Suatu waktu di tahun 1999 saya mendengar semacam pengakuan dari Mas G.M. Sudarta tentang profesi yang dilakoninya sebagai kartunis. Menurutnya, bekerja sebagai kartunis adalah pekerjaan yang sedih. Tiap hari dia harus berfikir, menghayati, dan menggambarkan kondisi buruk yang dialami bangsa. Tentang mereka yang kelaparan, kebanjiran, digusur, terkena wabah penyakit, tertimbun tanah longsor, ditipu politikus, dan seluruh penderitaan lain yang dialami. Sedang di sisi lain ada mereka yang berkuasa, secara politik maupun ekonomi, yang kondisinya nampak kontras dengan yang dialami rakyat. Hidup penuh kemewahan, menghamburkan uang, pamer kerakusan, masa bodo, mengkhianati mandat, dan sewenang-wenang. Puluhan tahun rutinitas seperti itu telah dijalani beliau dan kadang merenggut daya tahan fisiknya.
Mungkin tidak berlebihan jika “pekerjaan” sebagai fasilitator yang bergumul dengan persoalan-persoalan rakyat pun mengalami hal yang sama. Pikirannya akan dipenuhi dengan cerita-cerita kepedihan. Ketika di jaringan rakyat miskin kota dulu, saya bersama banyak kawan biasa menjadi fasilitator pelatihan atau pengembangan kapasitas lainnya bagi para aktivis maupun penggerak kampung. Mereka sebagian besar adalah bagian dari rakyat miskin kota (RMK) yang mengalami banyak penindasan dan penyingkiran oleh berbagai kekuatan, yang menyebabkan mereka tergusur, kebanjiran, kebakaran, dan terbunuh. Upaya “menolong mereka untuk menolong diri mereka sendiri” harus didasarkan atas pemahaman yang dalam terhadap masalah yang dihadapi RMK. Misalnya soal kemiskinan yang dihadapi keluarga, ihwal migrasi ke kota, lingkungan pemukiman dan pekerjaan yang buruk di kota, upaya pengusiran oleh penguasa kota,dan macam-macam lainnya. Mungkin kita bisa ambil satu contoh, cerita tentang Mbak War misalnya.
Wartiyah melakukan migrasi ke Jakarta pada usia 24 tahun dengan status pengangguran-janda beranak satu. Pergi ke Jakarta bukan tanpa alasan, bahkan teramat masuk akal alasannya. Hidup sebagai penjahit di desa, hanya ramai ketika menjelang lebaran saja. Penghasilannya tidak cukup untuk menghidupi anak, bapak, dan dirinya sendiri. Apalagi Mbak War telah memutuskan bercerai karena tak tahan dengan perlakuan suaminya yang kerap menganiayanya. Ke Jakarta berbekal uang hasil menjual lemari, menuju wilayah Tanah Merah dengan harapan sebentar ngaso di tempat saudaranya. Tanah Merah juga bukan sekedar tempat tumpangan, di sini terdapat banyak usaha konveksi sehingga harapan mendapat pekerjaan ada dalam pikiran Mbak War. Setelah benar-benar mendapatkan pekerjaan sebagai penjahit dan sesekali sebagai tukang cuci-gosok pakaian, Mbak War memutuskan menikah lagi dengan seorang tukang ojek sepeda. Badai pelan-pelan reda, mbak War bisa menapaki hidupnya dengan lebih tenang. Tetapi itu tidak lama. Krisis melanda negeri kemudian kontrakannya digusur. Dan itu memaksanya pulang ke kampung lagi.
