coretan kebun belakang

tentang kawan, buku, perjalanan


Permainan Mak Sup

Mas Karto tahu, kalau memboncengkanku dari stasiun Kota ke Tembok Bolong, Muara Baru, pasti ia mengayuh sepeda ojeknya dengan santai, apalagi ketika melewati kawasan Kota Tua. Mas Karto juga tahu betapa sia-sianya mengajakku bicara pada saat seperti itu. Dia baru ngajak ngobrol ketika sudah melewati Kota Tua.

Bagiku, menikmati suasana Kota Tua di atas sepeda seperti memutar waktu ke masa silam, ketika semua hal masih berjalan dengan lambat. Waktu yang diputar ke masa silam kemudian menghadirkan pejuang-pejuang jaman pergerakan yang berjalan menyusuri lorong-lorong gedung-gedung tua itu, bukan bayangan para kumpeni. Bayangan terhadap kota tua di mana-mana selalu sama, seperti juga ketika melintasi Kota Tua di Semarang. Ketika berjalan menyusurinya, seolah aku menjejaki kembali tapak langkah Semaoen yang hilir mudik mengorganisasikan serikat buruh.

Walaupun polusi udara tidak bisa menipu, tapi angin sore yang menerpa wajahku dari segala penjuru, segera meruntuhkan kepenatan dan rasa lelah. Belum cukup sampai di situ, rasa lelah yang runtuh itu kemudian remuk dilindas roda sepeda Mas Karto. Suasana dan imajinasi seperti itu membuatku tak bosan-bosan melewati kota tua dimanapun tempatnya.

Sore ini  tidak seperti hari-hari sebelumnya. Suasana Kota Tua itu kalah menarik dari bayangan lain. Di kepalaku hanya ada senyum lebar seorang perempuan setengah tua, seorang organiser perempuan miskin kota. Apalagi aku membawa oleh-oleh hasil dari lokakarya penggunaan permainan untuk penguatan kelompok, yang dilaksanakan di Bandung. Ya, inilah oleh-oleh yang ia inginkan. Kuingat terus pesannya sebelum berangkat, “Bawa oleh-oleh permainan yang banyak ya, biar Emak nanti bisa belajar,” katanya kala itu. Bagi organiser komunitas, permainan untuk penguatan kelompok itu ibarat senjata bagi prajurit, metafora bagi seorang penyair. Semakin banyak permainan yang dikuasai, semakin dia percaya diri.

Untungnya lokakarya di Bandung tersebut memberi banyak permainan, jadi harapan Mak Sup tidak sia-sia. Selain dari fasilitator, permainan baru juga diberikan oleh peserta lain. Memang jauh-jauh hari pantia sudah meminta calon peserta untuk menyiapkan tiga permainan yang dikuasai yang nanti akan diperagakan dan dibagikan kepada peserta lain. Bisa dibayangkan banyaknya jika dari dua puluh peserta setiap orang membawa tiga permainan. Dengan antusias kuamati dan kuingat semua permainan baru, yang belum kukuasai. Bahkan beberapa permainan ada yang kucatat, mulai dari proses sampai peralatan yang digunakan.

“Ah, banjir lagi!”

“Sudah seminggu ini mbak, apalagi tanggulnya jebol,” Mas Karto menjelaskan.

Mas Karto turun dari sepeda, kemudian menuntunnya serta memintaku untuk tidak usah ikut turun. Banjir di Muara Baru seringkali bukan disebabkan oleh derasnya hujan, tapi karena rob air laut. Ini seperti kutukan yang muncul dari tahun ke tahun tanpa ada penanganan. Apalagi sekarang diikuti tanggul jebol, pasti air meluncur bebas dari laut ke permukiman penduduk sampai ke jalan raya Muara Baru. Mobil-mobil pribadi, angkutan umum dan truk-truk seperti direndam dalam baskom bersama sampah-sampah. Tukang becak, penarik gerobak, tukang ojek sepeda dan anak-anak berpesta. Inilah saat mereka memperoleh kemenangan kecil dari pertarungan rutin yang tidak seimbang yang mereka jalani dari hari ke hari.  Mas Karto mlipir mencari celah ruang di antara kendaraan yang macet. Mas Karto sudah lihai memilih jalan sekaligus menyerobot ruas jalan dengan berbekal tangan kiri diangkat dan telapaknya menganga sebagai tanda sebuah permisi juga permintaan maaf.

