coretan kebun belakang

tentang kawan, buku, perjalanan


Suatu Ketika di Stasiun Poncol ( untuk mas K)

Mungkin kamu sengaja duduk di dekatku waktu itu. Mungkin kamu terpengaruh pembicaraanku dengan perempuan pemilik warung makan di pojok selatan Stasiun Poncol, Semarang. Kamu menyapa dengan pertanyaan klise, sebuah pertanyaan pembuka bagi percakapan antar penumpang di seluruh Jawa, “Badhe tindak pundi?” Setelah kujawab dan sebagai ungkapan perhatian terhadapmu, pertanyaan tersebut kusampaikan balik padamu. Bentuk wajah dan rambutmu mengingatkanku pada kawan-kawan kuliah dari Maluku Utara dulu. Padahal kamu asli kelahiran dan keturunan orang Semarang yang menghabiskan masa muda di Jakarta. Kereta ke Jakarta masih enam jam lagi. Kamu memilih menunggu di stasiun dan mencoba mengikis waktu panjang itu dengan menumpahkan endapan luka masa lalumu padaku.

Pagi itu kamu baru saja mengunjungi makam Nina (sebut saja begitu), anak perempuanmu yang meninggal karena kecelakaan motor. Menurut beberapa cerita, pada hari naas itu Nina dihampiri kawannya dan diajak main dengan naik sepeda motor. Bukan kegembiraan yang terjadi, tapi justru kecelakaan yang menimpa Nina. Yang menyedihkan lagi, kawan yang mengajak Nina selamat, tapi Nina tidak. Kamu tidak menceritakan detail kejadian kecelakaan itu, aku pun tahu diri untuk sekedar mendengar saja, tidak bertanya terlalu jauh. Nina baru kelas enam SD, 11 tahun usianya. Sejak ibu Nina meninggal karena gagal ginjal, kamu menitipkan Nina ke mertuamu di Semarang. Kamu berharap sang kakek bisa merawat dan menjaga Nina. Kamu juga berpesan agar Nina dimasukkan SD untuk melanjutkan sekolahnya yang baru sampai kelas tiga. Kamu menitipkan sejumlah uang yang dirasa cukup untuk memasukkan Nina ke sekolah dasar. Tapi tanpa sepengetahuanmu, Nina malah dimasukkan ke pesantren oleh kakeknya, atau tepatnya sekolah umum (orang pesantren menyebutnya modern) yang ada dilingkungan pesantren. Seorang tetangga  mertuamu akhirnya memberitahumu di mana Nina sekolah dengan, tentu saja, minta imbalan plus untuk tidak menyebut-nyebut namanya sebagai orang yang memberitahu tempat itu. Setelah mendengar cerita itu, kamu mencari pesantren tempat anakmu sekolah. Kamu sedih melihat sekolahan anakmu, karena tidak sesuai harapanmu. Walaupun begitu, kamu tetap membiarkan Nina sekolah di situ. Kamu hanya titip kepada Kyai pengelola pesantren untuk merawat anakmu baik-baik.

Biasanya dua kali dalam sebulan kamu ke Semarang, menjenguk anakmu. Membawakan oleh-oleh, dan kadang mengajak jalan-jalan termasuk ke warung di pojok stasiun Poncol ini. Pernah pula kamu memperlihatkan raport anakmu yang bagus nilainya ke Ibu pemilik warung. Ibu pemilik warung amat sayang pada Nina, ini menurut pendapatmu. Pupil matanya yang kelabu, rambut ikal dengan warna kemerahan alami, dan bahasa Jawa halus yang dipunyai Nina, membuat Ibu pemilik warung tersebut terpikat.

Seandainya istrimu masih hidup, kamu tentu tidak akan tersuruk-suruk pergi-pulang  Semarang-Jakarta setiap bulannya. Nina pasti gembira dalam perawatan ibunya, dan mungkin Nina tidak akan pergi naik motor di sore hari dengan kawan sekelasnya itu. Ibunya pasti melarang atau setidak-tidaknya kawannya akan sungkan mengajak Nina pergi. Andai istrimu tidak gagal ginjal dan rumah sakit Fatmawati berhasil merawatnya atau Tuhan mempunyai kehendak lain, tentu kamu tidak akan kesepian dan menggelandang dari kontrakan ke kontrakan seperti ini. Rumahmu telah kau jual untuk biaya rumah sakit istrimu. Anak pertamamu, Desy (juga sebut saja begitu), tidak mau tinggal  bersamamu karena merasa sakit hati denganmu. Desy menganggapmu tidak sungguh-sungguh merawat ibunya sehingga tidak tertolong nyawanya.

Desy telah bekerja di sebuah kantor asuransi yang terletak di dekat Stasiun Beos Kota. Desy selalu menolak uang pemberianmu. Pernah kamu memberi dua juta rupiah yang ditransfer ke rekeningnya, tapi dikembalikan. Kadang untuk menyiasatinya, kamu menemui atasan Desy agar uang pemberiannya ditambahkan dalam gaji bulanan Desy dengan mengatakan sebagai bonus. Desy mempunyai kesamaan hobi denganmu : nonton konser musik. Hampir tiap bulan gajinya habis untuk nonton setiap konser musik di Jakarta. Dari konser grup musik lokal maupun mancanegara. Terakhir kalian ketemu waktu konser Beyonce di JCC. Kamu merasakan kegembiraan di ulang tahunmu beberapa waktu lalu, ketika Desy memberikan bunga yang ditaruh di kamarmu.  Pernah pula di suatu waktu kamu mencari kost Desy di daerah Kebon Kacang. Setelah ketemu, oleh ibu kost Desy, kamu diperbolehkan masuk ke kamar. Kamu terharu ketika melihat fotomu dipajang di meja pojok kamarnya, dan merasa dirimu masih berharga dan diakui sebagai ayah.

Kamu merasa betah dengan pekerjaanmu sekarang, sebagai sopir pribadi seorang bos pemilik pabrik kertas asal Surabaya. Setiap pagi kamu naik motor dari Tangerang Selatan ke Pondok Indah ke rumah bosmu. Mencuci mobil Volvo 77 warna hitam, dan kemudian mengantar bosmu ke gedung BI lantai 7 atau ke pabrik di kawasan MM 2000 Bekasi. Menurutmu, Bosmu orang yang baik. Sering mengajakmu makan di restoran mewah atau jalan-jalan untuk belanja. Kadang jalan-jalannya sampai ke Semarang, Bandung bahkan Bali.

Kini setelah kehilangan istri dan anak kecilmu, kamu masih tidak punya niat menikah lagi. Kamu masih menimbang perasaan Desy, dan berharap dia bisa menerimamu sebagai ayah lagi, tidak ada kemarahan atau dendam. Kalimat yang kamu ucapkan terakhir itu, seperti doa sekaligus nasihat, agar aku juga sabar menunggu kereta rel diesel ekonomi  jurusan Cepu..



Tinggalkan komentar