Setelah mengalami berkali-kali penggusuran dan migrasi ulang-aling desa-kota, Mbak War akhirnya bisa menetap selama lima tahun di kolong tol Rawa Bebek. Selama di Rawa Bebek Mbak War telah mengembangkan dirinya menjadi penggerak kampung, yang peduli dan melakukan sesuatu untuk kampungnya. Badai datang lagi, tahun 2007 terjadi penggusuran besar-besaran pemukiman kolong tol di Jakarta Utara. Mbak War pindah lagi, kini ke Tembok Bolong, Muara Baru. Cukup dua tahun dia dan keluarganya di situ. Dia jual rumahnya, pulang balik ke desa karena suaminya diberhentikan dari kerja dan dia tidak mempunyai modal yang cukup untuk memulai usaha di Jakarta, sekaligus menghidupi anak-anaknya yang masih bersekolah. Kini Mbak War menjadi penjual nasi di terminal Sokaraja, Banyumas. Kembali menyusuri jalan yang pedih..
Cerita semacam itu mungkin ada puluhan bahkan ratusan kali kudengar. Repotnya, mendengar saja tidak cukup, tapi juga mencoba mencari jalan keluar bersama dari masalah itu. Di balai atau rumah warga, di tempat pelatihan upaya-upaya mencari sebab masalah dan jalan keluar dilakukan. Ada upaya penguatan diri ke dalam dulu yang dilakukan agar semakin banyak RMK terlibat dan kuat kohesinya. Ada pula melakukan desakan atau tuntutan ke pihak pengambil kebijakan agar masalah bisa terselesaikan lewat sebuah atau perubahan kebijakan. Tapi selama ini, terlalu sedikit cerita tentang perubahan kebijakan jika dibandingkan dengan cerita kesedihan.
Tak hanya memfasilitasi RMK, ketika memfasilitasi pelatihan menulis untuk aktivis di Kalimantan Timur beberapa waktu lalu pun kesedihan juga terasa. Bukan persoalan kemiskinan yang melanda mereka, tapi soal cerita kawan-kawan tentang hancurnya hutan dan peradaban komunitas lokal akibat penggundulan hutan dan penambangan. Peradaban hutan dan sungai hancur akibat hutan gundul dan diganti dengan pertambangan batubara. Kita ketahui, Kalimantan Timur merupakan produsen batubara terbesar di Indonesia dengan luas konsesi penambangan batubara lebih dari 3 juta hektar. Akhirnya setiap tahun Samarinda dilanda banjir, buaya-buaya yang disebut “monster Sangatta” muncul dan memakan manusia karena sungai-sungai telah tercemar, warga terserang ISPA, jalan-jalan rusak karena dilalui kendaraan berat, orang dayak dan peradabannya hancur, dan warga tergusur dari kampung-kampungnya dengan ganti rugi yang sangat murah.
Kehancuran alam Kalimantan sudah bukan rahasia umum, bahkan sebenarnya kehancuran itu sudah dinubuatkan oleh Raja Putih, Sir Charles James Brooke pada tahun 1915 yang disampaikan kepada penduduk asli Kalimantan. Khusus untuk Kalimantan Timur, akhir-akhir ini semakin menggila kehancurannya, bahkan sebuah harian nasional pernah memampangkan di halaman depan tentang kerusakan lingkungan akibat penambangan beberapa waktu lalu. Gubernur Kaltim, Awang Faroek, merasa malu dengan kondisi itu dan menyatakan perlunya moratorium terhadap pertambangan batubara. Tapi belum sampai dua puluh empat jam, moratorium itu dicabut. Gubernur mengatakan bukan wewenangnya untuk melakukan itu. Ah, semua orang tahu bahwa banyak pihak, khususnya pengusaha tambang, menekan Gubernur. Akhirnya kehancuran itu terus berlanjut.
Cerita sedih itu lebih detail dari yang selama ini saya ketahui, lewat presentasi salah seorang peserta pelatihan dan kawan-kawan dari Samarinda lainnya. Kawan-kawan juga telah berupaya bagaimana menghentikan penghancuran itu, lewat berbagai cara. Semua memang belum banyak berubah ke arah perbaikan, tapi mereka belum patah semangat. Itulah salah satu hal yang mendorong untuk terus berkutat dengan pekerjaan yang pedih, dan tidak membiarkan semua kesedihan itu menjadi abadi.

Tinggalkan komentar