Apa yang tersisa setelah kita mengangkuti semua barang dan bersiap meninggalkan kontrakan lama menuju tempat baru? Yang pasti ada seorang teman tidak mau repot menjawab pertanyan itu, karena dia tidak pernah repot angkut-angkut barangnya. Kalau pindahan kos, barangnya banyak ditinggal untuk tetangga kos-nya. Biasanya hanya sedikit pakaian, beberapa buku dan barang elektronik saja yang dibawa. Itu berbeda dengan diriku : repot berat! Apalagi ketika musim penghujan seperti sekarang, semua barang yang akan dibawa pindah harus terbungkus rapi agar jangan sampai terkena air. Tidak sekedar dimasukkan dalam dus, tapi ditutup juga dengan kertas koran atau plastik.
Setelah itu, yang tersisa demikian banyak : badan yang lemas dan ngethok-ngethok setelah menata, membersihkan, memasukkan barang-barang ke dus, membongkar lemari atau rak buku, dan menggotongnya ke kendaraan pengangkut. Hmm, apalagi setelah beberapa kali pindahan, mulai SMP sampai sekarang, barang-barang semakin banyak. Dulu barang-barang cukup diangkut dengan motor beberapa kali, sekarang membutuhkan truk. Selain capek, pasti ada rasa kehilangan. Semua yang pernah akrab, akan ditinggalkan. Selamat tinggal pada daun dan ranting pohon rambutan yang mengetuk-ngetuk kaca jendela ketika angin datang menuntunnya, perbincangan tengah malam dengan tetangga, tawar-menawar dengan pedagang sayur yang biasa lewat di depan rumah, bau terasi dari kamar sebelah yang sedang membuat sambal, juga semut-semut yang berbaris rapi dari pojok dinding kamar menuju gelas sisa teh kemarin.
Di luar semua di muka, pindah kontrakan juga membawa kegembiraan. Mengambil buku dari rak dan menaruhnya di dus mengingatkan akan sejarah buku itu : siapa yang memberi atau dibeli bersama siapa. Kadang buku-buku itu seperti menarik-narikku untuk menjelajahi kembali halaman-halamannya. Seperti buku Mati Ketawa Cara Rusia suntingan Dolgopolova, yang edisi bahasa Indonesia-nya diantar oleh Gus Dur, pasti gak rela kalau tidak dibaca lagi. Kupikir buku ini belum ada tandingannya perihal kecerdasan dalam melakukan joke atau sindiran politik. Menurutku, buku tersebut adalah “babon” lelucon-lelucon yang muncul kemudian, bahkan pun lelucon-lelucon yang dibuat Gus Dur. Demikian juga dengan catatan harian atau kerja atau yang berisi dua-duanya. Di notes kecil warna coklat terdapat catatan pertama kali aku datang ke Jakarta dan ketemu dengan kawan-kawan di Billymoon Blok H1/7. Menyenangkan membacanya kembali. Kuingat kembali suasana hampir delapan tahun lalu itu, semua kawan duduk melingkar dan memperkenalkan diri, sedang aku mencatat namanya satu persatu. Nama-nama itu masih tersimpan di notes kecil warna coklat itu. Album-album foto juga minta untuk dilihat kembali. Foto-foto kawan-kawan SMP dan SMA dengan tubuh ceking, dengan gaya aduhai jadulnya : lengan baju seragam dilipat! Bagaimana dengan surat-surat “Raja-raja”? Uff, mungkin itu bagian dari yang menyedihkan, bukan diparagraf ini seharusnya dibicarakan. Bukan persoalan melanggengkan atau tidak bisa melupakan masa lalu dengan terus menyimpan surat-surat itu, tetapi terlalu eman untuk membuang atau membakarnya. Aku berpikir mungkin suatu saat surat-surat itu akan berharga. Suatu ketika di suatu pindahan kos, dari Jogja ke Jakarta, surat-surat itu kutitipkan kawan. Kusampaikan padanya, “ Tolong disimpan dan jaga Surat Raja-raja ini. Jika kamu butuh petunjuk, kamu boleh membuka dan belajar darinya.” Surat-surat itu ternyata disimpan dan dirawat dengan baik, hingga suatu saat kuambil dan kubawa ke Jakarta.
Pindah kontrakan juga berarti memupuk sebuah harapan, seperti melakukan hijrah. Harapan akan ketemu kawan atau tetangga yang lebih menyenangkan, lingkungan yang tenang dan nyaman, hari-hari yang lebih bermakna dan produktif, dan tentu saja spiritualitas yang lebih dalam. Dan tanda-tanda ke arah itu sudah mulai menampakkan diri . Dua hari setelah mengangkut semua barang ke kontrakan baru, aku diundang untuk ikut kenduren atau slametan tetangga yang baru saja memindahkan kuburan orangtuanya. Menurutku ini sungguh luar biasa. Biasanya kita sebagai pendatang baru di sebuah kampung, yang harus pro-aktiv melakukan integrasi sosial. Baru dua hari menetap sudah diundang dalam acara slametan merupakan sebuah langkah yang indah dalam melakukan integrasi. Walau begitu, tidak perlu muluk-muluk dan cepat-cepat untuk melakukan sepuluh langkah pengorganisasian, kunikmati dulu langkah pertama ini.

Tinggalkan komentar