kangen uplink (1)
Jalan Andi Tonro tidak berubah sejak tiga setengah tahun lalu. Tidak pula ingatan saya terhadap kampung di sebelah utara dan selatannya. Kampung tersebut masuk kelurahan Pa’Baeng-baeng, kecamatan Tamalate, Makassar. Di kecamatan Tamalate inilah, terutama di kelurahan Pa’Baeng-baeng, Maccini Sombala dan Parang Tambung, perempuan-perempuan penggerak Komite Perjuangan Rakyat Miskin (KPRM) berada.
Kemarin lalu, saya masuki lagi kampung di selatan jalan. Becak-becak masih mangkal di ujung jalan Andi Tonro 4, di bawah gapura bambu yang telah condong ke kanan. Tulisan di gapura bagian atas sudah tidak bisa terbaca. Sebagian paku telah njepat sehingga rusuk-rusuk bambu nampak nggantung kehilangan pegangan. Rumah-rumah di sepanjang jalan Andi Tonro 4 juga tidak berubah. Rumah-rumah di sebelah timur lebih besar dibanding sebelah barat jalan. Sekira 300 meter ada perempatan yang di pojok seberang barat nampak masjid plus menara. Saya mengambil jalan yang ke timur, ke rumah Hasnia Daeng Caya. Kali ini ada yang berubah di situ. Jalan-jalan sudah tidak tergenang air lagi. Tiga tahun lalu, tidak mudah melalui jalan ini. Harus mlipir dan mencari batu-batu untuk menapak, menghindari genangan air. Apalagi saat musim hujan seperti sekarang, air yang menggenang bisa berminggu-minggu, itupun jika tidak hujan lagi.
“ Jalan-jalan di sini sudah bagus mas, tidak seperti dulu lagi. Ini bagian keberhasilan KPRM,” ujar Daeng Caya.
“Saya bilang ke pak wali, kenapa yang diperbaiki jalan yang sudah bagus, bukannya jalan di kampung-kampung miskin yang jelek dan kebanjiran. Setelah itu, malam-malam datang tiga truk, bawa pasir dan tanah menimbun jalan di sini,” lanjutnya dengan suara sengau ketika mengucap kata dengan akhiran n.
Daeng Caya biasa memanggil walikota Makassar sekarang, Ilham Arief Sirajuddin, dengan menyingkat menjadi pak wali saja. Selama kami ngobrol, berkali-kali Daeng Caya mencoba telpon atau kirim sms pak wali, memastikan pertemuan untuk membahas program land sharing bagi rakyat miskin di kampung Pisang, Pa’Baeng-baeng. Keakraban ini berawal dari kontrak politik yang dilakukan KPRM-Uplink dengan Ilham Arief Sirajuddin dan Supomo Guntur (IASMO) ketika pemilukada tahun 2008. KPRM, dengan Daeng Caya sebagai koordinator, akan mendukung IASMO jika mereka mau menandatangani kontrak politik. Kontrak tersebut berisi lima pernyataan yang harus dilakukan jika IASMO menang. Semua berkait dengan hak-hak rakyat miskin kota dan warga lainnya. Kesepakatan terjadi dan deklarasi kontrak politik dilakukan pada 18 Oktober 2008 di lapangan pacuan kuda, Parang Tambung, dihadapan puluhan ribu orang.
“ Kalau saya pikir, sudah lima puluh persen pak wali menepati janjinya.”
“Apa yang belum, Daeng?” tanya saya
“Menata kampung dan kota dengan baik, walau ada juga saluran air yang sudah diperbaiki.”
“Walau saya kelihatan dekat dengan pak wali, mas, tetapi saya tetap demo dia jika merugikan rakyat. Pernah dia marah karena saya demo. Kami berbantahan seperti anak kecil…hahaha,”

Kami ngobrol di ruang tamu dengan sesekali disela oleh datangnya pembeli. Toko kelontong di ruang depan terbilang baru, juga asmaul husna dalam pigura emas yang tergantung di ruang tamu menghadap pintu masuk. Tiga tahun lalu belum ada. Selain itu, semua nampak sama, seperti mesin jahit merek Butterfly yang masih teronggok di pojok sebelah kanan ruang tamu.
Rumah Daeng Caya tidak berbeda dengan rumah-rumah di gang itu. Rumah panggung khas Makassar. Tangga menuju lantai dua ada di ruang belakang, dekat kamar mandi. Teras depan lantai dua dipakai untuk ruang bersantai dan untuk menjemur pakaian. Nampak pakaian yang dijemur saling tindih, berbagi tempat, terus bertambah akibat tidak ada panas dalam beberapa hari ini.
“Ini mas, enak. Namanya jalan kote, anggota juga yang buat,” ucap Daeng Caya sambil membawa satu piring jalan kote yang dibeli dari tetangga.
“ Kenapa namanya jalan kote, Daeng?”
“ Saya tidak tahu, hehe…, katanya kote itu bunyi ayam berkotek, hahaha”
Saya pikir ada benarnya juga pernyataan Daeng Caya. Jalan kote adalah makanan yang di Jawa biasa disebut pastel, yang berisi kentang, bihun, irisan telur dan wortel. Bentuknya seperti kepala ayam dengan gerigi seperti jengger di salah satu sisinya. Biasa dimakan dengan saus pedas yang dimasukkan ke dalamnya. Mungkin karena kepedasan itu, ayam menjadi berkotek-kotek.
Setelah hujan reda, Daeng Caya mengajak saya jalan ke rumah teman-teman KPRM yang lain. Ke rumah Daeng Lija, Daeng Kébo dan Daeng Nur. Rumah Daeng Lija lebih dekat, walaupun berbeda kelurahan dari Daeng Caya. Sedang rumah Daeng Kébo dan Daeng Nur di Maccini Sombala, agak jauh sehingga perlu naik becak kesana. Cerita mengalir dari rumah-rumah yang saya kunjungi.
“Saya dulu pernah lihat mbak Dian nangis di kantor Kalimalang, kenapa mas?” tanya Daeng Kébo mengagetkan saya.
“Hahaha…, saya tidak tahu Daeng. Banyak orang pernah menangis di kantor kita itu, hahaha….”
Pertanyaan Daeng Kebo itu justru mengingatkan saya pada cerita Daeng Caya bahwa sebenarnya banyak anggota KPRM mendukung Daeng Kébo menjadi penggantinya sebagai koordinator, tapi Daeng Kébo tidak mau.
“ Daeng Kébo tidak mau jadi ketua karena dia masih gampang menangis,”
“Bagaimana nanti kalau dilihat anggota kalau ketuanya menangis, begitu katanya mas” ujar Daeng Caya menirukan perkataan Daeng Kébo.
Saya tidak mampu menahan tawa setelahnya. Daeng, kali ini tidak usahlah menangis…

Tinggalkan komentar