***

Mas Karto sudah empat tahun menjadi tukang ojek sepeda. Awal kedatangannya di Jakarta, dia menjadi tukang becak yang mangkalnya di dekat pertokoan Roxy. Tapi karena ada penggarukan becak besar-besaran yang berakhir dengan bentrok antara tukang becak dengan aparat Trantib, dia pindah ke perempatan Muara Baru. Tapi lagi-lagi dia kena garuk menjelang tengah malam ketika mengantar penumpang ke jalan raya Hayam Wuruk. Kawan-kawannya di Serikat Becak Jakarta sebenarnya sudah mewanti-wanti untuk tidak terlalu sembrono membawa penumpang ke jalan raya di daerah kota. Malam itu Mas Karto benar-benar apes. Selain becaknya kena garuk, rumah bedeng tempat tinggal bagi dirinya beserta isteri dan dua anaknya yang berdiri di bantaran danau Pluit malam itu juga habis terbakar bersama ratusan rumah lainnya.

Beberapa warga mengatakan permukiman itu sengaja dibakar, karena sebelum terbakar ada orang yang tidak dikenal masuk ke lorong-lorong rumah warga, tapi itu susah dibuktikan. Beruntung Mas Karto ikut organisasi, karena setelah musibah itu kawan-kawan dan juga pelbagai pihak membantunya membangun kembali rumahnya dan meminjami uang untuk membeli becak. Karena uangnya tidak cukup membeli becak, Mas Karto memilih membeli sepeda. Sejak itu Mas Karto beralih menjadi tukang ojek sepeda yang mangkalnya di stasiun Kota. Dan sejak itu pula Mas Karto menjadi langgananku, setia mengantar dari stasiun Kota ke kampung-kampung di kawasan Muara Baru.

***

Dengan cekatan Mas Karto membelokkan sepedanya ke gang yang diapit rumah-rumah yang atapnya menjorok ke jalan setapak. Rumah-rumah berdempetan seperti tanpa celah satu senti pun. Dinding-dindingnya dari triplek dan seng. Atap-atap rumah juga dari seng yang dibebani dengan bata atau batu dan kadang-kadang sepeda anak-anak yang telah rusak pun dipakai agar angin yang datang tidak membawa kabur atap-atap seng itu. Kerumunan orang seolah tidak pernah habis di sepanjang gang itu. Apalagi ketika air rob masuk ke rumah-rumah seperti sekarang, mereka lebih memilih duduk di beranda depan rumah.

“ Mbak Epi, mampir!” Mbak Sayem berteriak dari dalam rumahnya. Aku tidak keberatan orang-orang kampung memanggil Epi, tapi hanya heran kenapa ibu-ibu kampung itu susah sekali mengucapkan huruf V, sehingga nama Evi pun dipanggil Epi.

“Eh, Mbak Sayem. Apa kabar?” Aku meminta Mas Karto berhenti sebentar agar aku bisa berbincang dengan Mbak Sayem.

“Mbak Epi tahu sendiri, tuh rumah tergenang. Sudah seminggu ini, Mbak. Apalagi Santi kena diare lagi, jadi tambah pusing deh saya” keluh Mbak Sayem. Santi adalah anaknya satu-satunya yang kini berumur sekitar tiga tahun, buah perkawinannya dengan Mas Cahyo.

“Hmm, sudah diperiksakan ke dokter?”

“ Sudah ke Puskesmas kemarin, tapi sampai sekarang badannya masih panas.”

Tidak lama aku berbincang dengan Mbak Sayem. Aku hanya berjanji untuk menyampaikan apa yang menimpa Mbak Sayem, terutama sakitnya Santi, kepada kelompok-kelompok tabungan lain, agar mereka mengetahui dan setelah itu akan melakukan sesuatu sebagai bentuk solidaritas, seperti biasanya.

Sapaan yang muncul dari permukiman miskin, seperti yang dilakukan Mbak Sayem itu selalu membahagiakanku. Apalagi kalau aku bisa berbincang dan sedikit bisa menyemangatinya. Suatu waktu aku pernah menceritakan hal ini pada Dony, kekasihku, tapi  Dony menanggapinya biasa saja.

Telah tujuh tahun berpacaran dengan Dony, tapi aku merasa semakin hari kami semakin asing satu sama lain. Kurasa Dony telah berubah akhir-akhir ini. Cita-cita dan semangat mengubah keadaan masyarakat yang ada pada dirinya dulu, sepertinya kini sudah menguap. Kami semakin sering berdebat. Awalnya soal pilihan pekerjaan, tapi akhirnya hal-hal sepele bisa jadi bahan pertengkaran. Padahal orang tua kami baru saja bertemu dan meminta kami untuk segera menikah, terutama ibuku. Jikalau Dony tidak berubah seperti sekarang ini, tentu aku dengan senang hati menyambut permintaan orang tua tersebut. Kini, aku menjadi ragu terhadap hubungan ini.

