaya juga telah dilakukan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat sipil untuk mengatasinya. Tapi kita tahu, kerusakan dan krisis berjalan lebih cepat daripada upaya pencegahan dan perbaikan. Walaupun begitu, upaya “kecil” yang telah dilakukan oleh Aabid Surti perlu diapresiasi dan ditiru, tentu sesuai dengan konteksnya masing-masing. Yang menarik dan sering di luar perhatian kita, sejalan dengan Seyyed Hossein Nasr, Aabid memandang air sebagai sesuatu yang sakral. Sehingga pemulihan terhadap krisis alam sekarang ini, pertama-tama adalah memulihkan pemahaman kita terhadap alam sebagai sesuatu yang sakral. Jadi, sangat mungkin bahwa krisis air yang terjadi selama ini akarnya berangkat dari krisis spiritual. Wallahu a’lam



Tinggalkan komentar