Ada kegembiraan tersendiri ketika menempuh perjalanan dari Tangerang ke Depok dengan bus AgraMas setiap pagi. Bus warna merah tersebut jurusan Tangerang -Cikarang, tidak sampai Depok, sehingga aku harus turun di Pasar Rebo dan setelah itu melanjutkan dengan angkot dan kereta. Aku biasa memilih duduk di deretan sebelah kiri mepet dengan kaca, dengan demikian bisa jelas melihat pemandangan luar ketika kordennya disingkapkan. Duduk di sebelah kiri juga memudahkan untuk keluar karena bangku di sebelah kiri hanya untuk dua orang, sedang yang sebelah kanan untuk tiga orang. Di sebelah kiri artinya juga akan mendapatkan sinar matahari pagi, karena sebagian besar perjalanan bus melaju dari arah utara ke selatan, sehingga badanku akan sedikit lebih hangat. Apalagi suhu dalam bus biasanya dingin, yang kadang memaksaku menggunakan jaket atau sweater. Jadi dengan duduk di sebelah kiri juga sebentuk siasat untuk menyongsong sinar matahari . Dari kebiasaan tersebut aku menjadi sedikit hapal akan keadaaan atau bangunan di kiri jalan, setidaknya dari Metropolis Tangerang sampai masuk gerbang tol lingkar luar Jakarta.
Selain orang-orang yang menunggu angkutan, dari kursi sebelah kiri itu juga terlihat restoran, warung, pabrik, mal, toko besi dan bahan bangunan, agen bus malam, gerbang perumahan elit, dan juga beberapa pompa bensin (tepatnya SPBU). Ada empat macam SPBU yang nampak sepanjang kiri jalan itu : Pertamina, Shell, Petronas, dan Total. Yang pertama selalu ramai, dan ketiga berikutnya selalu sepi. Yang sepi ini selalu menarik, terutama melihat apa yang dilakukan para penjaga atau yang melayani pembeli bahan bakar. Ada yang cuma duduk di kursi plastik sambil melihat kendaraan lewat atau melamun saja. Ada yang berdiri, siaga menyambut pembeli yang tidak datang-datang. Hmm, apakah mereka tidak boleh menunggu pembeli sambil membaca buku?
Melihat SPBU yang sepi selalu membuatku gembira, apalagi SPBU itu milik korporasi asing. Tapi melihat penjaga atau pelayan yang bengong menunggu pembeli, membuatku turut nelangsa. Pasti mereka tersiksa dengan kesepian itu. Melihat mereka seperti halnya melihat tali jemuran zonder pakaian : siaga tapi sia-sia. Rasa nelangsa seperti itu juga terjadi ketika melewati jalan di sekitar pasar Ambarawa dari perjalanan Jogja-Semarang. Ada sebuah supermarket yang selalu ramai, tapi ada banyak toko tas atau sepatu, atau pakaian atau kelontong di kiri-kanannya dengan penjaga yang menunggu pembeli dengan kedua tangan menopang dagu. Plastik pembungkus tas atau sepatu nampak berdebu, sedang warna kotak pembungkusnya mulai memudar. Kotak pembungkus yang awalnya berwarna putih sudah berganti kuning kecoklatan, warnanya seperti ingin lari secara sembunyi-sembunyi dari etalase itu.
Melihat orang-orang pinggiran, penjaga toko yang kebanyakan perempuan, dengan kesepian sebagai cakrawala semestanya itu, mengingatkanku pada seorang sahabat yang membela mereka secara diam-diam. Dia lebih memilih membeli bahan-bahan kebutuhannya di toko kecil atau kaki lima daripada di supermarket atau mal. Membeli bensin untuk motornya juga begitu, memilih di eceran daripada di SPBU. Kalau diajak ke supermarket, dia ikut tapi menunggu di luar. Dia tidak suka yang nomor satu atau yang difavoritkan, dalam makanan atau dalam pertandingan. Pernah kuajak dia makan sate yang menurutku paling enak di jalan Kaliurang, Jogja tapi dia hanya bilang “ Mbok sekali-kali kita makan bukan di warung yang paling enak, tapi yang runner-up aja misalnya,” katanya serius. Aku tidak bisa menahan senyum, dan kuikuti anjurannya dengan kesulitan membayang di depan mata : mencari warung sate yang enaknya nomor dua di jalan Kaliurang. Bagiku hal tersebut hanya cerminan bahwa dia selalu memosisikan berseberangan dengan yang berkuasa, setia sebagai oposisi.
Sahabat itu membela dan mencintai mereka yang kecil, tersisih, dan kesepian secara diam-diam dan personal . Sahabat ini memang bukan manusia satu dimensi. Kata-kata yang keluar dari mulutnya seringkali penuh kebencian, tapi tindakan yang dilakukan melimpah dengan kasih sayang. Dia sinis terhadap pengamen yang nyanyiannya buruk dan meminta uang dengan sedikit intimidasi, tapi dengan sukarela memberi uang lebih pada penarik becak tua yang mengantarkannya dari jalan raya menuju kontrakannya. Dan semua dilakukan dengan diam-diam.

Tinggalkan komentar