“Mbak, sudah sampai. Mbak…mbak,” teguran Mas Karto membuyarkan lamunanku.

“ Eeh, sori Mas, ngelamun tadi…hehe?”

“ Mau ditunggu nggak, mbak?”

“ Gak usah, mungkin agak lama ini”

“ Baik, Mbak.” Mas Karto kembali mengayuh sepedanya menuju stasiun Kota setelah kubayar jasanya.

Rumah Mak Sup terlihat sepi dari biasanya. Setelah kuucapkan salam dan tidak ada jawaban, aku langsung masuk saja. Ruangan depan nampak gelap karena semua jendela ditutup, dan pintu depan hanya dibuka setengah. Terdengar isak tangis dari bale-bale yang ada di ruang depan, tempat biasa Mak Sup tidur.

“Mak…mak,” aku mencoba memanggil Mak Sup sambil melangkah mendekati arah tangisan. Suara tangisan berhenti. Mak Sup membalikkan badan kemudian beranjak duduk dan memandang wajahku.

“ Epi?”

“Iya, Mak,” jawabku pendek.

Aku duduk di sebelah Mak Sup kemudian memeluknya erat. Mak Sup kembali terisak.

“Ada apa, Mak?” tanyaku

“ Gendhuk, Pi.”

“Ada apa dengan Gendhuk?”

Mak Sup kemudian cerita bahwa Gendhuk, anak perempuan satu-satunya, mendapat masalah di Arab. Baru saja teman Gendhuk  di Arab memberi kabar kalau Gendhuk beberapa waktu ini sering dianiaya majikannya, hanya karena ia meminta upah yang belum dibayar. Kembali air mata Mak Sup jatuh.

“Oke, Mak. Besok kita laporkan ke lembaga yang ngurusin soal ini. Yang penting emak siapin berkas-berkas berkaitan dengan keberangkatan Gendhuk ya,” kataku menenangkan.

Iya, Pi. Terima kasih.”

“Ngomong-ngomong, kamu bawa oleh-oleh permainan itu?” lanjut Mak Sup.

“Tentu, Mak,” jawabku.

Lalu kuceritakan soal permainan-permainan yang kudapatkan, tapi tidak semuanya. Hanya yang menurutku menarik dan pas kalau digunakan di kelompok-kelompok tabungan perempuan miskin kota. Mak Sup mendengar dengan penuh antusias, sesekali mengajukan pertanyaan.

“ Kalau permainan yang membuat orang tertawa dan bergembira terus ada gak, Pi?”

“Haha, ya gak ada kalau tertawa terus-terusan, Mak. Tapi ada permainan yang ketika dilakukan, peserta menjadi tertawa dan bahagia,” jelasku.

“Permaianan apa, itu?” tanya Mak Sup.

“ Lingkaran Tertawa namanya,” jawabku.

“Oke, ajari aku ya, Pi. Nanti kalau sudah bisa, akan kupraktekkan setiap hari bersama teman-teman agar mereka tertawa dan bahagia setiap hari,” ujar Mak Sup.

“Kamu mau ikut permainan itu setiap hari, Pi?” pertanyaan Mak Sup mengagetkanku.

“Ah, enggak tahu, Mak,” jawabku pendek.

“ Kalau kamu lagi sedih, ikut saja,” ujar Mak Sup

“Ah, aku gak lagi sedih kok, Mak”

Mata Mak Sup menatapku, dan kuberanikan juga menatapnya. Aku seperti berkaca melalui bola matanya. Wajahku nampak kusut, ada mata panda di wajahku. Bulatan hitam itu semakin hitam dan melebar. Warna rambutku juga mulai mengikuti warna rambut Mak Sup. Sementara wajah Dony berkelebat di belakang rambut Mak Sup, sambil tersenyum.



2 tanggapan untuk “Permainan Mak Sup”

  1. “kelompok-kelompok tabungan perempuan miskin kota” Itu apa dab?

    1. Kelompok tabungan harian yang anggotanya semua perempuan. ini media agar mereka bisa saling ketemu dan membicarakan masalah, sekaligus menyelesaikannya

Tinggalkan komentar