coretan kebun belakang

tentang kawan, buku, perjalanan


Franky di Halaman Rakyat, di Perkampungan Bunga

Beberapa tahun lalu, saya termasuk orang yang menyayangkan perubahan yang terjadi dalam  diri Franky Sahilatua. Hati saya seperti mengatakan,”Mengapa orang yang dikarunia talenta besar dalam bermusik sekarang malah sibuk dalam hiruk pikuk perpolitikan negeri ini”. Saya takut dia akan bernasib seperti idola saya yang lain, Rhoma Irama.

Rhoma yang cemerlang sebagai penyanyi dan pencipta lagu dangdut mulai kehilangan pamornya ketika masuk Partai Persatuan Pembangunan. Kata-kata yang keluar dari mulutnya seperti tidak punya arti lagi, apalagi menghibur.  Saya takut tidak akan ada lagi lagu seperti “ Kepada Angin dan Burung-burung” atau “Musim Bunga” yang mengalun manis dari dirinya dan Jane. Ketakutan itu mungkin bagai sebuah aquarium, dimana orang yang saya kagumi harus tetap dalam posisi ideal atau minimal tidak keluar dari kerangka yang saya bayangkan. Kalau perlu, tidak usah melakukan apapun agar yang baik yang pernah dia perbuat tetap tidak terusik oleh kekurangan. Ketakutan saya terhadap Franky  berakhir dengan pemakluman. Apalagi, seperti dikatakan Franky  sendiri dalam sebuah perbicangan bersama kawan-kawan UPC di warung komplek TIM tahun 2004 lalu, bahwa dia tidak bisa berkonsentrasi dalam dua hal yang berbeda. Harus total dalam satu bidang saja. Kalau mau bermusik ya harus meninggalkan politik, dan kalau berpolitik ya  meninggalkan musik, katanya. “ Saya tidak bisa menulis lagu kalau sedang dalam aktifitas gerakan,” katanya dulu. Dan dia memang telah memilih terlibat dalam gerakan sosial. Berpolitik walaupun tidak masuk partai politik. Franky tidak salah. Mungkin memang harus seperti itu.  Seperti juga Rendra yang tidak hanya berubah tapi bahkan mengritik para penyair salon yang hanya bersajak tentang anggur dan rembulan. Seniman memang tidak boleh lepas dari realitas sosial, mungkin begitu pilihan Franky.  Dan Franky tak hanya tidak terlepas dari realitas sosial dalam lirik lagunya saja, tapi akhirnya merembet ke gerak hidupnya. Demikianlah, setelah berkawan dengan para politisi Franky juga berkawan dengan aktifis gerakan sosial dan pro demokrasi, bahkan terlibat serius di dalamnya. Waktu ketemu di TIM dulu dia juga menjadi bagian dari Pergerakan Indonesia (PI), dan entah mulai kapan pada akhirnya dia menjadi bagian dari ormas Nasional Demokrat (NASDEM). Perubahan yang terjadi pada Franky di satu sisi menggembirakan bagi kelompok pro demokrasi atau gerakan sosial karena Franky termasuk seniman yang ringan tangan kalau dimintai tolong. Misalnya pada tahun 2002-2003 UPC meminta tolong dia untuk mendatangi, memberi semangat dan membagi ilmu soal musik ke kelompok-kelompok penyanyi jalanan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Franky dengan senang hati bersedia, tanpa bicara berapa honor yang musti dibayarkan untuk itu. Tentu saja kelompok-kelompok penyanyi jalanan yang didatangi sangat senang dan antusias dengan kedatangannya. Tahun-tahun berikutnya sepertinya Franky tak pernah absen dalam kegiatan kelompok-kelompok pro-demokrasi dan gerakan sosial seperti petani, buruh migran, dan lain sebagainya. Di sisi lain, sepertinya benar kata Franky tentang dirinya sendiri yang kesulitan bergerak dalam dua aktivitas yang membutuhkan totalitas, musik dan gerak politik. Walaupun akhirnya ada juga lagu yang tercipta untuk tujuan gerakan, tapi  menurut saya tetap saja tidak seindah dulu ketika dia belum bersentuhan dengan dunia gerakan. Bagaimanapun Franky kini telah merampungkan tugasnya. Dia kini tinggal memanen benih bunga yang dia sebar di halaman rakyat, di perkampungan bunga.



Tinggalkan komentar