coretan kebun belakang

tentang kawan, buku, perjalanan


Di kereta ekonomi Bogor-Jakarta, senja itu

“Tolong! Tolong saya! Hape saya dicopet!” teriakan seorang remaja perempuan menyeruak dari kegelapan kereta ekonomi (KRL) jurusan Bogor-Jakarta, senja itu. Teriakan itu nampak sia-sia, seperti lengket di keringat orang-orang yang kelelahan karena baru pulang kerja.  Apalagi pencopet telpon genggamnya telah meloncat kabur dari kereta yang tengah melaju, membelah hujan yang mengguyur.  Perempuan itu mencoba ikut loncat tapi dicegah beberapa orang karena kereta sudah melaju, yang justru akan membahayakan perempuan itu. Ada dua-tiga orang di sekitar perempuan itu yang bertanya dan mencoba menghibur. Perempuan malang itu menceritakan proses pencopetan itu sambil sesekali mengusap matanya dengan kerudung warna gelap.

Peristiwa di senja hari tanggal 30 November lalu tidak hanya menyisakan kepedihan bagi perempuan remaja berjilbab warna gelap itu. Aku juga sedih, dan terus memikirkannya sepanjang perjalanan pulang ke rumah, bahkan sampai beberapa hari kemudian. Aku berada beberapa meter dari peristiwa pencopetan itu, tapi tidak  berbuat apa-apa. Tanganku pun tidak bergerak, hanya menggelantung di atas kepala, memegangi besi tempat barang atau tas ditaruh. Aku mencoba menghibur diri dengan beberapa pembenaran atas sikapku, seperti “gak mungkin ikut mengejar pencopet dengan meloncat keluar kereta yang tengah melaju”. Atau “itu bukan menolong, tapi konyol”. Yang lebih jahat dari itu, terlintas juga dalam pikiran untuk menyalahkan korban yang sembrono memainkan telepon genggam di kereta ekonomi yang penuh sesak dan tidak ada lampunya lagi. Apalagi dari ceritanya, dia sudah dua kali ini kecopetan dalam kereta ekonomi. Hmmm, bukankah ini sebuah kebodohan? Tapi buru-buru kukutuk pikiran buruk itu. Aku dan mungkin sebagian besar orang yang ada di kereta itu adalah orang yang tidak peduli terhadap penderitaan orang lain, titik.

Aku dan orang-orang yang tidak peduli di kereta itu mungkin nampak seperti 38  orang warga Kew Garden, Queens, New York, yang diam saja saat melihat Kitty Genovese, tetangga mereka, dibunuh pada 13 Maret 1964 lalu di dekat rumahnya. Tiga puluh delapan orang tersebut hanya melihat lewat jendela rumahnya masing-masing ketika Kitty ditusuk sampai mati. Kasus Kitty Genovese pernah menggemparkan Amerika karena memperlihatkan betapa sudah tidak pedulinya masyarakat modern terhadap penderitaan orang lain, bahkan terhadap tetangganya sendiri.  Beberapa peneliti psikologi sosial akhirnya menyebut fenomena yang terjadi pada tiga puluh delapan warga Kew Garden ini sebagai bystander effect, atau fenomena sebagai penonton saja dan tidak melakukan bantuan pada situasi gawat karena merasa ada banyak orang di sekitar situ.  Jadi setiap orang berpikiran bahwa pasti ada orang lain yang akan bereaksi atau menolong, dalam bahasa jawa situasi itu disebut njagagke wong liya.

Mungkin benar ada fenomena bystander effect pada peristiwa senja itu, tapi sudahlah, ada hal lain yang perlu diperhatikan, yakni soal keamanan dalam transportasi publik kita.  Sudah seharusnya kita bisa menggunakan alat telekomunikasi kita, misalnya telepon genggam, di kereta atau bus manapun tanpa takut direbut atau dicopet. Transpotasi publik kita belum sepenuhnya memikirkan soal keamanan dan kenyamanan itu. Jangan dulu ngomong soal kenyamanan, keamanan saja sudah begitu mengharukan. Trus, kapankah transportasi publik yang nyaman, aman, dan terjangkau masyarakat luas bisa didapatkan di Jakarta? Hmm, pertanyaan itu layaknya sebuah impian atau harapan yang terlalu tinggi. Tapi benar, aku memang punya harapan tinggi agar Gubernur Jakarta seperti Enrique Penalosa yang menjadikan kota Bogota, Kolombia, mempunyai transportasi publik yang nyaman, aman, dan terjangkau.

Penalosa telah melakukan sejumlah perbaikan yang radikal berkait dengan kota dan warganya di Bogota. Tidak hanya sukses dengan bus-based transit system, yang kemudian ditiru Jakarta dengan busway itu, tapi untuk segala hal yang menjadikan kota menjadi nyaman, aman, manusiawi, ekologis, dan berkelanjutan.  Misalnya dia mempromosikan model kota yang diprioritaskan bagi anak-anak dan ruang publik, membatasi penggunaan mobil, membangun ratusan kilometer trotoar, jalur sepeda, pedestrian, jalur hijau, dan tempat parkir.[1] Berkait dengan bus-based transit system, Penalosa telah membuat angkutan massal bus TransMileneo yang akhirnya menjadikan Bogota memiliki sistem bus terbaik di dunia. Kebijakan membuat angkutan bus massal tersebut dilakukan pararel dengan membatasi mobil. Setiap mobil hanya boleh dipakai tiga kali dalam seminggu, belum lagi kalau ada hari bebas kendaraan. Di beberapa ruas jalan Bogota, Penalosa juga mengubah 50 persen jalan raya menjadi jalur sepeda dan jalan kaki. Dampak dari kebijakan yang dilakukan, 60 persen penduduk Bogota menggunakan bus, 35 persen menggunakan sepeda, dan 15 persen tetap menggunakn kendaraan pribadi. Ini yang berbeda dari penguasa kita yang mengatasi macet dengan membangun dan menambah jalan tol yang sudah terbukti gagal. Tapi Penalosa juga sadar bahwa ini adalah persoalan politik, bukan teknis semata, jadi pasti tidak mudah mengubahnya. Ada beberapa pihak yang diuntungkan dari kondisi Jakarta yang buruk ini yang akan melakukan perlawanan jika ide-ide seperti yang dipunyai Penalosa diberlakukan.  Salah satunya, produsen mobil seperti Jepang..


[1] http://www.pps.org/info/placemakingtools/placemakers/epenalosa



2 tanggapan untuk “Di kereta ekonomi Bogor-Jakarta, senja itu”

  1. jakarta mungkin sudah jadi kota yg gagal. perubahan paradigma transportasi lebih baik dicurahkan ke kota-kota kelas dua, supaya jangan membebek kesalahan jakarta

  2. Itu usulan yang bagus, dan idealnya memang seperti itu. Ini mungkin sebuah shortcut yang tidak mudah, jika Jakarta berhasil dalam mengelola tranportasi yang lestari, maka akan mudah menularkannya ke kota-kota lain.

Tinggalkan komentar